Fenomena Anak Muda Korea Beli Gantungan Kunci Lucu & Mahal, Diklaim untuk Mengobati Stres
Tren ini, yang dijuluki konsumsi kelucuan, telah menjamur di kalangan generasi MZ warga Korea berusia 20-an dan 30-an dan banyak bisnis yang ikut serta.
Anak muda Korea Selatan (Korsel) kini semakin gemar membelanjakan uang mereka untuk berbagai produk lucu, mulai dari gantungan kunci mewah hingga pulpen bertema kartun sebagai pelarian manis untuk menyegarkan suasana hati dan menemukan kenyamanan di tengah ketidakpastian hidup yang terus meningkat
"Saya merasa lebih baik setiap kali melihat sesuatu yang lucu," kata Oh Bo-mi, 26 tahun, seorang pekerja kantoran yang baru-baru ini membeli pulpen dengan boneka beruang putih, dikutip dari Korea Times, Kamis (24/4).
Dia sering membawa gantungan kunci dan barang-barang rumah tangga yang lucu dengan karakter kartun. "Hal-hal tersebut mencerahkan hari saya, jadi saya terus membelinya," tambahnya.
Tren ini, yang dijuluki konsumsi kelucuan, telah menjamur di kalangan generasi MZ warga Korea berusia 20-an dan 30-an dan banyak bisnis yang ikut serta. Penjualan daring untuk barang-barang yang menampilkan karakter-karakter menawan sedang melonjak, dan popularitas potret-potret yang dihasilkan AI bergaya Studio Ghibli di media sosial akhir-akhir ini mencerminkan fenomena yang sama.
Kepopuleran ini dimulai sekitar tahun 2020, ketika camilan bertema Pokémon, gantungan sepatu Crocs yang dikenal sebagai Jibbitz, dan gantungan kunci mewah menjadi sangat populer. Pada tahun yang sama, seekor panda raksasa bernama Fu Bao, yang lahir di Panda World Everland, memicu obsesi nasional. Berbagai barang dagangan Fu Bao mainan, buku, barang-barang rumah tangga terjual habis berulang kali, dan video panda tersebut menarik banyak penonton daring.
Alat tulis dengan desain yang menggemaskan juga banyak diminati. Mahasiswa Heo Yu-jin, 22 tahun, mengatakan ia menempelkan stiker bertema Hello Kitty dan Sanrio di laptop dan barang-barang lainnya.
"Sangat memuaskan menggunakan barang-barang yang lucu," katanya.
Menjalar ke Pekerja Kantoran
Kim Chae-yeon, seorang pekerja kantoran berusia 29 tahun, menyuarakan pendapat yang sama. "Jika saya memang akan membeli sesuatu, saya akan memilih yang lucu. Itu membuat saya merasa tenang," timpal Kim.
Menurut peritel gaya hidup daring 29CM, penjualan dalam kategori alat tulis dari Januari hingga Maret tahun ini meningkat tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama pada tahun 2023. Seorang perwakilan perusahaan mengatakan pembeli terbesar adalah wanita berusia 25 hingga 39 tahun, yang tidak lagi membeli alat tulis hanya untuk bekerja, tetapi memilih barang yang mencerminkan selera pribadi.
Selama lima hari, lebih dari 25.000 orang mengunjungi pameran alat tulis yang diselenggarakan bersama oleh 29CM dan Point of View, butik alat tulis di Seongsu-dong, Seoul.
Kendati begitu, kemerosotan ekonomi juga dapat memicu tren kelucuan. Dengan berkolaborasi dengan merek karakter populer seperti Pokémon dan Sanrio, perusahaan dapat menghemat biaya pengembangan produk sambil tetap menarik minat pembeli.
Kata Peneliti
Seorang peneliti di Pusat Analisis Tren Konsumen Universitas Nasional Seoul, Choi Ji-hye, mengatakan di masa ekonomi yang sulit, konsumen cenderung memilih barang yang murah tetapi memuaskan secara emosional. Gelombang barang dagangan berbasis karakter yang sedang berlangsung terkait erat dengan pergeseran ini.
Meningkatnya konflik sosial merupakan faktor lainnya. Choi menjelaskan selama pandemi, banyak warga Korea mencari kenyamanan dalam hal-hal yang tidak berbahaya dan menggemaskan untuk meredakan perasaan terisolasi.
"Seiring meningkatnya ketegangan antargenerasi dan gender, semakin banyak orang beralih ke 'konsumsi kelucuan' untuk pelepas emosi," katanya.
Profesor Universitas Inha Lee Eun-hee setuju, dengan mencatat generasi muda saat ini, yang telah menikmati lingkungan budaya yang lebih kaya daripada generasi sebelumnya, lebih dekat dengan anak kecil dalam diri mereka. Mereka sering kali menemukan pelipur lara dalam mainan, boneka, atau alat tulis yang penuh kenangan.