Kementerian Transmigrasi (Kementrans) berencana mengembangkan agrowisata alpukat di lokasi transmigrasi Tanjung Banun, Batam, Kepulauan Riau. Inisiatif ini bertujuan utama untuk meningkatkan perekonomian masyarakat setempat melalui pemanfaatan lahan secara produktif. Program ambisius ini dijadwalkan akan dimulai pada tahun 2026 mendatang.
Menteri Transmigrasi Iftitah Sulaiman Suryanegara menegaskan komitmennya terhadap proyek ini. Beliau menyatakan bahwa pengembangan agrowisata alpukat di kawasan tersebut merupakan langkah strategis. Diskusi intensif telah dilakukan dengan para ketua RT dan RW di Tanjung Banun untuk memastikan dukungan penuh dari komunitas.
Inspirasi utama program ini datang dari kesuksesan desa percontohan di Kediri yang berhasil mengembangkan budidaya alpukat hingga menghilangkan kemiskinan. Mentrans Iftitah Sulaiman Suryanegara secara khusus mendatangkan Kepala Desa Jambu, Kabupaten Kediri, Agus Joko Susilo. Kehadiran Agus Joko Susilo adalah untuk mengecek langsung kelayakan lahan di Tanjung Banun.
Advertisement
Advertisement
Potensi Lahan dan Model Sukses dari Kediri
Agus Joko Susilo, yang dikenal sukses mengembangkan desanya melalui budidaya alpukat berbagai jenis, termasuk alpukat aligator, telah melakukan peninjauan. Alpukat aligator sendiri dikenal memiliki ukuran yang jauh lebih besar dari varietas umumnya. Kehadiran beliau diharapkan dapat memberikan panduan teknis yang krusial bagi pengembangan agrowisata ini.
Mentrans Iftitah Sulaiman Suryanegara mengungkapkan bahwa pertemuan dengan Agus Joko Susilo terjadi di ITS, sebelum akhirnya diajak ke Batam. "Pak Agus Joko Susilo ini mengembangkan agrowisata alpukat. Saya bertemu di ITS, dan hari ini saya bawa untuk melihat apakah Tanjung Banun cocok dikembangkan alpukat,” jelas Iftitah.
Berdasarkan hasil pengecekan langsung oleh Agus Joko Susilo, lokasi transmigrasi Tanjung Banun dinyatakan sangat cocok untuk penanaman alpukat. "Di sini sangat cocok sekali, nanti kami akan berikan pendampingan. Saya sudah sampaikan ke ketua RT, ketua RW,” terang Iftitah.
Advertisement
Inti dari program transmigrasi modern adalah bagaimana menjadikan lahan dan sumber daya manusia lebih produktif. Lahan yang sebelumnya tidak tergarap akan dikelola optimal, sementara masyarakat diharapkan menjadi lebih berdaya. Budidaya alpukat dinilai sebagai contoh yang sangat baik untuk mencapai tujuan ini.
Advertisement
Kolaborasi Komunitas dan Harapan Peningkatan Ekonomi Lokal
Program agrowisata ini tidak hanya berfokus pada penanaman, tetapi juga pada pendampingan berkelanjutan bagi masyarakat. Dengan adanya pendampingan, diharapkan petani lokal dapat mengadopsi praktik terbaik dalam budidaya alpukat. Hal ini akan memastikan keberhasilan jangka panjang proyek ini.
Ada sekitar 72 varian atau jenis alpukat yang potensial untuk ditanam di Tanjung Banun, yang diharapkan dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Keberagaman varietas ini akan menambah nilai jual agrowisata dan menarik lebih banyak wisatawan. Ini juga membuka peluang diversifikasi produk olahan alpukat.
Agus Joko Susilo menyatakan kesiapannya untuk berkolaborasi erat dengan masyarakat Rempang, khususnya warga Tanjung Banun, dalam upaya penanaman alpukat berukuran besar. "Kami punya kesempatan banyak atas arahan Pak Menteri untuk warga masyarakat yang ada di Tanjung Banun," ujarnya.
Advertisement
Lebih lanjut, Agus Joko Susilo optimis bahwa kawasan Tanjung Banun akan bertransformasi menjadi agrowisata buah yang signifikan. "Kawasan ini akan menjadi agrowisata buah, akan mendongkrak penghasilan masyarakat semua,” tambahnya, menunjukkan prospek cerah bagi peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat setempat.
Sumber: AntaraNews