Algoritma Maut, AS Uji Coba Kekuatan AI dalam Serangan Rahasia ke Iran
Operasi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap Iran dilaporkan mendapatkan dukungan besar dari teknologi AI yang dikembangkan oleh Anthropic.
Presiden Donald Trump telah mengeluarkan instruksi kepada seluruh lembaga federal di Amerika Serikat untuk segera menghentikan penggunaan teknologi dari perusahaan kecerdasan buatan (AI) bernama Anthropic.
Perintah ini muncul setelah ketegangan yang signifikan antara Departemen Pertahanan AS, atau Pentagon, dengan perusahaan rintisan tersebut.
Dalam sebuah unggahan panjang di platform Truth Social pada 27 Februari 2026, Trump menegaskan bahwa semua instansi pemerintah harus segera menghentikan penggunaan teknologi yang dikembangkan oleh Anthropic.
Meskipun demikian, ia memberikan waktu transisi selama enam bulan bagi lembaga-lembaga strategis, termasuk Departemen Pertahanan, untuk sepenuhnya menghapus ketergantungan mereka pada produk-produk Anthropic, seperti chatbot Claude.
Menurut laporan dari Engadget pada 2 Maret 2026, instruksi untuk memboikot teknologi ini menimbulkan kontroversi, terutama karena muncul bersamaan dengan operasi militer besar-besaran.
Berdasarkan informasi eksklusif dari The Wall Street Journal (WSJ), hanya beberapa jam setelah unggahan Trump, Amerika Serikat melancarkan serangan udara besar ke Iran.
Ironisnya, laporan tersebut mengungkapkan bahwa operasi militer tersebut sangat dibantu oleh perangkat AI yang dimiliki oleh Anthropic.
Situasi ini menunjukkan betapa dalamnya integrasi teknologi AI dari Anthropic dalam infrastruktur pertahanan AS saat ini.
Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai dampak dari keputusan Trump terhadap efektivitas operasi militer yang sedang berlangsung, serta implikasi lebih luas bagi penggunaan teknologi AI dalam konteks pertahanan nasional.
Claude Punya Catatan di Berbagai Operasi Militer
Sebagai informasi, penggunaan AI Anthropic dalam operasi militer bukanlah hal yang baru bagi Gedung Putih.
Sebelumnya, Wall Street Journal melaporkan bahwa model AI Claude berperan penting dalam penangkapan mantan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro.
Meskipun memiliki rekam jejak yang baik dalam mendukung misi lapangan, tampaknya ada ketidaksepakatan mendasar antara kebijakan perusahaan Anthropic dan kebutuhan Departemen Pertahanan.
Hal ini menjadi faktor utama yang memicu keretakan hubungan antara keduanya.
Dalam konteks tersebut, ketidakcocokan antara tujuan strategis kedua pihak menunjukkan tantangan yang dihadapi ketika teknologi canggih diintegrasikan ke dalam operasi militer.
Keterlibatan AI dalam misi-misi penting mengharuskan adanya keselarasan antara inovasi teknologi dan kebijakan pemerintah. Dengan demikian, penting bagi kedua belah pihak untuk menemukan titik temu agar kerjasama dapat berjalan dengan efektif dan efisien.
Pikirkan Opsi Anthropic
Sebagai langkah antisipasi, Departemen Pertahanan AS dilaporkan mulai mempertimbangkan alternatif AI untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh Anthropic.
Saat ini, pemerintah telah mencapai kesepakatan dengan xAI yang dimiliki oleh Elon Musk dan OpenAI untuk mengintegrasikan model-model mereka ke dalam jaringan internal agen federal.
Namun, proses transisi ini diperkirakan tidak akan berlangsung cepat. Para pakar teknologi yang dikutip oleh WSJ menyatakan bahwa diperlukan waktu berbulan-bulan untuk menggantikan sistem Claude dengan model AI yang baru tanpa mengganggu stabilitas operasional keamanan nasional.