Ilmuwan Temukan Rahasia Emas Bisa Muncul dari Perut Bumi sebelum Ditambang
Peneliti temukan peran kompleks sulfur-emas yang bantu logam mulia ini naik ke permukaan lewat magma, pecahkan misteri geologi lama.
Emas ternyata lebih melimpah di kedalaman mantel bumi ketimbang di permukaan. Namun, bagaimana logam mulia ini bisa muncul ke permukaan selama jutaan tahun, masih jadi teka-teki. Hingga akhirnya, penelitian terbaru yang diumumkan pada 29 Desember 2024 berhasil mengungkap rahasianya.
Mengutip Earth, Jumat (28/2), tim peneliti internasional, termasuk ilmuwan dari University of Michigan, Tiongkok, Swiss, Australia, dan Prancis, menemukan bahwa emas terangkut ke atas berkat peran sulfur dalam sistem magma di zona subduksi.
Di kedalaman mantel bumi, tekanan dan suhu sangat ekstrem. Di sanalah emas lebih senang 'bersembunyi' daripada naik ke atas. Padahal, sepanjang sejarah, manusia berhasil menambang emas di permukaan. Fenomena ini membingungkan para geolog selama bertahun-tahun.
Proses seperti pencairan sebagian batuan dan pengaruh cairan kaya volatil sempat diduga berperan. Namun, mekanisme pastinya baru terungkap setelah studi ini mengungkap keterlibatan sulfur dalam bentuk kimia khusus.
Kunci dari misteri ini adalah terbentuknya kompleks emas-trisulfur di bawah zona vulkanik aktif. Kompleks ini mampu melarutkan emas dan membawanya naik bersama magma hingga mendekati permukaan.
Proses ini terjadi saat fluida kaya sulfur bertemu batuan mantel pada kedalaman 50 kilometer di zona subduksi. Sulfur membantu emas tetap terlarut, mencegahnya mengendap di mantel. Ketika magma naik, emas pun ikut terbawa.
“Semua gunung api aktif di dunia berdiri di atas atau dekat zona subduksi. Inilah lokasi yang terkait dengan cadangan emas terbesar di bumi,” ujar Adam Simon dari University of Michigan.
Eksperimen di Laboratorium
Untuk menguji teori ini, para ilmuwan melakukan eksperimen di laboratorium. Mereka menciptakan kondisi tekanan dan suhu seperti di kedalaman zona vulkanik.
Dari sini terlihat bagaimana emas berinteraksi dengan sulfur dan membentuk kompleks stabil yang mudah bermigrasi ke atas.
Hasil eksperimen ini kemudian digunakan dalam model termodinamika yang memprediksi perilaku emas di berbagai kondisi geologi.
Temuan ini membuka peluang baru bagi industri pertambangan. Fokus pencarian emas kini bisa diarahkan ke wilayah yang fluida geotermalnya kaya sulfur, terutama di kawasan cincin api Pasifik yang dipenuhi gunung api aktif.
Tak hanya emas, proses serupa juga berlaku bagi logam berharga lainnya. Dengan memahami pola migrasi logam, para ahli geologi bisa lebih efektif memetakan potensi tambang baru.