Iran Tegas Jawab Tuduhan Mau Eksekusi Mati Demonstran: Tak Ada Hukuman Gantung, Hari ini atau Besok!
Menteri luar negeri Iran memberikan bantahan secara langsung kepada media Amerika Serikat.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Rabu (14/1/2026), membantah tuduhan bahwa pemerintah Iran berencana untuk mengeksekusi para demonstran setelah gelombang protes berlangsung selama beberapa minggu di negara tersebut.
Dalam wawancara dengan stasiun televisi asal Amerika Serikat, Fox News, Araghchi menegaskan bahwa tidak ada rencana untuk melakukan eksekusi di Iran.
"Tidak ada hukuman gantung, hari ini atau besok. Saya bisa mengatakan itu dengan yakin. Tidak ada rencana untuk melakukan hukuman gantung sama sekali," ungkap Araghchi.
Pernyataan ini disampaikan setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Selasa (13/1), menyatakan bahwa Washington akan mengambil tindakan tegas jika Iran melaksanakan eksekusi terhadap para pengunjuk rasa. Retorika yang meningkat dari Trump dan sejumlah pejabat AS lainnya muncul di tengah protes yang meluas di berbagai daerah Iran sejak akhir bulan lalu, yang dipicu oleh kondisi ekonomi yang memburuk.
Araghchi juga menyatakan bahwa situasi di Iran kini telah kembali stabil dan pemerintah berada dalam kendali penuh. Ia menyebutkan bahwa negara tersebut sebelumnya menghadapi ancaman terorisme yang besar.
"Kami menghadapi operasi terorisme besar sebagai kelanjutan dari perang 12 hari yang dipaksakan kepada kami oleh Israel dan AS," jelas Araghchi.
"Jadi, hari ke-13 perang adalah 8 Januari. Kami berada di tengah perang dan setelah tiga hari operasi terorisme, kini situasinya telah terkendali," jelasnya.
Pihak berwenang Iran sebelumnya menuduh Amerika Serikat dan Israel sebagai dalang di balik apa yang mereka sebut sebagai "kerusuhan" dan "terorisme" di tengah gelombang protes ini. Tuduhan tersebut menunjukkan ketegangan yang terus meningkat antara Iran dan kedua negara tersebut, terutama dalam konteks demonstrasi yang berakar dari ketidakpuasan terhadap pemerintahan dan kondisi ekonomi yang sulit.
Dalam situasi yang penuh gejolak ini, Araghchi berusaha meyakinkan bahwa Iran tetap pada jalurnya dan tidak akan tergoyahkan oleh ancaman dari luar.
Iran Mengirimkan Pesan ke Amerika Serikat
Menanggapi laporan yang mengklaim bahwa lebih dari 12.000 orang tewas akibat aksi protes, Araghchi membantah informasi tersebut, menganggapnya tidak berdasar dan merupakan bagian dari kampanye disinformasi. Ia menegaskan bahwa jumlah korban jiwa sebenarnya berada dalam kisaran "ratusan".
Ketika ditanya tentang jumlah pasti demonstran yang meninggal, Araghchi menyatakan bahwa angka tersebut akan segera diumumkan. Sampai saat ini, pihak berwenang Iran belum memberikan angka resmi mengenai jumlah korban jiwa maupun orang yang ditahan.
Di sisi lain, Human Rights Activists News Agency (HRANA), sebuah organisasi yang berbasis di Amerika Serikat, memperkirakan bahwa setidaknya 2.500 orang telah kehilangan nyawa, termasuk para demonstran dan anggota keamanan, serta lebih dari 1.100 orang mengalami luka-luka.
Selain itu, kelompok tersebut melaporkan bahwa lebih dari 18.000 orang telah ditangkap. Namun, angka-angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. Saat diwawancarai oleh Fox News, Araghchi ditanya tentang pesan yang ingin disampaikannya kepada Trump, dan ia mengungkapkan, "Jangan mengulangi kesalahan yang sama seperti yang Anda lakukan pada bulan Juni."
"Pesan saya adalah: di antara perang dan diplomasi, diplomasi adalah jalan yang lebih baik, meskipun kami tidak memiliki pengalaman positif apa pun dengan AS. Namun demikian, diplomasi tetap jauh lebih baik dibandingkan perang," katanya.