Keras! Iran Putus Kerja Sama dengan IAEA karena Ada di Bawah 'Ketek' Israel dan AS
Iran mengambil langkah tegas terhadap Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA).
Iran mengambil langkah tegas terhadap Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA). Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi secara tegas menolak permintaan Direktur Jenderal Rafael Grossi untuk menginspeksi fasilitas nuklir yang menjadi sasaran serangan Amerika Serikat dan Israel selama konflik yang berlangsung 12 hari pada Juni kemarin.
"Kekerasan Grossi untuk mengunjungi lokasi yang dibom dengan dalih perlindungan tidak ada artinya dan bahkan mungkin bermaksud jahat," tulis Araghchi di platform X, Senin (30/6/2025).
"Iran berhak mengambil langkah apa pun untuk membela kepentingannya, rakyatnya, dan kedaulatannya," tegasnya.
Selain itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan kepada Presiden Prancis Emmanuel Macron bahwa negaranya memutus kerja sama dengan IAEA. Ia menyebut sikap Grossi terhadap Iran sebagai perilaku "destruktif". Demikian disampaikan oleh kantor kepresidenan.
"Tindakan yang diambil oleh anggota parlemen ... merupakan respons alami terhadap tindakan yang tidak dapat dibenarkan, tidak konstruktif, dan merusak dari direktur jenderal Badan Tenaga Atom Internasional," kata Pezeshkian dalam percakapan telepon dengan Macron dilansir Aljazeera.
Menurut laporan Resul Serdar dari Al Jazeera yang meliput dari Teheran, pemerintah Iran menegaskan bahwa IAEA memiliki mandat teknis, bukan politis. Namun, pihak Teheran menilai lembaga itu berada "di bawah tekanan [politik] besar dari Israel dan Amerika Serikat".
Pada Rabu, parlemen Iran mengesahkan undang-undang untuk menghentikan kolaborasi dengan IAEA. Legislasi itu dirumuskan sebagai tanggapan atas serangan Israel pada 13 Juni dan serangan susulan Amerika terhadap instalasi nuklir Iran. Gencatan senjata antara kedua negara diumumkan pada 24 Juni.
Sejak awal bentrokan, pejabat Iran mengecam keras IAEA karena tidak hanya gagal mengutuk agresi Israel dan AS, tetapi juga karena mengeluarkan resolusi sehari sebelum serangan yang menuduh Iran melanggar kewajiban nuklirnya.
Negara Barat Mengecam
Resolusi itu meminta Iran... © 2024 merdeka.com
Sikap Iran terhadap IAEA menuai respons dari sejumlah negara Eropa. Prancis, Jerman, dan Inggris secara tegas menyatakan kecaman atas apa yang mereka sebut sebagai "ancaman" terhadap Grossi.
"Prancis, Jerman, dan Inggris mengutuk ancaman terhadap direktur jenderal IAEA Rafael Grossi dan menegaskan kembali dukungan penuh kami kepada badan tersebut," kata Jean-Noel Barrot, Johann Wadephul, dan David Lammy dalam pernyataan bersama.
Mereka mendesak Iran agar tidak menghentikan kerja sama dengan IAEA dan segera kembali memenuhi komitmen hukum internasionalnya.
"Kami mendesak Iran untuk segera melanjutkan kerja sama penuh sesuai dengan kewajibannya yang mengikat secara hukum, dan untuk mengambil semua langkah yang diperlukan guna memastikan keselamatan dan keamanan personel IAEA."
Grossi Mata-Mata Israel?
Meski tak dijelaskan ancaman mana yang dimaksud, sebelumnya surat kabar Kayhan yang berhaluan ultra-konservatif di Iran menuduh Grossi sebagai mata-mata Israel dan menyerukan eksekusi terhadapnya. Namun, Teheran menegaskan tidak ada ancaman yang dialamatkan pada Grossi ataupun staf IAEA.
Dalam konferensi pers mingguan, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baghaei menyebut keputusan parlemen untuk menghentikan kerja sama dengan IAEA mencerminkan "kekhawatiran dan kemarahan opini publik Iran." Ia juga mengkritik sikap AS dan Eropa yang menurutnya terus mempolitisasi isu nuklir Iran.
Menurut Asghar Jahangir, juru bicara kehakiman Iran, korban jiwa akibat konflik terbaru dengan Israel mencapai 935 orang, termasuk 132 perempuan dan 38 anak, berdasarkan data forensik terbaru.
Negara-negara anggota G7 mendukung gencatan senjata Iran-Israel dan menyerukan agar dialog dilanjutkan demi mencapai kesepakatan soal nuklir Iran.
"Kami menegaskan kembali bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir, dan mendesak Iran untuk menahan diri dari mengulangi kegiatan pengayaan yang tidak dapat dibenarkan," tulis G7 dalam pernyataan bersama.
Sementara itu, Qatar menyebut pihaknya turut berupaya memediasi kesepakatan terkait program nuklir Iran dan pencegahan eskalasi lebih lanjut. Presiden Pezeshkian juga dikabarkan menyampaikan permintaan maaf resmi kepada Emir Qatar Tamim bin Hamad Al Thani melalui telepon atas serangan yang sempat mengenai Pangkalan Udara Al Udeid, pangkalan militer AS terbesar di kawasan.