Ada Penelitian sebut Tikus Bisa Dengar Suara Kumisnya Sendiri
Walaupun suara tersebut sangat halus dan tidak dapat didengar oleh manusia, tikus memiliki kemampuan untuk mendengarnya dengan sangat baik.
Para ilmuwan dari Weizmann Institute of Science telah menemukan bahwa tikus tidak hanya memanfaatkan kumisnya (vibrissae) untuk meraba, tetapi juga untuk mendengar suara yang timbul ketika kumis tersebut menyentuh berbagai permukaan.
Penelitian ini memberikan pemahaman baru tentang cara kerja sistem sensorik tikus yang bersifat multimodal, yaitu dengan mengintegrasikan indera peraba dan pendengaran dalam memahami lingkungan di sekitarnya.
Menurut laman Earth yang dilansir pada Jumat (23/5), sebelumnya pergerakan kumis tikus dianggap hanya sebagai alat untuk meraba, mirip dengan jari manusia yang digunakan untuk merasakan tekstur permukaan.
Namun, hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa saat kumis tikus menyentuh permukaan seperti daun, kain, atau aluminium foil, kumis tersebut menciptakan getaran halus yang menghasilkan suara ultrasonik. Meskipun suara ini sangat lemah dan berada di luar jangkauan telinga manusia, tikus memiliki kemampuan yang sangat baik untuk mendeteksinya.
Para peneliti juga merekam aktivitas di korteks auditori, yaitu bagian otak tikus yang bertanggung jawab dalam memproses suara. Mereka menemukan bahwa area ini menunjukkan tingkat aktivitas yang tinggi setiap kali kumis tikus bersentuhan dengan permukaan, bahkan ketika jalur saraf somatosensorik yang mengatur sentuhan diblokir.
Hal ini menunjukkan bahwa tikus tetap "menyadari" adanya kontak meskipun tidak dapat merasakannya, karena suara dari gesekan kumis sudah cukup untuk memberikan informasi mengenai lingkungan sekitar.
Untuk mengonfirmasi temuan ini, tim peneliti mengembangkan sebuah model kecerdasan buatan (AI) yang dilatih dengan data suara dan rekaman aktivitas otak tikus. Hasilnya, model tersebut berhasil mengidentifikasi jenis permukaan hanya berdasarkan pola suara ultrasonik yang dihasilkan oleh kumis.
Fenomena ini menunjukkan bahwa otak tikus mampu menguraikan informasi yang spesifik hanya dari suara yang dihasilkan akibat interaksi fisik kumis dengan objek-objek di sekitarnya.
Penemuan ini menimbulkan pertanyaan baru mengenai pemanfaatan kumis oleh hewan lain. Kucing, anjing, ferret, dan berbagai hewan pengerat lainnya juga memiliki vibrissae yang sangat peka.
Saat ini, penelitian lebih lanjut sedang dilakukan untuk menyelidiki apakah tikus mampu mengenali suara yang lebih rumit atau belajar mengidentifikasi objek baru hanya melalui suara gesekan kumis.
Temuan ini juga membuka peluang untuk pengembangan teknologi sensorik biomimetik, yaitu teknologi yang meniru cara kerja sistem sensorik hewan dan dapat diterapkan dalam bidang robotika serta perangkat lunak deteksi lingkungan. Dengan demikian, cara tikus "mendengarkan" kumisnya sendiri berpotensi menjadi inspirasi dalam menciptakan sistem sensorik inovatif di masa depan.