Penelitian Terbaru Tepis Anggapan Sinyal 5G Berdampak Perubahan Genetik
Tidak ada dampak signifikan dari paparan sinyal 5G.
Eksperimen terbaru yang dilakukan di Jerman menegaskan bahwa paparan sinyal 5G tidak memicu perubahan genetik pada sel manusia. Penelitian ini dilakukan oleh tim ilmuwan di Constructor University dan disebut sebagai studi paling ketat sejauh ini dalam menguji efek biologis jaringan 5G terhadap tubuh.
Dalam percobaan, dua jenis sel kulit manusia — keratinosit dan fibroblas — disinari dengan gelombang elektromagnetik frekuensi tinggi hingga 40,5 GHz selama dua durasi berbeda: dua jam dan 48 jam.
Tingkat paparan yang digunakan bahkan sepuluh kali lebih tinggi dari batas aman yang direkomendasikan. Hasilnya, tidak ditemukan perubahan signifikan pada ekspresi gen maupun pola metilasi DNA.
“Bahkan dalam kondisi ekstrem, tidak ada perubahan berarti yang kami temukan,” tulis tim peneliti dalam laporan resmi dikutip IFLScience, Selasa (20/5).
Mereka juga menyertakan kelompok kontrol yang terpapar sinar UV dan sham exposure untuk memastikan validitas hasil. Hanya kelompok UV yang menunjukkan perubahan sebagaimana diperkirakan.
Studi ini menjawab keraguan publik yang menguat sejak pandemi COVID-19, ketika teori konspirasi soal 5G dan radiasi menjadi viral di media sosial. Sinyal 5G termasuk dalam kategori non-ionizing, tidak cukup kuat untuk merusak DNA atau memicu kanker — berbeda dengan sinar-X atau radiasi nuklir.
Meski WHO telah menyatakan 5G aman sejak 2010, perdebatan publik terus berlangsung, sebagian besar karena kurangnya studi terkontrol berskala besar. Tim peneliti berharap studi ini mengakhiri kekhawatiran tak berdasar dan memperkuat posisi sains dalam menjawab spekulasi liar.
“Topik ini tetap hangat di media dan politik, padahal sudah ada evaluasi menyeluruh dari lembaga internasional. Kami harap hasil ini bisa menjadi acuan akhir,” kata mereka.