Tablet Tambah Darah Tak Selalu Aman, Ini Cara Konsumsinya yang Benar
Tablet penambah darah sangat penting untuk mencegah anemia.
Penting untuk mengonsumsi tablet penambah darah sesuai dengan dosis yang dianjurkan agar dapat mencegah anemia secara efektif tanpa memberikan beban berlebih pada organ tubuh.
Dokter Rovy Pratama menjelaskan bahwa setiap individu memiliki kebutuhan zat besi yang berbeda-beda, yang dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, serta kondisi kesehatan masing-masing.
"Untuk setiap orang tentu berbeda, namun kalau kita mengambil nilai rata-rata, nilainya itu 8--27 miligram per hari," ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa dosis ideal yang bisa dikonsumsi setiap hari berkisar di angka 15 mg. Namun, dalam program pemerintah, tablet penambah darah biasanya diberikan seminggu sekali dengan dosis yang lebih tinggi.
"Kalau bentuknya tablet program pemerintah, diminumnya seminggu sekali. Tapi kalau bentuknya inovatif seperti gummy, bisa dua gummy per hari karena dosisnya lebih kecil," jelasnya.
Rovy mengingatkan bahwa mengonsumsi zat besi dalam jumlah berlebihan dapat menimbulkan risiko kesehatan bagi organ tubuh.
"Kalau over, akan terjadi timbunan dalam organ yang justru membebani kerja tubuh," tambahnya. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan aturan pemakaian dan frekuensi konsumsi agar manfaat yang diperoleh menjadi optimal.
Dosis yang aman dan waktu yang tepat untuk mengonsumsinya
Rovy menyatakan bahwa kebutuhan rata-rata zat besi berkisar antara 8 hingga 27 mg per hari, dengan rekomendasi ideal sekitar 15 mg untuk orang dewasa yang sehat. Tablet suplemen umumnya mengandung zat besi dalam dosis tinggi untuk memenuhi kebutuhan tubuh secara mingguan. Di sisi lain, produk inovatif seperti suplemen gummy menawarkan dosis yang lebih kecil, sehingga aman untuk dikonsumsi setiap hari. Ia juga menekankan pentingnya mengikuti dosis yang disarankan agar manfaat dari zat besi dapat diperoleh secara optimal tanpa menimbulkan efek samping.
"Setiap obat atau suplemen itu punya aturan pakai, jadi jangan dikonsumsi sembarangan," tegasnya.
Memeriksa kadar hemoglobin lebih krusial dibandingkan dengan mengukur zat besi
Banyak orang yang keliru berpikir bahwa pemeriksaan kadar zat besi perlu dilakukan secara rutin. Namun, yang seharusnya menjadi fokus utama adalah pemeriksaan hemoglobin (Hb).
"Yang dianjurkan secara rutin itu pengecekan hemoglobin. Kalau Hb-nya rendah, baru kita cari tahu penyebabnya," jelas Rovy.
Oleh karena itu, pemeriksaan hemoglobin disarankan dilakukan setidaknya setiap enam bulan untuk mendeteksi kemungkinan anemia lebih awal.
Rovy juga menekankan bahwa tidak semua jenis anemia disebabkan oleh kekurangan zat besi.
"Anemia itu banyak jenisnya. Bisa karena kekurangan zat besi, tapi bisa juga karena anemia aplastik, yaitu kondisi di mana darahnya tidak terbentuk dengan baik," jelasnya. Dengan memahami jenis-jenis anemia, kita dapat lebih tepat dalam melakukan tindakan pencegahan dan pengobatan yang diperlukan.