Wajah Asli Mumi Mesir yang Menjerit Direkonstruksi Setelah 3.500 Tahun, Begini Wujudnya
Ilmuwan merekonstruksi wajah mumi Mesir berusia 3.500 tahun yang dikenal sebagai "Screaming Woman."
Ilmuwan baru-baru ini berhasil merekonstruksi wajah asli seorang mumi Mesir kuno yang dikenal sebagai "Screaming Woman" atau "Wanita yang Menjerit.” Ia diduga meninggal sekitar 3.500 tahun lalu.
Mumi ini pertama kali ditemukan pada tahun 1935 di Deir Elbahari, Mesir, di dalam makam keluarga arsitek kerajaan, Senmut. Ciri unik dari mumi ini adalah mulutnya yang terbuka lebar, menimbulkan spekulasi bahwa ia mungkin meninggal dalam penderitaan yang luar biasa.
Mengutip PenNews, Kamis (22/8), Cicero Moraes, seorang ahli grafis dari Brasil, memimpin proyek rekonstruksi ini. Menggunakan teknik rekonstruksi wajah yang menggabungkan pendekatan tradisional dengan data dari pemindaian CT, Moraes berhasil menciptakan beberapa versi wajah mumi tersebut.
Salah satunya menampilkan wajah yang lebih objektif dengan mata tertutup dan dalam skala abu-abu, sementara versi lain menunjukkan penampilan warna-warni yang lebih subyektif, lengkap dengan wig yang dikenakan mumi saat dikuburkan.
Pada saat yang bersamaan, penelitian terbaru yang dilakukan oleh Sahar Saleem dari Universitas Cairo mengungkapkan bahwa ekspresi wajah menjerit dari mumi ini kemungkinan besar disebabkan oleh kejang kadaverik, sebuah kondisi yang membuat otot-otot tubuh mengunci dalam posisi terakhir mereka sebelum kematian.
Ini berarti wanita ini kemungkinan besar meninggal dalam penderitaan yang hebat. Penelitian lebih lanjut mengungkap bahwa mumi ini diawetkan dengan bahan-bahan mahal seperti juniper dan frankincense, yang menunjukkan status sosial yang tinggi dari wanita ini.
Mumi ini juga mengenakan wig yang dirawat dengan kristal kuarsa, magnetit, dan albite untuk mempertahankan warna hitam yang dianggap melambangkan masa muda di Mesir kuno. Meskipun nama wanita ini tidak tertera di peti matinya, lokasi penguburannya dekat dengan kuil mortuarium ratu besar Hatshepsut menunjukkan bahwa dia mungkin adalah anggota keluarga dekat Senmut, arsitek kuil tersebut yang juga dikabarkan sebagai kekasih sang ratu.
Rekonstruksi wajah ini merupakan bagian dari upaya para ilmuwan untuk memahami lebih lanjut tentang kehidupan dan kematian masyarakat Mesir kuno, serta memberikan wajah yang lebih manusiawi pada tokoh-tokoh sejarah yang telah lama menjadi misteri.