Sosok Muhammad Djamil Djambek Asal Bukittinggi, dari Preman yang Ditakuti hingga Jadi Ahli Ilmu Falak
Tokoh besar ini dikenal sebagai sosok pembaru Islam di abad ke-20 yang juga peduli terhadap pendidikan Islam khususnya di Tanah Minangkabau.
Daerah Minangkabau bukan hanya terkenal dengan keanekaragaman budaya dan tradisinya yang masih melekat di setiap diri masyarakat. Lebih dari itu, Minangkabau juga melahirkan tokoh-tokoh Islam yang tersohor dan menjadi pelopor pembaharuan.
Sebut saja namanya Muhammad Djambil Djambek, ia adalah seorang yang paling terkenal dan cukup tersohor di nagarinya. Selama hidupnya, ia tidak pernah berhenti untuk selalu belajar hingga dirinya dikenal sebagai tokoh pembaharuan Islam di era abad 20.
Banyak ilmu-ilmu penting ia salurkan di Tanah Minangkabau, salah satunya ilmu falak yang ia pelajari ketika berada di Tanah Suci Mekkah. Selain itu, ia juga peduli terhadap pendidikan Islam di sana, semangat pembaruannya tidak ada henti-hentinya.
Seperti apa sosok Djambil Djambek sang tokoh pembaharuan Islam? Simak informasi selengkpanya yang dirangkum merdeka.com dari berbagai sumber berikut ini.
Profil Singkat
Muhammad Djamil Djambek lahir di Kurai Bukittinggi pada 4 Januari 1863 dari pasangan Muhammad Saleh Datek Maleko atau dikenal dengan "Inyiak kapalo Jambek" dan sang ibunda yang merupakan kalangan bangsawan Sunda. Ayahnya terkenal mendidik anak dengan ketegasan dan kedisiplinan dalam menjalankan nilai Islam.
Syekh Djamil Djambek mengawali pendidikan di sekolah rendah Gubernement di Bukittinggi. Ia memutuskan untuk melanjutkan untuk melanjutkan pendidikan lanjutan dan memilih belajar ilmu sihir dari Batak dan beberapa orang di Minangkabau.
Dikenal sebagai Sosok Preman
Kehidupannya yang berantakan, ia dikenal sebagai sosok parewa atau "preman", namanya pun cukup membuat takut lawan-lawannya. Namun, semua kehidupan buruknya itu berubah berkat peran Tuanku Kayo Mandiangin.
Suatu ketika, Tuanku Kayo Mandianginketika menyelamatkan nyawanya dari musibah.Dari sinilah Tuanku Kayo Mandiangin mengubah cara pandang dan perilaku Djamil yang buruk. Ia banyak sekali diajarkan tentang ilmu-ilmu Islam serta menjadi murid dari Tuanku Kayo Mandiangin.
Pergi Haji
Pada tahun 1896, Djamil memutuskan untuk ikut ayahnya berangkat haji. Selama di sana ia banyak menaruh perhatian terhadap ulama Makkah yang membuat dirinya termotivasi untuk menuntut ilmu lebih dalam. Ia juga belajar ilmu falak dengan Syekh Taher Jamaluudin.
Setelah menempuh ibadah haji dan menuntut ilmu, Djamil juga menyiarkan ilmu falaknya ketika berada di Mekkah terutama kepada masyarakat Sumatera dan Jawa yang ada di sana.
Pembahuran Islam di Minang
Dengan keahlian ilmu falak yang sudah ia miliki, Djamil pun turut membantu menentukan arah kiblat shalat dan membantu menentukan waktunya terjadi gerhana bulan dan matahari. Ia juga turut terlibat dalam proses penentuan tanggal 1 Ramadan dan 1 Syawal serta penyusunan jadwal imsakiyah setiap tahunnya.
Semangat pembaharuannya tidak berhenti disitu, Djamil juga melakukan terobosan di bidang pendidikan agama. Kemudian Djamil menjadikan Tabligh sebagai metode dakwahnya serta mengajak masyarakat untuk menghadiri majelis ilmu dan dzikir bersama- sama untuk menyimak, mengkaji, dan berdiskusi.
Tabligh Syekh Djamil Djambek juga diterapkan pada setiap ceramah-ceramah shalat Jumat, Hari Raya Idul Fitri maupun Idul Adha, peringatan Maulid Nabi, hingga Peringatan Isra Mi'raj.
Djamil juga menjadikan surau sebagai pusat dakwah dan Tabligh. Tempat ini dijadikan basis dalam menyalurkan pembaharuan-pembaharuan tentang Islam, hingga terobosan pendidikan Islam.
Terjun Bidang Politik
Dikutip dari esi.kemdikbud.go.id, Djamil ternyata juga terjun di dunia politik yang dibuktikan dengan adanya organisasi Persatuan Kebangsaan Minangkabau pada tahun 1929.
Ia juga mengikuti Kongres I Majelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau pada tahun 1939. Djamil tiada hentinya untuk terus berjuang dalam menyatukan persaudaraan antar umat untuk saling mengenal dan saling menolong.
Pada masa kolonial Belanda hingga Jepang, Djamil tidak berhenti berdakwah dalam memurnikan Islam dan menggalang kekuatan untuk mencapai kemerdekaan. Upaya ini akhirnya terwujud dengan membentuk Majelis Islam Tinggi atau MIT.
Djamil meninggal dunia pada 30 Desember 1947 dengan warisan ilmu keislaman serta semangat dakwahnya yang selalu dikenang dan tiada hentinya.