Sebuah rekonstruksi digital menghidupkan kembali wajah seorang wanita Mycenaean yang hidup lebih dari 3.500 tahun lalu. Memberikan sekilas gambaran yang luar biasa menyentuh hati tentang dunia Yunani kuno, jauh sebelum zaman Homer atau Perang Troya.
Proyek ambisius ini diluncurkan atas inisiatif Dr. Emily hauser, sejarawan dan dosen Studi Klasik di Universitas Exeter. Menurutnya, gambar final dari rekonstruksi tersebut sangat menarik dan “sangat modern.”
Rekonstruksi yang tampak seperti aslinya ini berakar pada ilmu forensik dan arkeologi. Dimulai dengan replika tengkorak wanita dari tanah liat pada 1980 oleh peneliti dari Universitas Manchester, menjadi salah satu pelopor awal rekonstruksi wajah.
Seniman digital asal Spanyol, Juanjo Ortega G, menggunakan model ini sebagai dasar penggambaran terbaru. Menyempurnakan detail dengan bantuan temuan DNA kontemporer, analisis kerangka, dan data dari makam itu sendiri.
Advertisement
Dilansir Ancient Origins, Senin (7/4), terobosan terbaru studi genetika mengklarifikasi dua kerangka yang ditemukan di satu ruang pemakaman adalah milik saudara kandung. Berkebalikan dengan asumsi sebelumnya yang percaya bahwa wanita dan pria di liang pemakaman adalah pasangan.
Wanita tersebut diperkirakan berasal dari abad ke-17 dan ke-16 SM. Pemakamannya meliputi barang-barang kuburan berstatus tinggi, yakni topeng emas yang terbuat dari elektrum, dan tiga pedang. Awalnya, barang-barang tersebut dikaitkan dengan pria di sampingnya. Namun kini, dianggap milik wanita itu sendiri.
Sisa-sisa kerangka wanita tersebut juga menunjukkan bukti adanya radang sendi di tulang belakang dan tangannya. Menurut peneliti, peradangan tersebut disebabkan oleh penenunan yang ekstensif, yang saat itu menjadi tugas paling menguras tenaga namun umum bagi kaum hawa.
Hauser mengaitkan dengan puisi epic iliad, ia mencatat, “Itu adalah pengingat akan ketegangan fisik yang dialami wanita pada masa itu, seperti Helen dalam Iliad, yang digambarkan sedang menenun.”
Advertisement
Wajah yang direkonstruksi adalah wajah wanita yang tenang dan berwibawa, citranya memicu refleksi ulang tentang agensi wanita di peradaban kuno.
“Ini adalah wajah yang dapat menginspirasi legenda. Seorang wanita yang layak dikenang, bukan sebagai bayangan para pria pada masanya, tetapi sebagai tokoh utama dalam kisahnya sendiri,” kata Hauser.
Meskipun makam tersebut pertama kali digali pada 1950-an, baru sekarang orang bisa “melihat” rupa di balik jenazah tersebut. Peralatan digital dan kemajuan ilmiah membantu cendekiawan seperti Hauser, menjembatani kesenjangan antara mitos dan sejarah.
“Rekonstruksi digital semacam ini meyakinkan kita bahwa mereka adalah orang-orang nyata,” kata dia. “Jadi ini adalah cara yang luar biasa untuk menghubungkan pengalaman wanita nyata dengan mitos dan kisah kuno.”
Mycenae sendiri tampak penting dalam mitologi Yunani. Menurut Homer, kota tersebut diperintah oleh Raja Agamemnon, pemimpin pasukan Yunani selama perang Troya. Terletak di sebuah bukit sederhana di antara dua bukit yang lebih besar di Dataran Argolid di wilayah Peloponnesos, Yunani. Situs tersebut dulunya merupakan jantung peradaban Zaman Perunggu yang kuat.
Berkat kemajuan dalam antropologi forensik, pengurutan genetik, penanggalan radiokarbon, dan rendering 3D, peneliti kini mampu merekonstruksi wajah dan kehidupan dengan kejelasan yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey