Terungkap, Ramuan Ajaib Bangsa Romawi Pakai Kotoran Manusia buat Obat, Khasiatnya Disebut Mujarab
Tim peneliti menemukan campuran yang terdiri dari kotoran manusia, minyak zaitun, dan thyme dalam konsentrasi tinggi.
Peneliti di Turki menemukan bukti arkeologis bahwa bangsa Romawi pernah menggunakan kotoran manusia sebagai bagian dari pengobatan.
Meski praktik tersebut telah lama disebut dalam teks kuno, ini menjadi bukti fisik pertama yang ditemukan, sebagaimana dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Journal of Archaeological Science: Reports.
Mengutip CNN, Selasa (31/3/2026), penulis utama studi, Cenker Atila dari Universitas Sivas Cumhuriyet, mengatakan temuan ini berawal saat ia meneliti botol kaca Romawi kuno, dikenal sebagai unguentaria di Museum Bergama.
Dari tujuh botol yang diteliti, hanya satu artefak dari kota kuno Pergamon yang memberikan hasil meyakinkan. Artefak tersebut diperkirakan berasal dari abad ke-2.
Setelah membuka penutup tanah liat dan mengambil sampel dari serpihan berwarna cokelat di dalam botol, tim peneliti menemukan campuran yang terdiri dari kotoran manusia, minyak zaitun, dan thyme dalam konsentrasi tinggi.
“Kami langsung mengenalinya sebagai ramuan medis yang digunakan oleh dokter Romawi terkenal, Galen,” kata Atila.
Galen, yang lahir di Pergamon dari keluarga Yunani terpandang, dikenal sebagai pelopor anatomi dan pernah melayani tiga kaisar Romawi. Karya-karyanya memengaruhi dunia medis selama sekitar 1.500 tahun.
“Menemukan langsung ramuan yang dijelaskan oleh Galen merupakan kejutan besar sekaligus sangat menggembirakan,” tambah Atila.
Praktik Kuno yang Kini Diakui Modern
Menurut sumber-sumber kuno, kotoran manusia dan hewan pernah digunakan untuk mengobati berbagai kondisi, mulai dari infeksi, peradangan, hingga gangguan reproduksi.
Peneliti mencatat bahwa pada masa itu, bahan-bahan tersebut tidak selalu dianggap menjijikkan, melainkan dipandang memiliki khasiat medis yang kuat.
Temuan ini juga menunjukkan bahwa praktik “transfer feses” yang kini dikenal dalam dunia medis modern, ternyata sudah dikenal sejak zaman kuno. Metode ini melibatkan pemindahan mikrobiota dari donor sehat ke pasien untuk tujuan pengobatan.
Saat ini, praktik tersebut bahkan telah mendapat persetujuan regulator di Amerika Serikat untuk menangani infeksi bakteri tertentu pada usus.
Atila menambahkan, botol kaca yang ditemukan awalnya kemungkinan digunakan untuk menyimpan parfum, namun kemudian dialihfungsikan sebagai wadah obat. Kandungan thyme di dalamnya berfungsi sebagai antibakteri sekaligus mengurangi bau.
“Ketika botol dibuka, tidak tercium bau yang mencolok,” ujarnya.
Sementara itu, sejarawan dari Universitas Oxford, Nicholas Purcell, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, menilai temuan tersebut memiliki dasar ilmiah yang kuat.
Menurutnya, praktik pengobatan semacam ini memang sudah dikenal dalam literatur Romawi, namun bukti arkeologis seperti ini memberikan penguatan yang penting.
Ia juga menduga botol tersebut mungkin ditemukan di dalam makam, kemungkinan milik seorang tabib atau pasien, yang selama ini sering diasumsikan hanya berisi parfum atau kosmetik.