Eropa Diam-diam Punya Skenario Eksplorasi Bulan Tidak dengan NASA
Eropa punya rencana misi ke Bulan yang akan menggandeng mitra negara lain.
Badan Antariksa Eropa (ESA) tengah mengevaluasi rencana eksplorasi Bulan secara mandiri di tengah ketidakpastian yang melingkupi program Artemis milik NASA.
Langkah ini mengindikasikan pergeseran strategi besar-besaran dari Eropa yang selama ini menjadi mitra utama Amerika Serikat dalam proyek-proyek luar angkasa.
Selama puluhan tahun, ESA menjadi pilar kolaboratif dalam banyak misi internasional, termasuk Artemis yang bertujuan mengembalikan manusia ke Bulan.
Namun, perubahan kebijakan dalam pemerintahan AS—termasuk penundaan dan pengurangan anggaran eksplorasi—memicu kekhawatiran bahwa Eropa bisa terkena dampak jika program Artemis ditunda atau dibatalkan.
“Kami tetap menjadi mitra terpercaya bagi NASA. Tapi kami juga menyadari pentingnya misi otonom, termasuk yang berorientasi ke Bulan dan Mars,” ujar Didier Schmitt, Kepala Eksplorasi Masa Depan di ESA dikutip dari TheDailyGalaxy, Selasa (22/4).
ESA mulai menjajaki kerja sama yang lebih luas dengan negara lain seperti Jepang dan India untuk mendiversifikasi kemitraannya.
Meskipun belum resmi mengumumkan misi “gaya Artemis” buatan Eropa, ESA mengandalkan rekam jejaknya dari program-progam seperti Ariane 5, Hermès, dan laboratorium luar angkasa Columbus.
Potensi dukungan dari Komisi Eropa juga menjadi kunci. Dengan mengonsolidasikan kekuatan negara-negara Uni Eropa, ESA berharap bisa memperoleh pendanaan serta sinergi dari sektor pertahanan Eropa yang kini berkembang cepat.
Dukungan politik dan finansial ini juga diharapkan bisa membangkitkan antusiasme publik terhadap eksplorasi luar angkasa.
Namun, tantangan teknis masih signifikan. Roket Ariane 6 hanya mampu membawa sekitar 9 ton muatan menuju Bulan—jauh dari 40 ton yang dibutuhkan untuk pendaratan manusia.
ESA kemungkinan harus meningkatkan performa Ariane 6 atau mengembangkan sistem peluncuran berat baru. Sebagai langkah awal, ESA telah memulai program Large Capacity Reusable Spacecraft (LCRS) dan menunjuk Thales Alenia Space serta The Exploration Company untuk mengembangkan teknologi misi Bulan mendatang.
Dengan meningkatnya ambisi China dan Rusia dalam ekspedisi luar angkasa, langkah ESA ini mencerminkan upaya untuk mempertahankan peran strategis Eropa dalam kompetisi antariksa global yang semakin intensif.