Sebuah fenomena kini sedang menjadi tren di China. Orang dewasa di sana tiba-tiba berubah menjadi 'bayi tua' membeli dot seperti bayi untuk dipakai sendiri. Benda itu diklaim diklaim mampu meredakan kecemasan serta membantu proses tidur.
Karena begitu viralnya dot 'bayi tua' itu, beberapa toko online mengklaim penjualan dot dewasa ini mencapai lebih dari 2.000 unit setiap bulannya.
Asal tahu saja, dot ini punya ukuran yang beda dari dot bayi umumnya. Begitu juga dengan harganya. Harganya berkisar antara 10 hingga 500 yuan, setara dengan Rp22 ribu hingga Rp1,4 juta, seperti yang dilaporkan oleh SCMP pada Senin (4/8).
Advertisement
Beberapa orang mengungkapkan bahwa penggunaan dot saat ini juga membantu mereka untuk berhenti merokok serta memperbaiki pola pernapasan mereka.
"Ini sangat membantu saya berhenti merokok. Memberikan kenyamanan secara psikologis dan membuat saya tidak gelisah selama masa berhenti merokok," kata salah satu pengguna.
Dot ini memiliki bagian yang transparan, sementara pelindungnya hadir dalam berbagai pilihan warna. Kualitasnya patut diacungi jempol, sebanding dengan harga yang ditawarkan.
"Kualitas dot ini bagus, lembut, dan nyaman dipakai. Nggak bikin sesak napas juga," tambah seorang pembeli lainnya.
Meskipun pada dasarnya hanya sebuah dot, banyak pengguna merasakan manfaat psikologis yang signifikan.
"Kalau saya lagi stres kerja, saya hisap dot itu. Rasanya kayak kembali ke masa kecil yang aman dan nyaman," tulis salah satu pembeli.
Advertisement
Namun, para dokter memperingatkan tentang kemungkinan risiko yang dapat mengancam kesehatan.
"Kerusakan yang mungkin timbul pada mulut konsumen akibat dot ini kerap diabaikan oleh para penjualnya," ungkap dokter gigi Tang Caomin dari Chengdu, Provinsi Sichuan, sebagaimana dikutip oleh media setempat.
Menurutnya, penggunaan dot dalam jangka panjang dapat menyebabkan kesulitan dalam membuka mulut dan nyeri saat mengunyah.
"Kalau dipakai lebih dari tiga jam sehari, posisi gigi bisa berubah dalam waktu setahun," jelas Tang.
Ia juga menekankan bahaya tersedak yang mungkin terjadi jika pengguna tertidur dengan dot tersebut.
Advertisement
Psikolog dari Chengdu, Zhang Mo, mengungkapkan bahwa orang dewasa yang menggunakan dot mungkin memiliki kebutuhan emosional yang belum terpenuhi.
"Solusi yang sebenarnya bukanlah memperlakukan diri layaknya anak-anak, tapi menghadapi tantangan secara langsung dan menyelesaikannya," jelasnya kepada media.
Fenomena ini pun menjadi perbincangan hangat di media sosial Tiongkok. Di salah satu platform, diskusi mengenai topik ini sudah mencapai 60 juta tayangan.
"Dunia ini udah gila, sampai orang dewasa pun pakai dot," komentar seorang warganet. "Bukankah ini pajak untuk orang-orang bodoh ya?" sindir pengguna lainnya dengan nada satir.