Sniper Pasukan Elite Amerika Beri Kesaksian yang Terjadi di Palestina: Ini Bukan Perang tapi Genosida yang Nyata
Serangan Israel ke Palestina bukan sebuah perang namun pembantaian etnis skala besar.
Seorang sniper pasukan elite Amerika Serikat (AS) menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi di Palestina. Ia menjelaskan kondisi yang sebenarnya terjadi tidak sama dengan apa yang diceritakan oleh pemerintah Israel dan Amerika Serikat.
Sang sniper andalan AS itu menyebut apa yang terjadi di Palestina bukan sekadar perang. Menurutnya, militer Israel telah jauh melakukan aksinya dan lebih cocok disebut sebagai aksi genosida.
Lantas siapa sosok sniper pasukan elite Amerika tersebut? Mengutip dari akun X @hureyaksa, Rabu (12/3) simak informasi berikut ini.
Bantah Perang, Akui Genosida di Palestina
Alan Shebaro, seorang tentara elite Amerika Serikat menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi di Palestina. Pengalaman Alan selama menjadi pasukan khusus membuatnya paham tentang apa yang sebenarnya terjadi di Palestina.
"Saya adalah seorang sniper, penyerang dan pelanggar. Saya tahu (persis) perang," ucapnya.
Dalam kesaksiannya Alan membantah perang terjadi di Palestina. Ia lebih setuju menyebut apa yang terjadi di Palestina sebagai aksi genosida berdasarkan apa yang ia lihat selama ini.
"Apa yang terjadi di Palestina sekarang ini bukanlah perang. Ini genosida, pembersihan etnis dari masyarakat yang spesifik untuk mengambil alih tanah mereka," sambungnya.
Alan menyayangkan masih banyak orang Amerika yang menutup mata mereka dengan hal ini. Menurutnya, banyak warga AS yang membayar pajak yang hasilnya justru digunakan untuk pembantaian etnis di Palestina.
"Ini salah. Dan tidak ada orang Amerika yang menentang apa yang salah. Para pembayar pajak AS membayar untuk ini (genosida) yang membuatnya semakin frustrasi. Saya membayar untuk ini," tandasnya.
Dengan tegas dan lantang, sang tentara elite itu pun meminta agar konflik ini harus segera dihentikan.
"Ini harus dihentikan. Ini harus berhenti," pungkasnya.
Genosida di Gaza dan Tepi Barat
Serangan Israel ke wilayah Palestina di Gaza, Tepi Barat hingga Yerusalem disebut sebagai yang terburuk di abad ke-21.
Mengutip dari berbagai sumber, korban tewas di Gaza akibat genosida Israel sejak Oktober 2023 menyentuh angka 48 ribu lebih dan 111 ribu lainnya mengalami luka-luka.
Sedangkan jumlah korban tewas di wilayah Tepi Barat maupun Yerusalem mencapai ratusan orang yang kebanyakan adalah anak-anak, wanita dan lansia menurut Kementerian Kesehatan Palestina, dikutip dari AFP Selasa (12/3).
Meskipun disebut perang, sejatinya peristiwa ini tak lain sebagai aksi genosida. Terbukti, Israel lebih sering menyerang warga sipil ketimbang pejuang Palestina.
Akibatnya, ratusan ribu orang menjadi korban hingga membuat banyak fasilitas umum yang hancur akibat serangan tentara zionisme.
Kekejaman Tentara Israel
Selain pembantaian massal di wilayah Palestina, Israel juga kerap melakukan tindakan keji terhadap warga Palestina. Menurut laporan UNICEF tahun 2024, kasus kekerasan dan pembatasan bantuan kemanusiaan meningkat sejak Oktober 2023.
Tentara Israel juga kerap melakukan tindakan amoral dengan memperkosa tahanan Palestina di penjara hingga masyarakat sipil selama agresi berlangsung.
Pada 2024 lalu, 10 tentara Israel terbukti bersalah usai memperkosa seorang tahanan pria Palestina di Penjara Sde Teiman. Akibatnya, korban meninggal dunia akibat luka parah di bagian tubuh intimnya.
Selain amoralitas, kekejaman tentara Israel dibuktikan dengan aksi pemblokiran bantuan kemanusiaan hingga membuat bala kelaparan hingga penyakit. Kejadian tersebut sudah terjadi sejak awal konflik dimulai.
Menurut laporan terbaru pada Minggu (2/3) lalu, Israel kembali memblokir truk bantuan ke Gaza.
Parahnya tindakan tersebut dilakukan di tengah gencatan senjata Hamas dan Israel berlangsung.