Asal Usul Alam Semesta Bukan dari Teori Big Bang
Teori yang paling terkenal mengenai asal-usul alam semesta adalah Big Bang.
Sejak zaman awal peradaban modern di tahun 1500 Masehi, pertanyaan mengenai asal-usul alam semesta telah menjadi topik yang menarik dan penuh misteri untuk dijelajahi. Berbagai teori telah dikembangkan oleh ilmuwan dan filsuf untuk menjelaskan proses penciptaan alam semesta.
Salah satu teori yang paling terkenal adalah Big Bang, yang menyatakan bahwa alam semesta terbentuk dari sebuah ledakan besar. Teori ini pertama kali diajukan oleh Abbe Lemaitre pada tahun 1920-an, yang berpendapat bahwa alam semesta berasal dari gumpalan atom raksasa.
Diperkirakan, suhu dari gumpalan atom tersebut berkisar antara 10 milyar hingga 1 triliun derajat Celsius. Gumpalan atom ini meledak sekitar 15 milyar tahun yang lalu, dan sisa-sisa ledakan tersebut menyebar membentuk awan hidrogen.
Awan ini kemudian berkontribusi pada pembentukan bintang-bintang, yang selanjutnya mengakibatkan terbentuknya galaksi-galaksi. Teori ini didukung oleh berbagai pengamatan ilmiah, termasuk radiasi latar belakang kosmik dan distribusi unsur-unsur ringan di alam semesta.
Para astronom telah melakukan pengukuran mendalam terhadap radiasi elektromagnetik yang tersisa dari alam semesta muda, dan hasilnya sesuai dengan prediksi yang dihasilkan oleh teori Big Bang.
Hingga saat ini, teori ini dianggap sebagai gambaran yang paling akurat mengenai awal mula alam semesta kita. Akan tetapi, meskipun teori ini sangat kuat, kita menyadari bahwa teori Big Bang masih memiliki kekurangan.
Salah satu aspek yang belum terjawab adalah teka-teki mengenai momen paling awal dari alam semesta itu sendiri. Penelitian terbaru dalam bidang fisika teoretis menunjukkan adanya kemungkinan-kemungkinan baru yang menarik untuk diteliti lebih lanjut.
Ada sebuah hipotesis yang mengemukakan bahwa alam semesta mungkin tidak memiliki awal yang pasti, melainkan mengalami siklus bang-bounce yang berulang, baik sekali maupun tanpa henti.
Menurut informasi dari laman LiveScience pada Jumat (7/2), salah satu ide dalam teori ini adalah konsep ekpirotik, yang berasal dari kata dalam bahasa Yunani yang berarti "kebakaran besar".
Dalam pandangan ini, Big Bang bukanlah titik awal segala sesuatu, tetapi merupakan bagian dari suatu proses yang lebih luas.
Dari gagasan ekpirotik ini, muncul pula ide kosmologi siklis, yang berpendapat bahwa alam semesta mengalami siklus berulang antara ledakan besar (Big Bang) dan keruntuhan besar (Big Crunch), yang mungkin berlangsung selamanya.
Secara teknis, konsep tentang alam semesta yang terus berulang ini telah ada selama ribuan tahun dan lebih dahulu daripada fisika modern, namun teori string memberikan landasan matematika yang lebih solid untuk ide tersebut.
Meskipun sangat menarik, model siklus ini menghadapi tantangan besar dalam mencocokkan dengan pengamatan ilmiah, terutama radiasi latar belakang kosmik, yang merupakan jejak cahaya kuno yang terbentuk ketika alam semesta berusia 380.000 tahun.
Namun, penelitian terbaru yang diterbitkan pada Maret 2020 di jurnal Physical Review D oleh fisikawan Robert Brandenberger dan Ziwei Wang dari McGill University menunjukkan bahwa pada saat momen bounce atau "pantulan", ketika alam semesta menyusut ke titik kecil sebelum meledak kembali, ada kemungkinan untuk menyelaraskan model ini dengan data pengamatan.
Pada saat "pantulan" ini, ketika alam semesta berkontraksi hingga ukuran yang sangat kecil sebelum kembali ke keadaan Big Bang, para ilmuwan menemukan cara untuk menyusun ulang persamaan sehingga hasilnya sesuai dengan pengamatan yang telah dilakukan.
Hal ini menunjukkan bahwa fisika yang sangat kompleks pada era kritis ini dapat memungkinkan perubahan radikal dalam cara kita memahami waktu dan eksistensi alam semesta.