Kenapa Luar Angkasa Itu Hampa Udara? Begini Penjelasannya
Berikut jawaban mengapa luar angkasa hampa udara menurut ilmuwan.
Pernah lihat astronot di luar angkasa seperti melayang tanpa bobot? Mereka tidak jatuh atau terdorong ke mana-mana seperti di Bumi. Itu karena luar angkasa hampir sepenuhnya kosong—tidak ada udara, tidak ada angin, bahkan tekanannya sangat rendah sekali.
Menurut Live Science, Selasa (15/7), ruang angkasa sering disebut sebagai “ruang hampa hampir sempurna.” Artinya, di sana hampir tidak ada apa-apa. Tapi kenapa bisa begitu kosong?
Jackie Faherty, seorang ilmuwan di Museum Sejarah Alam Amerika, bilang ruang hampa bukan seperti penyedot debu raksasa yang menarik semua benda ke sana. Ia cuma benar-benar kosong karena hampir tidak ada materi di dalamnya. Dan kekosongan itu membuat tekanannya sangat rendah.
Di Bumi, kita dikelilingi udara yang menekan tubuh dari segala arah. Kita tidak merasakannya karena sudah terbiasa. Tapi di luar angkasa? Tidak ada udara sama sekali. Bahkan di lab tercanggih di Bumi, kita hanya bisa membuat “hampa udara” yang tidak pernah benar-benar sebersih dan sekosong luar angkasa.
Cameron Hummels, astrofisikawan dari Caltech, menjelaskan bahwa sebenarnya alam semesta rata-rata sangat jarang isinya. Menurut NASA, satu meter kubik di ruang angkasa hanya berisi sekitar 5,9 proton—itu partikel super kecil.
Tapi gravitasi bikin ini lebih menarik. Gravitasi itu gaya tarik antar benda. Kalau ada sedikit kumpulan materi di satu tempat, ia akan menarik materi lain ke arahnya. Semakin banyak terkumpul, tarikannya makin kuat.
Jadilah bintang, planet, dan galaksi terbentuk karena gravitasi mengumpulkan materi. Tapi akibatnya, area di antara semua benda itu malah jadi lebih kosong. Ini yang disebut “kekosongan kosmik”—ruang luas di antara bintang dan galaksi yang hampir tidak berisi apa-apa.
Awalnya, setelah Big Bang, semua materi tersebar lebih rata seperti kabut tipis. Tapi selama miliaran tahun, gravitasi menarik materi-materi itu menjadi gumpalan besar. Sisanya? Tinggal ruang kosong yang sangat luas.
Sebenarnya tidak sepenuhnya kosong. Di ruang antargalaksi, masih ada kurang dari satu atom per meter kubik. Itu artinya masih ada sesuatu, tapi sangat, sangat sedikit—jauh lebih hampa daripada ruang vakum tercanggih yang bisa kita buat di Bumi.
Dan menariknya lagi, alam semesta terus mengembang. Galaksi-galaksi makin jauh satu sama lain, membuat ruang kosong di antaranya jadi semakin luas.
Jackie Faherty bilang, “Apa yang normal di Bumi itu justru hal yang langka di alam semesta. Sebagian besar kosmos itu kosong dan sunyi.”
Jadi kalau lihat astronaut melayang-layang di stasiun luar angkasa, ingat: mereka benar-benar berada di tengah kekosongan raksasa yang tak terbayangkan luasnya. Begitulah keheningan dan keunikan ruang angkasa.