Apa Jadinya Jika Luar Angkasa Bisa Didengar? Ini Jawaban Ilmuwan
NASA ungkap suara unik dari lubang hitam hingga angin Mars lewat teknologi sonifikasi, mengubah data luar angkasa jadi “musik” yang bisa didengar.
Luar angkasa kerap digambarkan sebagai tempat yang benar-benar hening, seolah tidak ada satu pun suara yang bisa terdengar.
Namun, di balik kesunyian ini, para ilmuwan menemukan bahwa alam semesta ternyata menyimpan “musik” tersembunyi yang menakjubkan.
Penemuan ini terungkap berkat teknologi bernama sonifikasi, yakni proses mengubah data dari luar angkasa menjadi bunyi yang bisa didengar manusia.
Dari gelombang tekanan yang dipancarkan lubang hitam supermasif di gugus galaksi Perseus, hingga hembusan angin di Mars, hasil penelitian ini membuktikan bahwa ruang angkasa tidak sepenuhnya bisu.
Dikutip dari LiveScience, Rabu (13/8), temuan ini juga membuka cara baru untuk mengenal alam semesta, sekaligus memberi pengalaman unik bagi public termasuk penyandang tunanetra untuk “mendengar” jagat raya yang selama ini hanya terlihat lewat teleskop.
Kosong Tapi Tidak Sepi
Sebagian besar luar angkasa adalah ruang hampa, dengan jumlah partikel yang sangat sedikit. Bahkan di antara galaksi, rata-rata hanya ada kurang dari satu atom per meter kubik.
Kondisi ini membuat suara nyaris mustahil merambat, karena tidak ada udara atau medium lain yang bisa menghantarkannya.
“Kalau tidak ada gas atau medium, tidak ada suara,” kata Chris Impey, profesor astronomi di University of Arizona. Bahkan jika ada suara di galaksi lain, getarannya tak akan sampai ke Bima Sakti karena terhalang kekosongan kosmik.
Lubang Hitam yang “Menggeram”
Sementara di gugus galaksi Perseus, para ilmuwan menemukan lubang hitam supermasif yang memuntahkan gas panas. Proses ini menciptakan gelombang tekanan mirip gelombang suara.
Temuan ini terungkap dalam penelitian yang dipublikasikan pada 2003.
Penelitian itu menemukan bahwa nada yang dihasilkan adalah B flat rendah, 57 oktaf di bawah nada C tengah. Sederhananya, nada ini terlalu rendah untuk bisa didengar manusia.
Suara Angin dari Planet Lain
Beberapa wahana penjelajah Mars dilengkapi mikrofon khusus yang bisa merekam hembusan angin di Planet Merah.
Meski begitu, tipisnya atmosfer Mars membuat frekuensi suara jadi sangat rendah dan berada di luar jangkauan pendengaran manusia.
Venus pun diperkirakan memiliki suara angin yang sangat berbeda karena atmosfernya jauh lebih padat, namun pendaratan alat di planet panas itu masih menjadi tantangan besar.
Mengubah Data Jadi Musik Luar Angkasa
Sonifikasi menjadi cara kreatif untuk mengubah data astronomi menjadi suara yang bisa didengar publik.
Kimberly Arcand dari NASA’s Chandra X-ray Observatory mengatakan metode ini mampu membuat orang merasa lebih dekat dengan luar angkasa.
“Ada simfoni sunyi di alam semesta. Mengapa tidak kita ubah agar bisa kita dengar sendiri?” ujarnya.
Proyek ini juga membantu penyandang tunanetra memahami data ilmiah dengan cara yang lebih mudah diakses.