Brudifa Jajaki Kerja Sama Alpukat di Situbondo, Potensi Agribisnis Terbuka Lebar
Persatuan Persahabatan Brunei Darussalam-Indonesia (Brudifa) menjajaki potensi kerja sama perkebunan alpukat di Situbondo. Kunjungan ini membuka peluang besar untuk pengembangan agribisnis dan pertukaran pengetahuan, memperkuat Kerja Sama Brudifa Situbond
Rombongan Persatuan Persahabatan Brunei Darussalam-Indonesia (Brudifa) baru-baru ini melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, untuk menjajaki potensi kerja sama di sektor perkebunan alpukat. Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya antara Bupati Situbondo dengan pihak Brunei Darussalam, menandai langkah konkret dalam mempererat hubungan bilateral.
Sekretaris Jenderal Brudifa, Haji Muhammad Hafiy Bin Abdullah Fung, menyatakan bahwa kedatangan mereka ke Situbondo bertujuan untuk mempelajari lebih dalam budidaya alpukat dan mencari mitra bisnis yang potensial. Fokus utama kunjungan adalah perkebunan alpukat Sampean Green Farm (SGF) di Desa Kotakan, Kecamatan Situbondo, yang dikenal dengan keberhasilan budidayanya.
Delegasi Brudifa tidak hanya berinteraksi dengan pemilik perkebunan, tetapi juga membawa serta ahli pertanian dari Brunei Darussalam. Hal ini menunjukkan keseriusan Brudifa dalam mengadopsi praktik terbaik budidaya alpukat yang dapat diterapkan di Brunei Darussalam, serta memperluas jaringan kerja sama agribisnis antara kedua belah pihak.
Potensi Alpukat Situbondo Menarik Perhatian Internasional
Kunjungan Brudifa ke Situbondo menjadi sorotan karena menunjukkan daya tarik sektor pertanian Indonesia di mata internasional, khususnya dalam komoditas alpukat. Perkebunan Sampean Green Farm (SGF) menjadi contoh sukses budidaya alpukat dengan berbagai jenis unggulan seperti aligator, miki, markus, dan kolumbus.
Menurut Hermanto, pemilik SGF, perkebunan seluas 1,4 hektare tersebut mampu menghasilkan buah alpukat yang melimpah, dengan tinggi pohon yang terjaga sekitar dua meter namun berbuah sangat lebat. Setiap pohon alpukat di SGF dapat menghasilkan hingga 70 kilogram buah setelah 2,5 tahun masa tanam, sebuah capaian yang mengesankan bagi ahli pertanian Brudifa.
Selain mempelajari budidaya alpukat, rombongan Brudifa juga diperkenalkan pada penanaman bibit melon jenis kirani. Ini mengindikasikan adanya potensi diversifikasi kerja sama pertanian yang lebih luas di masa mendatang, tidak terbatas pada satu komoditas saja.
Pengembangan Agribisnis dan Pertukaran Pengetahuan
Penjajakan kerja sama ini diharapkan dapat membuka jalan bagi pengembangan agribisnis yang lebih maju di Situbondo, sekaligus memfasilitasi pertukaran pengetahuan dan teknologi pertanian antara Indonesia dan Brunei Darussalam. Kehadiran ahli pertanian dari Brunei menunjukkan komitmen mereka untuk belajar langsung dari pengalaman sukses SGF.
Kunjungan ini juga didampingi oleh Pelaksana Harian (Plh) Sekretaris Daerah Kabupaten Situbondo, Prio Andoko, yang mewakili Bupati Situbondo, serta sejumlah pejabat setempat. Pendampingan ini menegaskan dukungan pemerintah daerah terhadap inisiatif kerja sama internasional yang dapat membawa manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat Situbondo.
Momen memetik buah alpukat secara langsung di perkebunan menjadi pengalaman berharga bagi rombongan Brudifa. Hal ini tidak hanya memperkuat pemahaman mereka tentang proses budidaya, tetapi juga membangun ikatan personal yang lebih erat, pondasi penting untuk kerja sama jangka panjang.
Sumber: AntaraNews