Megawati: Presiden Kelima RI Dorong Pancasila sebagai Fondasi Tatanan Dunia Baru yang Adil

Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri menyerukan Pancasila Tatanan Dunia Baru yang adil dan setara, menekankan nilai universal Pancasila sebagai solusi krisis global.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Megawati: Presiden Kelima RI Dorong Pancasila sebagai Fondasi Tatanan Dunia Baru yang Adil
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menyerukan Pancasila sebagai etika global untuk membangun tatanan dunia baru yang berkeadilan, menyeimbangkan materiil dan spiritual. (AntaraNews)

Presiden kelima Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, menyerukan pembentukan tatanan dunia baru. Ia berharap tatanan ini berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan kesetaraan universal Pancasila. Seruan ini disampaikan pada Seminar Internasional Peringatan 70 Tahun Konferensi Asia-Afrika di Blitar, Jawa Timur, Sabtu, 01 November.

Megawati menegaskan bahwa Pancasila bukan sekadar ideologi nasional Indonesia. Lebih dari itu, Pancasila adalah filosofi yang mampu menjembatani berbagai perbedaan. Ini termasuk perbedaan ideologi, ras, dan ekonomi yang ada di dunia.

Dalam pidatonya, Ketua Umum PDI-P ini mengutip pemikiran ayahnya, Presiden pertama Soekarno. Soekarno pernah mengusulkan Pancasila di Sidang Umum PBB tahun 1960. Tujuannya adalah sebagai fondasi untuk membangun tatanan global yang adil.

Pancasila: Fondasi Etika Global yang Universal

Pancasila, menurut Megawati, melampaui batas-batas sebagai ideologi negara Indonesia. Ia merupakan sebuah filosofi universal yang memiliki potensi besar dalam menyatukan berbagai pandangan. Filosofi ini mampu menjembatani jurang pemisah antar ideologi, ras, dan kondisi ekonomi di seluruh dunia.

Megawati menegaskan, "Dunia lama yang dibangun di atas kolonialisme dan imperialisme harus digantikan oleh dunia yang adil." Pernyataan ini menggarisbawahi urgensi perubahan paradigma global. Perubahan ini harus bergeser menuju prinsip-prinsip keadilan dan kesetaraan.

Ia juga mengingatkan kembali gagasan mendiang ayahnya, Presiden Soekarno. Soekarno pernah mengusulkan Pancasila di Sidang Umum PBB pada tahun 1960. Tujuannya adalah sebagai landasan kokoh bagi pembangunan tatanan global yang adil dan beradab.

Pancasila, lanjutnya, berfungsi sebagai etika global yang menyeimbangkan kehidupan material dan spiritual. Selain itu, ia juga menyeimbangkan hak individu dengan tanggung jawab sosial. Ia juga menyelaraskan kedaulatan nasional dengan solidaritas internasional.

Merespons Krisis Global dengan Nilai Kemanusiaan

Di tengah krisis moral global yang semakin mengkhawatirkan, dunia menghadapi berbagai tantangan. Tantangan tersebut meliputi ketidaksetaraan digital yang melebar dan ketegangan geopolitik yang berkepanjangan. Megawati menekankan bahwa dunia membutuhkan nilai-nilai universal yang berakar pada kemanusiaan. Nilai ini harus lebih diutamakan daripada sekadar perebutan kekuasaan.

Tanpa fondasi moral yang kuat, dunia akan terus terjebak dalam konflik hegemoni. Megawati mencontohkan, "Tanpa fondasi moral yang kuat, dunia akan tetap terjebak dalam konflik hegemoni seperti perang Rusia-Ukraina dan krisis Timur Tengah." Konflik-konflik ini menunjukkan kegagalan dalam menemukan solusi damai. Solusi damai yang berlandaskan pada prinsip keadilan universal.

Untuk mencapai tatanan dunia yang lebih baik, reformasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjadi sebuah keharusan. Megawati menekankan perlunya PBB yang lebih demokratis. PBB juga harus lebih representatif bagi seluruh bangsa di dunia. Hal ini penting untuk memastikan suara semua negara didengar.

Mewujudkan Visi Soekarno 'To Build the World Anew'

Visi 'To Build the World Anew' yang digagas oleh Soekarno hanya dapat terwujud. Terwujud jika nilai-nilai moral ditempatkan sebagai inti dari pembangunan. Ini juga berlaku untuk kemajuan teknologi di era modern.

Megawati menegaskan bahwa dunia baru bukanlah dunia yang tunduk pada mesin dan kapital. Sebaliknya, dunia baru adalah dunia yang menempatkan kemanusiaan sebagai pusat peradaban. Ini adalah panggilan untuk kembali pada esensi keberadaan manusia.

Penekanan pada nilai-nilai moral ini menjadi krusial. Terutama dalam menghadapi laju teknologi yang pesat. Ini memastikan bahwa kemajuan tidak mengorbankan martabat dan keadilan bagi semua.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi