Sumatera Dilanda Bencana, 442 Orang Meninggal dan Ratusan Masih Hilang
Tiga provinsi terdampak secara signifikan, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Sejak akhir November 2025, Pulau Sumatera mengalami bencana alam berupa banjir bandang dan tanah longsor yang meluas, menyebabkan krisis kemanusiaan dan kerusakan infrastruktur serius. Tiga provinsi terdampak secara signifikan, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Peristiwa ini dipicu hujan lebat yang berlangsung sejak 21–23 November 2025, yang menyebabkan sungai meluap dan tanah longsor di berbagai daerah. Hingga 30 November 2025, tercatat 442 orang meninggal dunia dan 402 orang masih dinyatakan hilang, menurut laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Penyebab Banjir
Direktur Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (Dirjen PDASRH), Dyah Murtiningsih, menyatakan hujan ekstrem akibat fenomena siklon tropis menjadi pemicu utama banjir di Sumatera.
Namun, Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Sumatera Utara menekankan bencana ini tidak semata-mata karena cuaca ekstrem. Menurut Manajer Advokasi dan Kampanye WALHI Sumut, Jaka Kelana Damanik, kerusakan lingkungan dan kebijakan pembangunan yang tidak berkelanjutan turut memperparah dampak banjir.
"Saat banjir terjadi, berbagai material terutama kayu yang sebelumnya sengaja ditebang terbawa arus," jelasnya.
Sementara itu, BMKG menyoroti beberapa faktor meteorologi lain yang memperburuk kondisi:
Siklon Tropis Senyar: Berevolusi dari Bibit Siklon 95B di Selat Malaka, memicu pertumbuhan awan konvektif dan hujan lebat di Aceh dan Sumatera Utara.
Siklon Tropis Koto: Berada di Laut Sulu, memengaruhi pola angin dan pergerakan massa udara basah, memperkuat hujan ekstrem di Sumatera Utara.
Indeks Ocean Dipole Negatif: Memicu pertemuan arus angin dan massa udara di Sumatera Barat, meningkatkan curah hujan di wilayah tersebut.
Gabungan fenomena cuaca lokal dan global ini menciptakan atmosfer sangat tidak stabil, sehingga curah hujan jauh melebihi normal dan memicu bencana hidrometeorologi berskala besar.
Dampak di Sumatera Utara
Empat kabupaten di Sumatera Utara—Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan—terkena banjir pada 24–25 November.
Dampak banjir kemudian meluas ke beberapa wilayah lain, termasuk Humbang Hasundutan, Deli Serdang, Pakpak Bharat, Mandailing Natal, Nias, Kota Gunung Sitoli, Langkat, Medan, Padangsidempuan, dan Serdang Bedagai.
Hingga 30 November 2025, BNPB mencatat korban meninggal di Sumut mencapai 217 orang, dengan 209 orang masih hilang. Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menyatakan, "Korban jiwa untuk Sumut 217 jiwa yang meninggal dunia, kemudian 209 yang masih hilang".
Jumlah pengungsi di Sumut meliputi.
Tapanuli Utara: 3.600 jiwa
Tapanuli Tengah: 1.659 jiwa
Tapanuli Selatan: 4.661 jiwa
Kota Sibolga: 4.456 jiwa
Humbang Hasundutan: 2.200 jiwa
Mandailing Natal: 1.378 jiwa
Dampak di Sumatera Barat
Banjir juga melanda beberapa kabupaten di Sumatera Barat, antara lain Agam, Padang Panjang, Padang Pariaman, Tanah Datar, Pasaman Barat, Pasaman, Solok, Kota Solok, dan Pesisir Selatan.
Pengungsi terbanyak berada di Kota Padang dan Kabupaten Pesisir Selatan, mencapai 11.820 KK atau sekitar 77.918 jiwa. Korban jiwa di Sumbar tercatat 129 orang meninggal, 118 hilang, dan 16 mengalami luka-luka. Suharyanto menegaskan, “Korban jiwa meninggal dunia mencapai 129, yang hilang 118, dan 16 yang luka-luka.”
Dampak di Aceh
Di Aceh, banjir meluas ke 16 kabupaten/kota, termasuk Pidie, Aceh Besar, Pidie Jaya, Aceh Tamiang, Aceh Tenggara, Aceh Barat, Subulussalam, Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Timur, Langsa, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Singkil, Aceh Utara, dan Aceh Selatan.
Jumlah pengungsi di Aceh mencapai 62.000 KK, dengan korban meninggal 96 orang dan 75 masih hilang di 11 kabupaten/kota, menurut Suharyanto.
Tindakan Pemerintah
Presiden Prabowo Subianto mengunjungi Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, pada 1 Desember 2025, untuk meninjau kondisi banjir dan longsor. Ia menegaskan pemerintah akan melakukan segala upaya untuk membantu warga terdampak di Sumut, Sumbar, dan Aceh.
"Banyak jalan yang masih terputus, tapi kita segera melakukan segala upaya untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang dialami," kata Prabowo dikutip dari tayangan langsung Kompas TV.
Prabowo menambahkan, kapal besar telah mendarat di Sibolga dan pesawat Hercules TNI akan dikerahkan untuk membantu distribusi logistik.
"Sekarang masalah BBM, tapi kapal besar sudah mendarat di Sibolga, kemudian Hercules terus kita kerahkan. Mungkin tiap hari berapa titik bisa didaratkan, ya," jelasnya.
Presiden menekankan pentingnya kerja sama dan solidaritas dalam menghadapi bencana.
"Kita hadapi ini, kita hadapi musibah dengan tabah dan solidaritas, kompak kita atasi. Negara kita kuat sekarang, mampu kita atasi," ujar Prabowo, sekaligus menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah bekerja keras, termasuk TNI, Polri, BNPB, Kementerian PUPR, dan pemerintah daerah.
Reporter magang : Muhammad Naufal Syafrie