Temuan Aneh Tapi Nyata: Pasta Gigi dari Rambut dan Wol Domba
Penelitian terbaru menunjukkan keratin mampu melindungi sekaligus memperbaiki kerusakan gigi tahap awal dengan hasil yang dinilai lebih efektif.
Peneliti dari King’s College London menemukan terobosan baru dalam dunia kedokteran gigi yang berpotensi menggeser peran fluorida sebagai pelindung utama enamel. Bahan tersebut adalah keratin, protein alami yang terdapat pada rambut, kulit, kuku manusia, dan wol domba.
Selama ini, fluorida dikenal mampu memperkuat enamel dan membuat gigi lebih tahan terhadap asam dari plak maupun bakteri penyebab kerusakan. Namun, penelitian terbaru menunjukkan keratin mampu melindungi sekaligus memperbaiki kerusakan gigi tahap awal dengan hasil yang dinilai lebih efektif.
“Kita memasuki era baru di mana bioteknologi memungkinkan kita memulihkan fungsi biologis menggunakan bahan alami dari tubuh sendiri,” kata Sherif Elsharkawy, peneliti senior sekaligus konsultan prostodontik di King’s College London, dikutip dari NYPost, Kamis (14/8).
Potensi Jadi Pasta Gigi Baru
Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Advanced Healthcare Materials, tim peneliti mengekstrak keratin dari wol domba.
Saat diaplikasikan pada permukaan gigi, keratin bereaksi dengan mineral yang terdapat alami di air liur dan membentuk lapisan kristal menyerupai enamel. Lapisan ini terus menarik ion kalsium dan fosfat, sehingga perlahan membangun kembali permukaan gigi yang rusak.
Berbeda dengan jaringan tubuh lain, enamel gigi tidak memiliki sel hidup sehingga tidak bisa tumbuh kembali secara alami. Inilah yang membuat temuan keratin menjadi kabar baik bagi upaya regenerasi gigi.
Para peneliti membayangkan keratin bisa diolah menjadi pasta gigi sehari-hari atau gel yang diaplikasikan oleh dokter gigi. Jika pengembangan dan kemitraan industri berjalan lancar, produk ini diperkirakan dapat dipasarkan dalam dua hingga tiga tahun mendatang.
Ramah Lingkungan dan Minim Risiko
Sara Gamea, penulis utama studi ini, menyebut keratin sebagai alternatif ramah lingkungan karena bisa diperoleh dari limbah biologis seperti rambut atau kulit.
“Selain berkelanjutan, keratin menghilangkan kebutuhan resin plastik tradisional yang selama ini digunakan dalam perawatan gigi restoratif, yang sifatnya beracun dan kurang tahan lama,” ujarnya.
Ahli kesehatan gigi menyambut temuan ini sebagai terobosan penting di bidang kedokteran gigi regeneratif — cabang ilmu yang fokus memanfaatkan mekanisme alami tubuh ketimbang bahan sintetis.
Masalah Global
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, kerusakan gigi memengaruhi hampir 90 persen orang dewasa berusia 20–64 tahun dan sekitar 46 persen anak-anak.
Penyebabnya beragam, mulai dari kebersihan mulut yang buruk, konsumsi gula berlebih, makanan dan minuman asam, penuaan, hingga kondisi medis seperti mulut kering, refluks asam lambung, dan kebiasaan menggertakkan gigi.
Jika terbukti aman dan efektif, teknologi berbasis keratin ini diharapkan menjadi solusi baru untuk melindungi jutaan orang dari gigi berlubang dan kerusakan enamel.