Pandangan Islam tentang Bulan Suro, Apa Benar Menakutkan?
Meskipun banyak yang menganggap bulan ini menyeramkan, dalam pandangan Islam, bulan Suro justru termasuk salah satu bulan yang penuh berkah.
Bulan Suro sering kali dipandang sebagai waktu yang menakutkan dalam tradisi masyarakat Jawa. Keyakinan ini telah diwariskan secara turun-temurun, berdasarkan cerita lisan dari nenek moyang yang masih dipegang hingga kini. Berbagai larangan seperti tidak diperbolehkannya menikah, larangan bepergian jauh, serta hari-hari yang dianggap membawa sial dan emosi negatif, menjadi bagian dari kepercayaan ini.
Meskipun banyak yang menganggap bulan ini menyeramkan, dalam pandangan Islam, bulan Suro justru termasuk salah satu bulan yang penuh berkah. Salah satu peristiwa penting yang terjadi pada bulan ini adalah keselamatan Nabi Nuh dari banjir besar yang menimpa umatnya, perlindungan Nabi Musa dari kejaran Firaun di Laut Merah, serta penyelamatan Nabi Ibrahim dari api yang dinyalakan oleh raja Namrud yang kejam pada hari Asyura, tanggal 10 Muharram. Di sinilah kita menemukan perbedaan antara mitos budaya dan makna religius yang sebenarnya. Selengkapnya, simak fakta serta asal usul bulan Suro yang menarik, dirangkum Merdeka.com untuk Anda, Kamis (3/7).
Asal Usul Bulan Suro Dianggap Menakutkan
Kepercayaan masyarakat Jawa kuno mengenai Bulan Suro sebagai bulan yang angker berasal dari pandangan bahwa pada waktu ini, kekuatan gaib berkumpul. Dalam tradisi kejawen, Suro dianggap sebagai periode sakral di mana batas antara dunia fisik dan spiritual menjadi lebih tipis. Masyarakat meyakini bahwa pada malam 1 Suro, makhluk halus lebih aktif dan dapat berinteraksi dengan manusia dengan lebih mudah.
Menurut buku Misteri Bulan Suro: Perspektif Islam Jawa karya KH Muhammad Solikhin, bulan Suro mulai menjadi bagian dari kepercayaan masyarakat saat masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo. Sultan Agung, yang merupakan raja ketiga Kesultanan Mataram dan memerintah dari tahun 1613 hingga 1645, berusaha memperkenalkan ajaran Islam sambil tetap mempertahankan keyakinan Hindu yang sudah ada.
"Bulan Muharram (Suro) atas prakarsa Sultan Agung menjadi bulan awal tahun baru bersama-sama dalam ajaran Islam-Jawa. Selain itu, diyakini sebagian masyarakat Jawa bahwa bulan ini merupakan waktu kedatang sosok Aji Saka dan membebaskan Jawa dari cengkeraman makhluk-makhluk raksasa, " tulisnya.
Oleh karena itu, masyarakat percaya bahwa bulan Suro adalah bulan yang perlu dilalui dengan hati-hati, mengingat sosok raksasa Banul Jan yang dianggap sebagai penjajah manusia. Kehadiran sosok ini membuat masyarakat Jawa menganggap bulan ini sebagai bulan yang penuh dengan bencana.
Mitos-Mitos di Bulan Suro
Mitos yang paling dikenal seputar Bulan Suro adalah larangan untuk menikah. Banyak orang percaya bahwa jika melangsungkan pernikahan pada bulan ini, akan ada bencana, perceraian, atau bahkan kematian bagi pasangan. Namun, sebenarnya larangan ini tidak ada dalam ajaran Islam. Mitos ini berakar dari keyakinan bahwa bulan Suro adalah waktu yang lebih cocok untuk merenung dan berdiam diri, bukan untuk merayakan kebahagiaan.
Di samping itu, banyak orang yang menganggap bepergian jauh selama bulan Suro sebagai hal yang tabu. Mereka khawatir akan mengalami kecelakaan atau gangguan dari makhluk halus. Akibatnya, banyak masyarakat Jawa memilih untuk menunda perjalanan ke luar kota, terutama di awal bulan Suro. Untuk melindungi diri dari potensi bahaya yang diyakini lebih besar di bulan ini, mereka melakukan berbagai ritual seperti ruwatan, tirakatan, atau mandi kembang. Dalam buku berjudul Corak Budaya Indonesia dalam Bingkai Kearifan Lokal yang ditulis oleh Alik Ulfatus Solikah, S.Pd, Aqidatul Izzah, S.Pd, dan Aurel Hamida Valeria, S.Pd, dijelaskan bahwa mitos yang berkaitan dengan bulan Suro ini telah ada sejak zaman dahulu dan menjadi tradisi di kalangan masyarakat Jawa.
"Larangan menikah pada bulan Suro merupakan ajaran Kejawen yang masih dipegang erat oleh masyarakat hingga saat ini. Orang Jawa memang dikenal hati-hati, apalagi terkait pernikahan. Sehingga mereka akan memilih hari baik untuk melaksanakannya (di luar bulan Suro)," tulis Alik dkk.
Islam Mengajarkan Bahwa Bulan Suro adalah Bulan Baik
Dalam ajaran Islam, bulan Suro atau Muharram dianggap sebagai salah satu bulan yang haram, yaitu bulan suci yang dimuliakan oleh Allah SWT. Rasulullah SAW bahkan menyebut Muharram sebagai "Syahrullah" atau "bulannya Allah", yang menunjukkan betapa istimewanya bulan ini. Salah satu sumber literatur Islam yang menjelaskan tentang bulan Suro sebagai waktu yang baik adalah hadis riwayat Muslim no. 6000 yang menyatakan bahwa Allah merasa kecewa terhadap hamba-Nya yang menganggap waktu-waktu tertentu membawa kesialan.
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ
“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mencela waktu, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang." dikutip dari alrasikh.uii.ac.id.
Kesialan yang dianggap oleh masyarakat terkait dengan bulan Suro sebenarnya adalah ketetapan Allah yang dapat terjadi di bulan-bulan lain dan waktu-waktu di luar Muharram. Hal ini juga diungkapkan dalam hadis riwayat Abu Daud no. 3912 yang dinyatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no. 429, yang menyebutkan:
ﺍﻟﻄِّﻴَﺮَﺓُ ﺷِﺮْﻙٌ ﺍﻟﻄِّﻴَﺮَﺓُ ﺷِﺮْﻙٌ ﺛَﻼَﺛًﺎ ﻭَﻣَﺎ ﻣِﻨَّﺎ ﺇِﻻَّ ﻭَﻟَﻜِﻦَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳُﺬْﻫِﺒُﻪُ ﺑِﺎﻟﺘَّﻮَﻛُّﻞِ
“Beranggapan sial adalah kesyirikan, beranggapan sial adalah kesyirikan, beranggapan sial adalah kesyirikan” dikutip dari mahad.uin-suska.ac.id.
Banyak Peristiwa Penting Terjadi di Bulan Suro Sehingga Dianggap Istimewa
Bulan Suro atau Muharram memiliki makna yang sangat penting dalam sejarah Islam. Beberapa peristiwa monumental yang terjadi di bulan ini antara lain adalah syahidnya Husein Bin Ali, cucu Rasulullah SAW, di Karbala pada tanggal 10 Muharram. Selain itu, terdapat juga momen ketika nabi Adam AS diterima taubatnya setelah melanggar perintah Allah dengan memakan buah kuldi, yang mengakibatkan dirinya diturunkan ke bumi. Bulan ini juga mengingatkan kita akan keselamatan nabi Nuh dari banjir besar dan perlindungan Allah terhadap Musa dari kejaran raja Firaun yang akhirnya ditenggelamkan di laut merah.
Selain itu, bulan Muharram juga menandai peristiwa penting di mana nabi Ibrahim selamat dari kobaran api yang diberikan raja Namrud. Ketika itu, utusan Allah tersebut dituduh membasmi patung-patung berhala sebagai media penyembahan sang raja di sebuah kuil.
قُلْنَا يَا نَارُ كُونِى بَردًا وَسَلاَمًا عَلَى إِبْرَاهِيْمَ.
Wahai api jadilah dingin dan selamat atas Ibrahim. (QS: Al Anbiya 69) - dikutip dari uinsaizu.ac.id.
Oleh karena itu, tidak ada dalil dalam Islam yang menyatakan bahwa bulan Suro adalah bulan sial atau angker. Sebaliknya, ajaran Islam mendorong umatnya untuk menyambut Muharram dengan penuh rasa syukur, serta memperbanyak doa, puasa, dan amal baik. Hal ini sejalan dengan pandangan sejarah yang menunjukkan bahwa bulan ini sarat dengan kebaikan dan keselamatan bagi hamba Allah yang taat.