Menguji Ketangguhan WiFi Gratis di Ruang Publik
Kami mencoba langsung bagaimana ketangguhan wifi gratis di ruang publik.
Selepas magrib, kami bergegas menuju stasiun Manggarai, Jakarta. Tujuannya hanya satu, mencoba dan membuktikan keberadaan wifi gratis yang berada di lokasi fasilitas publik. Perkara sepele, tapi perlu diuji kebenarannya. Seperti dilihat di iklan yang kerap disetel di layar sepanjang perjalanan commuter line Jabodetabek.
"Wifi gratis tinggal aktifkan," tulis di papan digital itu.
Kami pun menjajal. Mengaktifkan fitur Wifi di smartphone. Hasilnya, gawai tidak mendeteksi keberadaan sinyal hotspot gratis di sana. Bolak-balik mencari di wilayah stasiun tetap saja tak terdeteksi. Namun, pembuktian ini tak berhenti begitu saja.
Kereta Commuter kemudian membawa kami ke Stasiun Tanah Abang. Di sini, kami baru menemukan. Pada layar HP, terdeteksi ada sumber internet cuma-cuma dengan nama #WIFI-GRATIS.
Sayangnya begitu kami mencoba, sulit untuk menghubungkan. Sekali menyambung, internet gratis itu tidak berfungsi semestinya. Kami menduga karena padatnya orang yang berada di stasiun Tanah Abang sehingga berdampak terhadap jaringan yang tak optimal.
Keesokan harinya sekitar pukul 11.00 WIB, Stasiun Palmerah menjadi tujuan untuk mencoba kembali. Di sini, terus terang kami cukup terkejut lantaran kecepatan internet gratis yang ditawarkan di luar dugaan. Awalnya kami menduga hasilnya sama saja, namun internet tiba-tiba saja tersambung dengan nama #WIFI-GRATIS.
Tetapi sebelum menikmati jaringannya, provider milik #WIFI-GRATIS meminta untuk login terlebih dahulu. Tidak dengan memasukan alamat email, namun tinggal mengklik tombol yang tersedia. Setelahnya pengguna internet gratis akan disodorkan video iklan yang harus ditonton sampai selesai.
Saat sudah rampung, jaringan internet pun akan terhubung. Kami pun langsung saja mencoba menguji berapa kecepatan internet cuma-cuma ini dengan menggunakan aplikasi SpeedTest.
Hasilnya kecepatan unduh tembus di 116 Mbps dan unggah 39,9 Mbps. Begitu juga ketika kami lanjutkan perjalanan menaiki KRL hingga stasiun Cisauk, Tangerang. Di sana kecepatan unduh tembus di angka 67,4 Mbps dan unggah 36,5 Mbps.
Rani salah seorang pengguna KRL yang turun di Stasiun Palmerah bercerita jika ia terkadang menggunakan internet gratis yang disediakan di stasiun sambil menunggu kereta. Ia pun tak peduli seberapa kencang internet gratis tersebut. Yang jelas, bagi dia, lancar untuk komunikasi dan mengakses media sosial.
“Untuk Whatsappan aja sih dan paling lihat-lihat media sosial,” kata dia kepada Merdeka.com.
Selain di stasiun, kami mencoba bergeser ke wilayah perbelanjaan, seperti di Mall FX Sudirman. Di sini terdeteksi ada jaringan internet gratis yang disupport oleh Biznet. Hanya saja setiap 2 jam sekali internet akan putus dan meminta pengguna untuk login kembali tanpa harus menyertakan alamat email.
Untuk merasakan bagaimana kecepatan internetnya, kami pun melakukan uji coba. Hasilnya memang tidak sekencang di stasiun, tapi cukup baik. Data Oakla mencatat kecepatan internet gratis di wilayah FX Sudirman terpantau 24,2 Mbps. Maka tak heran, beberapa orang yang merdeka wawancarai di sebuah kafe, mengatakan memakai internet gratis ini setidaknya untuk mengerjakan pekerajaan.
“Lumayanlah bisa untuk kerja,” ujar Lutfi seorang pengguna internet gratis.
Kendati begitu, tidak semua orang merasakan pengalaman internet gratis yang menyenangkan di ruang publik.
Yuda (36) mengaku tidak terlalu sering menggunakan wifi gratis di fasilitas umum, kecuali Bandara. Kata dia, fasilitas internet gratis di Bandara berbeda jika dibandingkan dengan stasiun KRL atau di taman.
Terlebih, ia enggan bila ada wifi gratis yang mengharuskan login dan mendaftarkan emailnya. Menurutnya cara itu menyusahkan. Begitu pula dengan pengalaman yang dirasakan oleh Aisha (24). Mahasiswi dari kampus swasta di Jakarta ini mengaku jarang menggunakan wifi publik yang gratis.
“Sering lemot,” katanya.