China dan Rusia Disebut Ancam Starlink, Bahkan Bisa Hancurkan Konstelasi
Rusia dan China diduga mengembangkan kemampuan untuk mengganggu satelit Starlink.
Sebuah laporan terbaru dari Secure World Foundation (SWF) mengungkapkan bahwa Rusia dan China diduga mengembangkan kemampuan untuk mengganggu atau menghancurkan konstelasi satelit Starlink milik SpaceX.
Mengutip Space, Kamis (17/4), laporan setebal 316 halaman ini menyoroti meningkatnya ketergantungan global terhadap infrastruktur luar angkasa dan potensi konflik yang dapat berdampak luas di Bumi.
Starlink, jaringan satelit orbit rendah yang menyediakan internet berkecepatan tinggi, telah digunakan oleh Ukraina sejak invasi Rusia pada 2022 untuk menjaga konektivitas dan komunikasi militer.
Namun, sejak Mei 2024, militer Ukraina melaporkan gangguan layanan yang diduga akibat upaya Rusia menguji sistem peperangan elektronik canggih.
Laporan SWF menyebutkan bahwa Rusia menggunakan sistem "Tobol" untuk mengganggu sinyal Starlink di wilayah timur Ukraina.
Selain itu, Rusia dikabarkan mengembangkan sistem baru bernama "Kalinka" yang dirancang untuk mendeteksi dan mengganggu komunikasi antara satelit Starlink dan perangkat di darat, termasuk drone militer Ukraina.
Sementara itu, China juga menunjukkan kekhawatiran terhadap potensi militer Starlink. Para peneliti militer China telah menerbitkan strategi untuk menghancurkan konstelasi Starlink jika dianggap mengancam keamanan nasional.
Beijing juga dilaporkan mengembangkan alat dan algoritma untuk melacak dan memantau jaringan satelit seperti Starlink.
Laporan ini memperingatkan bahwa konflik di luar angkasa dapat memiliki dampak jangka panjang yang signifikan di Bumi, mengingat ketergantungan masyarakat global terhadap data dan layanan berbasis satelit.
SWF menyerukan perlunya diskusi terbuka dan publik mengenai isu-isu ini untuk mencegah eskalasi konflik di luar angkasa.