Pemkab OKI Gencarkan Digitalisasi Pembelajaran di Ratusan Sekolah, Tingkatkan Kualitas Pendidikan

Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) meluncurkan program digitalisasi pembelajaran di 951 sekolah, menyalurkan IFP, laptop, dan akses internet satelit untuk pemerataan kualitas pendidikan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Pemkab OKI Gencarkan Digitalisasi Pembelajaran di Ratusan Sekolah, Tingkatkan Kualitas Pendidikan
Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) meluncurkan program digitalisasi pembelajaran di 951 sekolah, menyalurkan IFP, laptop, dan akses internet satelit untuk pemerataan kualitas pendidikan. (AntaraNews)

Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) secara resmi memulai program digitalisasi pembelajaran yang menyasar 951 sekolah di wilayahnya. Inisiatif ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui pemanfaatan teknologi modern. Program ini bertujuan mengatasi kesenjangan akses dan mutu pendidikan di berbagai pelosok OKI.

Bupati OKI, Muchendi Mahrezki, menyatakan bahwa program ini melibatkan penyediaan papan interaktif digital atau Interactive Flat Panel (IFP), laptop, serta akses internet satelit bagi sekolah-sekolah yang menghadapi kendala jaringan. Langkah ini menegaskan komitmen Pemkab OKI dalam memastikan setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dengan fasilitas terbaik. Digitalisasi ini diharapkan menjadi lompatan besar bagi kemajuan pendidikan daerah.

Pemanfaatan teknologi dalam proses belajar mengajar diarahkan untuk memperkuat literasi digital siswa dan mendorong metode pembelajaran yang lebih partisipatif. Muchendi menekankan pentingnya kesiapan dan kompetensi guru agar perangkat canggih ini tidak hanya menjadi pajangan. Digitalisasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak di era modern ini.

Bupati OKI, Muchendi Mahrezki, menegaskan bahwa esensi program digitalisasi pembelajaran bukan hanya pada penyediaan perangkat keras canggih. Fokus utama adalah bagaimana teknologi ini dapat dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan literasi digital siswa. Hal ini juga bertujuan mendorong metode pembelajaran yang lebih interaktif dan relevan dengan konteks zaman.

Muchendi menekankan bahwa kunci keberhasilan program ini terletak pada kesiapan dan kompetensi para guru. Tanpa guru yang cakap dalam mengoperasikan dan mengintegrasikan teknologi, perangkat canggih seperti Interactive Flat Panel (IFP) dan laptop tidak akan memberikan dampak maksimal. Oleh karena itu, pelatihan guru menjadi komponen krusial dalam inisiatif ini.

Pemerintah daerah menyadari bahwa anak-anak masa kini hidup di era digital yang serba cepat. Jika institusi pendidikan tidak mampu beradaptasi dengan perubahan ini, maka kualitas pendidikan akan tertinggal jauh. Digitalisasi pembelajaran, menurut Muchendi, adalah sebuah keniscayaan untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan masa depan.

Kepala Dinas Pendidikan OKI, M. Refly, menjelaskan bahwa perangkat digital telah didistribusikan ke 479 sekolah dasar negeri dan swasta serta 150 sekolah menengah pertama. Penyaluran ini merupakan tahap awal dari program digitalisasi pembelajaran yang lebih luas. Selain itu, tujuh sekolah yang berada di daerah terpencil dengan sinyal lemah telah mendapatkan dukungan internet berbasis satelit Starlink.

Refly menambahkan bahwa setelah perangkat diterima, sekolah-sekolah kini memasuki fase optimalisasi pemanfaatan teknologi tersebut. Untuk jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD), program ini akan dilaksanakan secara bertahap. Dari total 560 lembaga PAUD di OKI, 256 di antaranya telah menerima perangkat, sementara 304 sisanya ditargetkan menyusul pada tahun ini.

Optimalisasi perangkat baru dapat terjadi setelah terpasang di ruang kelas dan para guru mendapatkan pelatihan teknis yang memadai. Sejumlah guru yang sebelumnya telah mengikuti pelatihan di Jakarta kini dilibatkan sebagai narasumber. Mereka berbagi pengalaman terkait penggunaan smart board dan integrasi materi ajar berbasis digital kepada rekan-rekan guru lainnya di OKI.

Selain fokus pada digitalisasi pembelajaran, Bupati Muchendi Mahrezki juga menyoroti komitmen pemerintah daerah terhadap kesejahteraan pendidik. Pembayaran gaji guru non-PNS yang sebelumnya bergantung pada dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) kini dialihkan. Tanggung jawab pembayaran gaji tersebut sepenuhnya menjadi beban pemerintah daerah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Langkah ini menunjukkan upaya Pemkab OKI untuk memberikan kepastian finansial dan meningkatkan motivasi kerja bagi para guru non-PNS. Selain itu, pemerintah daerah juga melakukan penyesuaian gaji bagi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), termasuk PPPK paruh waktu. Penyesuaian ini dilakukan sesuai dengan kemampuan fiskal daerah, memastikan adanya keadilan dalam penggajian.

Pemerintah Kabupaten OKI juga menerapkan manajemen talenta berbasis kinerja dan prestasi dalam pengisian jabatan kepala sekolah. Kebijakan ini bertujuan untuk menempatkan pemimpin sekolah yang paling kompeten dan berdedikasi. Dengan demikian, diharapkan kualitas kepemimpinan dan pengelolaan sekolah dapat terus meningkat seiring dengan kemajuan digitalisasi pendidikan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi