Perjalanan Hidup Try Sutrisno yang Tak Banyak Diketahui, Pernah Jualan Koran dan Rokok hingga Jadi Wapres
Semasa hidupnya, almarhum meniti karier militer dari bawah hingga mencapai posisi tertinggi.
Indonesia kembali berduka. Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia, Try Sutrisno, wafat pada Senin, 2 Maret 2026, sekitar pukul 06.58 WIB di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD), Jakarta. Kepergian purnawirawan jenderal senior TNI itu meninggalkan jejak panjang pengabdian bagi bangsa dan negara.
Semasa hidupnya, almarhum meniti karier militer dari bawah hingga mencapai posisi tertinggi. Ia pernah menjabat sebagai Panglima ABRI sebelum dipercaya menjadi Wakil Presiden RI periode 1993–1998, mendampingi Presiden Soeharto.
Di balik jabatan tinggi yang pernah diembannya, tersimpan kisah perjuangan keras sejak usia belia, kisah yang membentuk mental tangguh dan etos kerja kuat dalam dirinya.
Jadi Tulang Punggung Keluarga Sejak Kecil
Masa kecil Try tidak diwarnai kemewahan. Situasi keamanan yang tak kondusif memaksa keluarganya mengungsi dari Surabaya ke Mojokerto. Dalam kondisi serba sulit itu, ia harus membantu menopang ekonomi keluarga.
Sang ayah tengah berjuang dan bergabung sebagai Bagian Kesehatan Batalyon Poncowati di Kediri. Try pun mengambil peran sebagai tulang punggung bagi ibu dan adiknya. Ia berjualan koran dan rokok demi menyambung hidup.
"Saya enterpreneurship tanpa modal waktu itu. Apa usaha yang tanpa modal? Saya berjualan air bersih pakai kendi. Sampai akhirnya bertahap meningkat berjualan koran di kereta api dan meningkat berjualan rokok," kata Try saat memberikan kultum ‘Empat Negarawan Berbicara Mengenai Filosofi Hidup, Resep Sukses, Etos Kerja, dan Ilmu Kepemimpinan’, Minggu (17/5/2015).
Pembersih Sepatu hingga Kurir Pejuang
Situasi kembali berubah ketika Mojokerto diduduki Belanda. Tanpa ragu, Try pindah ke Kediri menyusul ayahnya. Di sana, ia bekerja sebagai pesuruh di Batalyon Poncowati membersihkan sepatu dan mengantar makanan.
Tak berhenti di situ, ia juga dipercaya menjadi kurir sekaligus anggota PD (penyelidik dalam). Tugasnya berisiko: menyusup ke wilayah pendudukan Belanda untuk mengumpulkan informasi dan mengirimkan dokumen penting kepada para pejuang.
"Saya diperintahkan membawa dokumen yang harus melewati garis batas antara Indonesia dan Belanda. Saat usia saya yang masih kecil itu, saya sudah punya siasat, tidak mungkin saya lewat jalan besar karena pasti tertangkap. Akhirnya saya putuskan dengan menyusuri sawah," paparnya.
Pengalaman itu menempa keberanian dan kecerdasannya dalam mengambil keputusan.
Mengabdi Melalui Jalur Militer
Selepas SMA, Try mendaftar ke Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD). Ia sempat gagal dalam pemeriksaan fisik. Namun kegigihannya menarik perhatian Mayor Jenderal GPH Djatikusumo yang kemudian memanggilnya kembali. Setelah lulus tes psikologis di Bandung, ia akhirnya diterima.
Karier militernya dimulai di tengah gejolak pemberontakan PRRI di Sumatra. Setelah terlibat dalam operasi penumpasan, ia melanjutkan pendidikan di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad).
Namanya kian dikenal ketika terpilih menjadi ajudan Presiden Soeharto. Sejak saat itu, kariernya terus menanjak. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Staf Kodam XVI/Udayana, Panglima Kodam IV/Sriwijaya, Panglima Kodam V/Jaya, Wakil KSAD, KSAD, hingga Panglima ABRI.
Puncaknya, ia dipercaya menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia.