Kisah Dubes AS di Indonesia Percaya Mitos Sampai Ketakutan saat Diajak ke Pelabuhan Ratu
Duta Besar AS, Marshall Green, menolak ajakan Soekarno ke Pelabuhan Ratu karena takut kutukan Nyi Roro Kidul.
Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Marshall Green, pernah dihadapkan pada sebuah pilihan sulit. Dia dibuat ragu dengan ajakan dari Presiden Soekarno untuk mengunjungi sebuah daerah yang terkenal dengan keindahan sekaligus misterinya, Pelabuhan Ratu, Sukabumi.
Namun, bukan urusan politik atau strategi yang membuat Green gamang. Penolakan Green ternyata berakar pada sebuah kepercayaan yang hidup kuat di masyarakat Jawa. Ia meyakini adanya kutukan Nyi Roro Kidul, tokoh mitologi yang dipercaya sebagai penguasa laut selatan.
Kisah ini bukan hanya tentang seorang diplomat asing dan mitos lokal. Ini adalah cerminan bagaimana kepercayaan dan budaya dapat memengaruhi pandangan serta keputusan seseorang, bahkan di tengah dunia diplomasi yang rasional.
Awal Mula Ketakutan Marshall Green pada Nyi Roro Kidul
Ketakutan Marshall Green terhadap Nyi Roro Kidul bukan tanpa alasan. Insiden kematian seorang pejabat kedutaan Bulgaria di pantai Pelabuhan Ratu menjadi pemicunya. Kabar yang beredar menyebutkan bahwa pejabat tersebut mengenakan pakaian dalam berwarna hijau saat berkunjung.
Warna hijau sendiri sangat identik dengan Nyi Roro Kidul. Masyarakat setempat percaya bahwa mengenakan warna tersebut di wilayah kekuasaan sang penguasa laut selatan dapat mengundang malapetaka. Kematian tragis pejabat Bulgaria itu semakin memperkuat keyakinan Green akan kutukan tersebut.
Kejadian ini menjadi semacam peringatan bagi Green. Ia semakin berhati-hati dan berusaha menghindari segala sesuatu yang berhubungan dengan Nyi Roro Kidul, termasuk mengunjungi Pelabuhan Ratu.
Undangan Soekarno dan Dilema Sang Duta Besar
Presiden Pertama RI Soekarno, dengan maksud baik, ingin memperkenalkan keindahan Pelabuhan Ratu kepada Marshall Green. Ia beberapa kali menyampaikan undangan agar sang duta besar bersedia berkunjung dan menikmati pesona alam di sana.
Namun, setiap kali undangan itu datang, Green selalu menolak dengan halus. Kabarnya, dia tidak ingin mengambil risiko terkena kutukan Nyi Roro Kidul, meskipun Soekarno mungkin tidak percaya pada mitos tersebut. Bagi Green, lebih baik mencegah daripada menyesal.
Penolakan Green ini tentu menjadi perhatian tersendiri. Di satu sisi, ia menghormati Soekarno sebagai kepala negara. Namun, di sisi lain, ketakutannya pada mitos Nyi Roro Kidul jauh lebih besar.
Penjelasan Ilmiah vs. Kepercayaan Mitos
Sebenarnya, ada penjelasan ilmiah yang lebih rasional mengenai penyebab kematian pejabat Bulgaria tersebut. Arus laut yang kuat di sekitar Pelabuhan Ratu memang berbahaya dan dapat menyebabkan seseorang tenggelam, apalagi jika tidak berhati-hati.
Namun, bagi Marshall Green, penjelasan ilmiah itu tidak cukup. Ia tetap meyakini bahwa ada kekuatan mistis yang berperan dalam kejadian tersebut. Kepercayaan pada mitos Nyi Roro Kidul sudah terlanjur mengakar kuat dalam benaknya.
Terlepas dari benar atau tidaknya mitos tersebut, kisah ini memberikan pelajaran tentang pentingnya menghormati kepercayaan orang lain. Apa yang dianggap irasional oleh sebagian orang, bisa jadi sangat berarti bagi orang lain.
Pelabuhan Ratu sendiri tetap menjadi destinasi wisata yang menarik dengan segala keindahan dan misterinya. Kisah Nyi Roro Kidul pun terus hidup dalam legenda dan cerita rakyat yang diceritakan dari generasi ke generasi.