Momen 'King Sparko' Kopassus Bikin Pasukan TNI & Tentara Prancis Kompak Menari Pacu Jalur yang Viral
Momen perwira Kopassus ajarkan tari Pacu Jalur kepada para tentara Prancis.
Perwira Menengah Kopassus Letkol Eka Wira Dharmawan alias King of Sparko memperkenalkan tarian Pacu Jalur yang kini tengah viral di media sosial, kepada para tentara Prancis.
Momen itu terjadi saat sesi latihan parade tentara jelang peringatan Bastille Day di Champs-Élysées, Paris yang dijadwalkan digelar pada hari ini, Senin (14/7).
Usai melakukan gladi upacara, prajurit TNI dan tentara Prancis kompak melepas penat dengan menari bersama. Letkol Eka tampak mengajari para tentara Prancis gerakan tari Pacu Jalur yang kini tengah banyak ditirukan.
"Usai gladi upacara Bastille Day 2025 di Paris, prajurit TNI lepas penat dengan joget pacu jalur bareng tentara Prancis," seperti dikutip dari Youtube MerdekaDotCom.
Terlihat Letkol Eka menari di bagian paling depan barisan dengan penuh semangat. Sementara beberapa prajurit TNI dan tentara Prancis mengikuti gerakan tersebut sembari bersorak dengan gembira.
Sebagai informasi, Letkol Eka Wira sendiri adalah seorang perwira TNI AD yang akrab dengan julukan King of Sparko. Dia dikenal karena dedikasinya pada olahraga kalistenik dan disiplin militer, serta penciptaan komunitas "Spartan Komando" (Sparko).
Tari Pacu Jalur Viral
Diketahui, jagat media sosial (medsos) belakangan tengah dihebohkan dengan gerakan tari Pacu Jalur khas Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Provinsi Riau.
Tarian yang umumnya dilakukan oleh seorang bocah di atas jalur (perahu) itu, ditiru oleh banyak orang hingga mancanegara. Banyak orang menyebut gerakan tarian Pacu Jalur itu dengan istilah 'aura farming'.
Biasanya, cuplikan video merekam bocah yang sedang menari di atas jalur dibubuhi dengan backsound lagu “Young Black & Rich” milik Melly Mike. Tradisi lokal ini pun mendadak ramai diperbincangkan di berbagai platform digital.
Sementara Pacu Jalur sendiri adalah perlombaan dayung tradisional yang berasal dari Kabupaten Kuantan Singingi. Nama "Pacu Jalur" berasal dari bahasa Minangkabau Timur.
Dalam bahasa tersebut, "pacu" berarti lomba dan "jalur" berarti perahu atau sampan panjang. Perahu ini terbuat dari kayu gelondongan utuh tanpa sambungan. Sejarah Pacu Jalur dimulai sejak abad ke-17.
Awalnya, jalur berfungsi sebagai alat transportasi utama masyarakat di sepanjang Sungai Kuantan. Jalur digunakan untuk mengangkut hasil bumi dan manusia. Hanya kalangan bangsawan dan penguasa yang memiliki jalur yang dihias indah dengan ukiran.
Seiring waktu, lomba adu kecepatan antar jalur mulai diadakan, yang kemudian dikenal sebagai Pacu Jalur. Awalnya, perlombaan ini diadakan untuk merayakan hari besar Islam.
Pada masa penjajahan Belanda, Pacu Jalur juga digunakan untuk merayakan hari lahir Ratu Wilhelmina. Setelah kemerdekaan Indonesia, Pacu Jalur dirayakan untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, biasanya sekitar bulan Agustus.