Sedang Jadi Tren di Jepang, Apa Sebenarnya Manfaat Konsumsi Kaktus Bagi Kesehatan?
Kaktus, tanaman hias unik, ternyata menyimpan segudang manfaat kesehatan.
Fenomena kuliner unik tengah berkembang di Jepang. Kaktus mulai dilirik sebagai bahan makanan alternatif yang semakin diminati. Salah satu jenis yang populer dikonsumsi adalah kaktus pir berduri (Opuntia ficus-indica).
Kaktus ini ternyata kaya akan mineral, serat makanan, dan nutrisi penting lainnya. Tak heran, banyak orang mencari tahu apa saja manfaat kaktus bagi kesehatan tubuh. Berbagai penelitian pun mengungkap potensi positif kaktus untuk kesehatan.
Lantas, apa saja manfaat kaktus bagi kesehatan yang perlu diketahui? Berikut ini adalah ulasan lengkapnya yang sayang untuk dilewatkan.
Menurunkan Kolesterol dan Trigliserida
Kaktus terbukti efektif menurunkan kadar kolesterol dan trigliserida dalam darah. Konsumsi kaktus secara teratur dapat mengurangi risiko masalah kesehatan jantung yang serius. Hal ini menjadi kabar baik bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung atau ingin menjaga kesehatan jantung.
Kandungan serat dalam kaktus berperan penting dalam proses ini. Serat membantu mengikat kolesterol jahat (LDL) dan membawanya keluar dari tubuh. Dengan demikian, kadar kolesterol dalam darah dapat terkontrol dengan lebih baik.
Selain itu, kaktus juga mengandung senyawa lain yang dapat membantu menurunkan produksi trigliserida di hati. Trigliserida adalah jenis lemak lain yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung jika kadarnya terlalu tinggi.
Mengontrol Gula Darah dan Meningkatkan Sensitivitas Insulin
Kaktus mengandung serat dan pektin yang berperan penting dalam mengatur penyerapan gula dalam tubuh. Kandungan ini membantu menstabilkan kadar gula darah dan meningkatkan sensitivitas insulin. Manfaat ini sangat penting bagi penderita diabetes atau mereka yang berisiko terkena diabetes.
Serat dalam kaktus memperlambat penyerapan gula dari makanan ke dalam aliran darah. Hal ini mencegah lonjakan kadar gula darah setelah makan. Pektin, sejenis serat larut, juga membantu mengontrol kadar gula darah dengan cara yang serupa.
Selain itu, kaktus juga dapat meningkatkan sensitivitas insulin. Insulin adalah hormon yang membantu sel-sel tubuh menyerap gula dari darah. Dengan meningkatkan sensitivitas insulin, kaktus membantu tubuh menggunakan gula dengan lebih efisien.
Membantu Menurunkan Berat Badan
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kaktus berpotensi membantu menurunkan berat badan. Meski mekanisme pastinya masih dalam penelitian, kandungan serat yang tinggi dalam kaktus diduga berperan penting. Serat dapat meningkatkan rasa kenyang dan mengurangi asupan kalori secara keseluruhan.
Ketika mengonsumsi kaktus, serat akan mengembang di dalam perut dan memberikan rasa kenyang lebih lama. Hal ini dapat membantu mengurangi keinginan untuk makan berlebihan atau ngemil di antara waktu makan. Dengan demikian, asupan kalori harian dapat dikurangi.
Selain itu, kaktus juga mengandung senyawa lain yang dapat membantu meningkatkan metabolisme tubuh. Metabolisme yang lebih tinggi berarti tubuh membakar lebih banyak kalori, bahkan saat sedang beristirahat. Hal ini tentu saja dapat membantu proses penurunan berat badan.
Meningkatkan Sistem Imunitas dan Mencegah Kanker
Kaktus kaya akan antioksidan seperti asam askorbat, karotenoid, dan flavonoid. Antioksidan ini membantu melawan radikal bebas yang dapat merusak sel-sel tubuh. Dengan melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan, kaktus membantu memperkuat sistem imun dan mencegah berbagai penyakit.
Radikal bebas adalah molekul tidak stabil yang dapat menyebabkan kerusakan sel dan memicu berbagai penyakit kronis, termasuk kanker. Antioksidan dalam kaktus menetralkan radikal bebas dan mencegahnya merusak sel-sel tubuh.
Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa ekstrak kaktus dapat menghambat pertumbuhan sel kanker. Meski penelitian lebih lanjut masih diperlukan, temuan ini menunjukkan potensi kaktus sebagai agen antikanker alami.
Selain itu, kaktus juga mengandung senyawa anti-inflamasi yang dapat membantu mengurangi peradangan dalam tubuh. Peradangan kronis dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, termasuk penyakit jantung, diabetes, dan kanker.
Melansir South China Morning Post, ada beberapa bukti yang mendukung label 'superfood' kaktus ini. Pada tahun 2024, Universitas Chubu Jepang mendirikan Pusat Inisiatif Penelitian untuk Penelitian Tanaman Kaktus dan Sukulen di kota Kasugai, tempat budidaya kaktus hias pertama kali dimulai di Jepang.