Tanpa Telinga, Sel Tubuh Bisa “Mendengar”, Ini Bukti Ilmiahnya
Penelitian terbaru dari Kyoto University mengungkap bahwa gelombang suara mampu mengubah perilaku gen dalam sel tubuh.
Penelitian terbaru dari Kyoto University mengungkap bahwa gelombang suara mampu mengubah perilaku gen dalam sel tubuh.
Studi ini menunjukkan bahwa paparan suara, bahkan tanpa keterlibatan organ pendengaran seperti telinga, dapat memengaruhi ekspresi lebih dari 150 gen, membuka jalan bagi potensi terapi berbasis akustik di masa depan.
Dipimpin oleh Dr. Masahiro Kumeta, tim ilmuwan Jepang memaparkan kultur sel tikus pada frekuensi 440 Hz dan 14 kHz, serta suara white noise, menggunakan sistem khusus yang memindahkan gelombang suara langsung ke wadah kultur.
Hasilnya mengejutkan. Sel-sel menunjukkan respons signifikan dalam aktivitas gen, termasuk gen yang berkaitan dengan pembentukan sel lemak.
"Karena suara adalah kekuatan fisik yang sangat umum di alam, kami tertarik untuk melihat bagaimana pengaruhnya terhadap sistem biologis yang belum memiliki sistem pendengaran," kata Kumeta dikutip IFLScience, Kamis (17/4).
Salah satu temuan utama adalah bahwa suara mampu menekan diferensiasi adiposit—proses pembentukan sel lemak. Selain itu, efektivitas suara tergantung pada bentuk gelombang dan durasi paparan, di mana gelombang sinus dan durasi lebih dari 24 jam memicu respons genetik paling kuat.
Kumeta menekankan bahwa ini bukan berarti suara bisa langsung dijadikan terapi kesehatan, namun temuan ini memperkuat hipotesis bahwa suara dapat dimanfaatkan secara medis di masa depan.
“Paparan suara bisa menjadi alat non-invasif yang murah, aman, dan langsung untuk mengatur respons sel,” ujarnya.
Respon sel juga ditemukan berbeda tergantung pada frekuensi, bentuk gelombang, dan bahkan kerapatan populasi sel. Fenomena ini menunjukkan kompleksitas interaksi antara gelombang akustik dan struktur biologis pada tingkat seluler.
Peneliti juga menyinggung studi terdahulu yang menunjukkan white noise bisa menembus jaringan hingga mencapai janin domba, memperkuat argumen bahwa efek suara dapat terjadi bahkan tanpa sistem pendengaran yang matang.
Walaupun masih berada di tahap eksperimental, studi ini membuka wacana baru dalam biofisika dan terapi medis. Para ilmuwan berharap temuan ini mendorong lebih banyak penelitian lintas disiplin untuk mengeksplorasi potensi suara sebagai sarana penyembuhan atau pengaturan fisiologis non-farmakologis.