Kata Dokter Gizi soal Diet Ketat Hanya Makan Menu Rebusan dan Kukus
Diet dengan makanan rebusan kini menjadi pilihan yang banyak diminati untuk menurunkan berat badan.
Diet ketat yang menekankan pada konsumsi makanan rebusan kini menjadi populer di kalangan orang-orang yang ingin menurunkan berat badan. Metode ini bertujuan untuk mengurangi asupan kalori dan lemak dengan lebih banyak mengonsumsi makanan yang direbus. Namun, apa pendapat para ahli gizi mengenai pendekatan ini?
Dokter spesialis gizi klinik, Putri Sakti, mengungkapkan tidak terlalu merekomendasikan untuk hanya mengonsumsi makanan yang direbus atau dikukus. Menurutnya, pengaturan pola makan atau diet tidak berarti harus sepenuhnya menghindari lemak. Tubuh tetap membutuhkan kolesterol dalam jumlah yang cukup, salah satunya untuk membantu produksi vitamin D.
"Kolesterol kita tetap perlu ya karena fungsinya sangat banyak kalau kita terlalu diet ketat misalnya rebus kukus aja, nah itu sebetulnya kalau saya pribadi kurang menganjurkan," kata Putri beberapa waktu lalu dalam sebuah acara di Jakarta.
Putri juga mengatakan pentingnya memvariasikan cara pengolahan makanan. Ia memberikan contoh tentang udang dan menyarankan untuk mencari metode pengolahan yang lebih tepat.
"Misal udang. Pengolahannya juga coba cari deh yang tepat, kalau kolesterol tinggi ya jangan yang digoreng," jelas Putri.
Dengan demikian, penting bagi kita untuk memperhatikan keseimbangan dalam pola makan agar tetap sehat dan bugar.
Batasi Konsumsi Makanan Gorengan Bagi Penderita Kolesterol Tinggi
Bagi individu yang memiliki kadar kolesterol tinggi, Putri menyarankan untuk mengurangi asupan makanan cepat saji. Hal ini disebabkan oleh cara pengolahan makanan tersebut yang umumnya menggunakan metode deep fried. Metode deep fried adalah teknik menggoreng di mana bahan makanan dicelupkan dalam minyak panas dalam jumlah yang cukup besar. Tujuannya adalah agar makanan dapat matang secara merata dan menghasilkan tekstur yang renyah di bagian luar.
"Junk food atau fast food memang tipikal lemaknya lebih tinggi dan pastinya risiko meningkatkan kolesterol lebih besar," kata Putri.
Sebagai alternatif, Putri lebih menganjurkan untuk mengonsumsi makanan yang kaya serat dan mengandung plant stanol ester secara teratur.
Apa yang Dimaksud dengan Plant Stanol Ester?
Plant stanol ester merupakan bahan pangan fungsional yang banyak ditemukan di berbagai sumber makanan.
"Sayur, buah, oats, biji-bijian, sereal itu tinggi dengan kandungan plant stanol ester. Tapi balik lagi, setiap makanan sumber itu memang kandungannya tidak sebesar produk yang memang sudah diambil kandungan aktifnya," jelas Putri.
Untuk mencapai asupan minimal dua gram plant stanol ester, seseorang perlu mengonsumsi sekitar 15 hingga 20 buah, tergantung pada jenis buah yang dimakan.
"Contoh, untuk kita mendapatkan minimal dua gram plant stanol ester itu kita harus makan 15 sampai 20 buah, itu tergantung jenis buahnya apa. Jadi, otomatis kalau dari makanan sumber akan sulit memenuhi rekomendasi dokter yang dua gram per hari," kata Putri.
Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan konsumsi produk yang mengandung plant stanol ester agar kebutuhan harian dapat terpenuhi dengan baik.