Cegah Tumpahan Minyak, BKI Paparkan Inovasi Keselamatan di Industri Migas
Hafizh Muhammad Naufal Shidqi menjelaskan bahwa riset ini sangat mendesak karena berfokus pada mitigasi risiko kegagalan sistem.
PT Biro Klasifikasi Indonesia (Persero) atau BKI berpartisipasi dalam ajang bergengsi Offshore Technology Conference (OTC) Asia 2026 di Kuala Lumpur Convention Center, Malaysia. Dalam forum yang dihadiri lebih dari 25.000 profesional dari 89 negara ini, BKI membawa misi penting yaitu memperkuat standar keselamatan migas global.
Delegasi BKI mempresentasikan hasil riset mendalam mengenai pengembangan aturan sistem Single Point Mooring (SPM) pada fasilitas migas yang telah beroperasi. Riset bertajuk 'Evaluating The Dynamic Behaviors of Offloading Arrangement Variations on Existing Single Point Mooring Structure to Improve the Safety Assurance of Classification Society' ini dipaparkan langsung oleh Hafizh Muhammad Naufal Shidqi, Offshore Engineer PT BKI.
Offshore Engineer PT BKI, Hafizh Muhammad Naufal Shidqi mengatakan, industri minyak dan gas bumi (migas) merupakan sektor dengan risiko tinggi (high risk), di mana aspek keselamatan dan keamanan menjadi prioritas utama. Untuk dibutuhkan sistem yang memiliki peranan krusial.
"Sistem SPM memegang peranan krusial sebagai titik penghubung dalam proses pemuatan (loading) dan pembongkaran (offloading) minyak dari fasilitas lepas pantai ke kapal tanker," katanya.
Hafizh Muhammad Naufal Shidqi menjelaskan bahwa riset ini sangat mendesak karena berfokus pada mitigasi risiko kegagalan sistem yang dapat berdampak fatal bagi lingkungan dan operasional.
"Fokus utama kami adalah meningkatkan kepastian keselamatan aset. Kegagalan pada sistem SPM tidak hanya mengganggu operasional, tetapi juga berisiko menyebabkan tumpahan minyak yang dapat merusak ekosistem laut secara masif. Melalui riset ini, kami memberikan masukan teknis untuk memperkuat aturan klasifikasi pada fasilitas yang sudah eksis agar tetap aman digunakan," ujar Hafizh.
Gandeng SKK Migas dan Kampus
Riset inovatif ini tidak disusun sendirian. BKI menggandeng SKK Migas dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk memastikan kajian ini komprehensif dari sisi praktis maupun akademis.
Delegasi BKI dipimpin oleh Senior Manager Pemasaran Offshore Klas Cabang Utama Klas Tanjung Priok, Eko Maja Priyanto, dengan dukungan dari Koordinator Perkapalan dan Kemaritiman SKK Migas, Willy Yuniar, serta Guru Besar ITS, Prof. Ir. Eko Budi Djatmiko.
Dalam dunia migas, integritas struktur fasilitas yang telah beroperasi bertahun-tahun menjadi tantangan tersendiri. Seiring bertambahnya usia fasilitas, risiko kelelahan struktur (fatigue) dan korosi meningkat. Keamanan migas tidak hanya mencakup keselamatan pekerja, tetapi juga ketahanan infrastruktur terhadap kondisi laut yang ekstrem.
Aset Lepas Pantai
BKI, sebagai satu-satunya badan klasifikasi nasional, memiliki tanggung jawab memastikan seluruh aset lepas pantai di Indonesia memenuhi standar internasional. Kehadiran BKI di OTC Asia 2026 menjadi bukti komitmen Indonesia dalam mendorong keberlanjutan sektor energi melalui teknologi dan riset berbasis data.
Selain memaparkan riset, BKI memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat hubungan dengan raksasa energi dunia. Diskusi strategis dilakukan dengan perusahaan internasional seperti Petronas, Eni S.p.A., hingga Yinson Holdings Berhad.
Langkah ini diharapkan mampu menempatkan BKI sebagai pemain kunci dalam penetapan standar keselamatan offshore di tingkat Asia maupun global, sekaligus memastikan operasional migas di tanah air berjalan jauh lebih aman dan ramah lingkungan.