5 Kebiasaan Tak Disadari yang Buat Kelas Menengah Tetap Miskin, Termasuk Ketagihan Kopi
Tanpa disadari masyarakat kelas menengah mengalokasikan pengeluaran cukup besar hanya untuk segelas kopi.
Salah satu investor tersukses di dunia, Warren Buffett mengungkapkan lima kebiasaan buruk yang kerap dilakukan kelas menengah. Buffet menyebut kebiasaan tersebut cenderung membuat kelas menengah tetap miskin.
Buffet menekankan pentingnya kebijaksanaan finansial bagi kelas menengah. Hal ini agar pendapatan yang dimiliki tidak lenyap seketika dalam hitungan hari.
Berikut lima kebiasaan yang membuat kelas menengah tetap miskin:
1. Jebakan Utang Kartu Kredit
Menurut Buffett, utang kartu kredit merupakan salah satu jebakan keuangan yang paling merusak. Dengan suku bunga rata-rata berkisar sekitar 20 persen, utang kartu kredit dengan cepat menumpuk terhadap konsumen, menciptakan pasir hisap keuangan yang semakin sulit dihindari.
Rata-rata rumah tangga Amerika yang memiliki utang kartu kredit sekitar USD7.226, yang mengakibatkan ratusan atau ribuan dolar terbuang setiap tahunnya hanya untuk pembayaran bunga.
"Jika saya berutang sebesar 18 persen, hal pertama yang akan saya lakukan dengan uang yang saya miliki adalah melunasinya. Itu akan jauh lebih baik daripada ide investasi apa pun yang saya miliki," kata Buffett melansir News Trader U, Selasa (13/5).
2. Ketagihan Beli Kopi
Buffet menyoroti tren gaya hidup nongkrong di cafetaria yang dilakukan banyak kelompok kelas menengah. Menurutnya, tanpa disadari masyarakat kelas menengah mengalokasikan pengeluaran cukup besar hanya untuk segelas kopi.
Sebagai asumsi, untuk pembelian kopi seharga USD5 setiap hari setara dengan modal USD 1.825 per tahun yang dapat diinvestasikan dan tumbuh secara substansial selama beberapa dekade.
Buffett mengingatkan, pengeluaran harian yang kecil mungkin tampak tidak penting jika berdiri sendiri. Tetapi, jika dilakukan secara terus-menerus akan berdampak besar bagi keuangan kelas menengah jika dilihat secara kumulatif.
"Ini merupakan contoh dari apa yang disebut oleh para ahli keuangan sebagai faktor latte, di mana pengeluaran kebiasaan yang tampaknya kecil diam-diam mengikis potensi pembangunan kekayaan," ucapnya.
3. Beli Barang yang Tidak Perlu
Peringatan Buffett tentang pembelian yang tidak perlu oleh kelas menengah menyinggung inti budaya konsumen. Dia menilai, masih banyak pembelian yang tidak didorong oleh kebutuhan, tetapi oleh pencarian status, keinginan sesaat, atau tertipu trik pemasaran yang cerdik.
Sebagai akibatnya, pengeluaran yang tidak perlu ini tanpa disadari menciptakan pukulan finansial ganda bagi kelas menengah. Ini karena seharusnya uang yang dibelanjakan untuk barang yang tidak penting akan menutup peluang investasi masa depan.
Siklus pembelian yang tidak perlu menjadi sangat berbahaya jika mengarah pada utang. Ketika konsumen membiayai pembelian yang tidak penting melalui kredit, mereka memperparah kerusakan dengan menambahkan biaya bunga.
“Jika Anda membeli barang yang tidak Anda butuhkan, Anda akan segera harus menjual barang yang Anda butuhkan," tegas Warren Buffett.
4. Membeli Mobil Baru
Kebiasaan lainnya yang dilakukan kelas menengah ialah membeli mobil baru. Sayangnya kebiasaan ini tanpa disadari mengikis nilai kekayaan kelas menengah.
Buffet mencontohkan, pemborosan pengeluaran dari pembelian mobil baru. Dia mengasumsikan nilai mobil baru akan mengalami penurunan atau depresiasi antara 20 sampai 30 persen dari nilai awal hanya dalam tahun pertama.
Ironisnya, banyak orang kelas menengah yang menggunakan kredit untuk membeli mobil baru. Alhasil, mereka harus banyak menanggung biaya untuk pembayaran cicilan mobil, bunga, hingga asuransi.
"Sehingga mereka tidak dapat menabung, apalagi membangun rekening investasi. Saya telah melihat banyak orang berakhir miskin setelah membeli mobil baru yang tidak mampu mereka beli," ucap Buffett.
5. Perjudian
Buffett secara konsisten memperingatkan kelas menengah agar tidak berjudi dengan cara yang disamarkan sebagai investasi. Baik melalui tiket lotre, perjudian kasino, atau investasi pasar yang sangat spekulatif.
Namun, masih banyak orang membuang-buang uang dalam jumlah besar untuk mengejar keuntungan. Baginya sistem perjudian tidak mungkin akan membangun kekayaan secara sistematis.
Statistik menceritakan kisah yang menyadarkan. Rata-rata orang Amerika menghabiskan lebih dari USD200 per tahun untuk membeli tiket lotre meskipun peluang menangnya sangat kecil
"Saya tidak bersikap sok suci tentang hal itu, tetapi pada dasarnya, perjudian merupakan pajak atas ketidaktahuan," ujar Warren Buffett