Matahari Terbit dan Terbenam 16 Kali Setiap Hari, Ini Cara Astronot Tidur di Luar Angkasa
Tidur yang cukup juga penting bagi astronot yang sedang bertugas di stasiun luar angkasa.
Tidur yang cukup juga penting bagi astronot yang sedang bertugas di stasiun luar angkasa.
Matahari Terbit dan Terbenam 16 Kali Setiap Hari, Ini Cara Astronot Tidur di Luar Angkasa
Ketika sedang berada di luar angkasa, waktu di sana berjalan lebih cepat dibandingkan di Bumi.
Hal itu dirasakan oleh astronaut yang sedang berada di Stasiun Antariksa Internasional (ISS).
Mereka bisa mengorbit Bumi setiap 90 menit.
Hasilnya, astronaut yang berada di ISS merasakan 45 menit keadaan penuh cahaya dan disusul dengan 45 menit keadaan gelap.
Hal tersebut akan berulang selama 16 kali selama 1 hari di Bumi.
Lantas, bagaimana mereka istirahat? Berikut tipsnya.
Mengutip NDTV, Selasa (19/3), Badan Antariksa Eropa (ESA) telah melakukan dua eksperimen untuk menunjang waktu tidur astronaut Andreas Mogensen yang pernah berada di ISS dalam Misi Huginn.
Eksperimen pertama yang dijalani Mogensen adalah eksperimen Cahaya Sirkadian. Dalam eksperimen ini, Mogensen menggunakan lampu yang diciptakan oleh tim SAGA Space Architects untuk mendukung ritme sirkadian astronaut di luar angkasa.
Ritme sirkadian merupakan pola perilaku harian, baik kondisi fisik maupun mental, yang diproduksi secara alami oleh tubuh sebuah makhluk hidup yang mengikuti siklus sekitar 24 jam.
Ritme sirkadian ini dapat dipengaruhi oleh cahaya yang diterima dan suhu tubuh makhluk hidup.
Cahaya yang diterima dapat mempengaruhi hormon melatonin—hormon yang mengatur pola tidur—sehingga dapat menentukan kapan waktu yang tepat bagi tubuh untuk beristirahat dan tidur.
Mogensen memasang lampu tersebut di dalam kabin krunya. Ketika sudah memasuki waktu tidur, lampu tersebut akan memancarkan cahaya berwarna merah untuk mensimulasikan cahaya ketika matahari terbenam. Ketika bangun tidur, cahaya tersebut akan berganti menjadi warna biru, seperti cahaya ketika pagi hari.
Warna-warna yang dipancarkan memang dipilih untuk sebisa mungkin meniru cahaya 24 jam di Bumi yang tidak bisa didapatkan di luar angkasa, dengan warna terang pada waktu kerja dan cahaya yang lebih redup ketika waktu tidur.
Selain pengaturan waktu tidur, masalah dalam kualitas waktu tidur astronaut juga datang dari cara tidur dari para astronaut. Alih-alih tidur dengan berbaring, para astronaut bisa tidur di dalam kantong tidur yang diikat ke tembok yang ada di ruang tidur.
Eksperimen kedua yang dijalani oleh Mogensen adalah eksperimen Tidur di Orbit (Sleep in Orbit).
Dalam eksperimen ini, Mogensen mengenakan alat pengukur yang diletakkan di telinga (in-ear), dengan bentuk seperti earphone, ketika tidur.
Alat ini dikembangkan oleh para peneliti dari Universitas Aarhus, Denmark. Digunakan untuk mengukur elektroensefalogram dari otak Andreas.
Mogensen berangkat ke luar angkasa dalam Misi Huginn pada 26 Agustus 2023 dan mendarat kembali di Bumi pada 12 Maret 2024.
Mogensen menjadi pilot yang membawa Crew Dragon ke ISS dan, setelah sampai di sana, ia pun menjadi komanda dari ISS.
Selama di ISS, Mogensen melakukan lebih dari 30 eksperimen, seperti dengan memasang printer 3D di ISS dan pengambilan awan guntur dari ISS untuk semakin memahami iklim Bumi.