Dulu Sentra Nasional, Inseminasi Buatan Kerbau Lebak Digenjot untuk Capai Swasembada Daging
Pemerintah Kabupaten Lebak mengoptimalkan Inseminasi Buatan Kerbau Lebak untuk mendongkrak populasi dan memenuhi kebutuhan pasar, setelah sempat anjlok drastis. Akankah berhasil?
Pemerintah Kabupaten Lebak, Banten, secara aktif mengoptimalkan penerapan rekayasa teknologi inseminasi buatan (IB) untuk meningkatkan populasi ternak kerbau. Langkah strategis ini diambil sebagai upaya serius dalam mendongkrak produksi dan mencapai swasembada daging kerbau di daerah tersebut.
Kepala Bidang Produksi Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Kabupaten Lebak, Irvan Pramerta, menyatakan bahwa teknologi IB diharapkan mampu menambah jumlah ternak kerbau. Program ini juga bertujuan untuk mendukung peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat peternak di Lebak.
Inisiatif ini muncul menyusul penurunan signifikan populasi kerbau selama dua dekade terakhir, dari 35 ribu ekor pada tahun 2005 menjadi 5.700 ekor saat ini. Disnakeswan Lebak kini menerjunkan petugas ke berbagai kecamatan untuk memberikan pelayanan IB secara gratis kepada peternak.
Strategi Pemkab Lebak Dongkrak Populasi Kerbau
Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lebak tengah gencar mengoptimalkan pelayanan teknologi inseminasi buatan (IB) sebagai solusi konkret. Tujuannya adalah untuk mengatasi penurunan populasi kerbau yang drastis dan mewujudkan program swasembada daging kerbau. Upaya ini juga diharapkan dapat secara signifikan meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat setempat.
Irvan Pramerta menjelaskan bahwa saat ini, populasi kerbau milik masyarakat di Kabupaten Lebak tercatat hanya sekitar 5.700 ekor. Angka ini sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan kondisi pada tahun 2005, ketika Lebak merupakan sentra produksi terbesar kelima secara nasional dengan 35 ribu ekor kerbau. Penurunan ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
Penurunan populasi kerbau selama dua puluh tahun terakhir disebabkan oleh berbagai faktor kompleks. Beberapa di antaranya adalah tingginya angka pemotongan hewan, penjualan ternak, hingga kasus pencurian yang merugikan peternak. Oleh karena itu, rekayasa teknologi IB menjadi kunci untuk mengembalikan kejayaan populasi kerbau di Lebak.
Inseminasi Buatan Gratis, Solusi Cepat Bunting dan Peningkatan Ekonomi
Untuk mendukung keberhasilan program, Disnakeswan Lebak menyediakan layanan inseminasi buatan (IB) secara gratis bagi masyarakat. Petugas akan diterjunkan langsung ke lokasi ternak milik masyarakat di sejumlah kecamatan. Layanan ini memastikan kerbau dewasa yang mengalami birahi dapat cepat bunting dan berkembang biak.
Sukardi (55), seorang peternak kerbau dari Desa Sindang Mulya, Kecamatan Maja, Kabupaten Lebak, mengaku sangat terbantu dengan adanya pelayanan IB ini. Ia merasa program ini efektif dalam meningkatkan populasi kerbau miliknya. Saat ini, Sukardi memiliki 25 ekor kerbau dan mampu menjual hingga empat ekor per tahun.
Dengan harga pasaran rata-rata Rp25 juta per ekor, Sukardi dapat menghasilkan pendapatan sekitar Rp100 juta per tahun dari penjualan kerbau. Hal serupa dialami Katma (60), peternak dari Leuwidamar, yang memiliki 30 ekor kerbau. Katma juga berhasil menjual empat ekor kerbau per tahun, dengan pendapatan mencapai Rp100 juta.
Katma menjelaskan bahwa usaha ternak kerbau ini merupakan warisan dari orang tuanya dan telah memberikan dampak positif yang signifikan bagi keluarganya. "Kami mengembangkan usaha ternak kerbau ini dari orang tua dan bisa menyejahterakan keluarga juga membangun rumah serta dua anak semua kuliah dan kini menjadi guru pegawai Aparatur Sipil Negara (ASN)," ujarnya. Keberhasilan ini menunjukkan potensi besar inseminasi buatan dalam meningkatkan ekonomi peternak.
Sumber: AntaraNews