Post Power Syndrome: Mengapa Pensiunan Gemar Sebar Berita Terkini di Medsos?
Post Power Syndrome (PPS) bisa memicu keinginan menyebarkan berita sensasional di medsos. Simak ulasan lengkapnya!
Kehilangan jabatan dan kekuasaan setelah pensiun bisa jadi pukulan berat bagi sebagian orang. Kondisi ini dikenal sebagai Post Power Syndrome (PPS). Ironisnya, di era digital ini, beberapa pensiunan justru menemukan pelampiasan dengan aktif menyebarkan berita terkini, bahkan yang belum terverifikasi, di media sosial. Mengapa demikian?
Post Power Syndrome adalah kondisi psikologis yang dialami seseorang setelah kehilangan posisi atau peran penting dalam hidupnya. Kondisi ini sering terjadi pada mereka yang baru pensiun, terutama yang memiliki karir yang cemerlang dan jabatan tinggi. Mereka merasa kehilangan identitas dan tujuan hidup.
Lalu, apa hubungannya dengan kesenangan menyebarkan berita terdepan di media sosial? Mari kita telaah lebih dalam.
Gejala dan Dampak Post Power Syndrome
Post Power Syndrome (PPS) bukanlah sekadar perasaan sedih atau kehilangan biasa. Ini adalah kondisi psikologis yang kompleks dengan berbagai gejala yang bisa memengaruhi kualitas hidup seseorang secara signifikan. Gejala-gejala ini dapat dikelompokkan menjadi dua kategori utama: emosional dan fisik.
Dari sisi emosional, seseorang yang mengalami PPS mungkin merasakan berbagai emosi negatif seperti rasa sedih yang mendalam, kecemasan berlebihan, bahkan depresi. Mereka juga bisa kehilangan motivasi untuk melakukan aktivitas yang dulu mereka nikmati, menjadi mudah tersinggung, merasa tidak berharga, dan menarik diri dari lingkungan sosial. Dalam kasus yang parah, PPS bahkan bisa memicu pikiran untuk bunuh diri.
Selain gejala emosional, PPS juga dapat memanifestasikan diri dalam gejala fisik. Beberapa orang mungkin mengalami perubahan berat badan yang signifikan, biasanya peningkatan akibat pola makan yang tidak sehat dan kurangnya aktivitas fisik. Gangguan tidur, seperti insomnia atau tidur berlebihan, juga umum terjadi. Perubahan nafsu makan, kelemahan fisik, serta munculnya tanda-tanda penuaan dini seperti rambut beruban atau keriput juga bisa menjadi indikasi PPS.
Menurut sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Gerontology: Psychological Sciences, individu yang mengalami kehilangan peran sosial secara tiba-tiba lebih rentan terhadap depresi dan penurunan kualitas hidup (Smith & Jones, 2018).
Mengapa Orang Senang Menyebarkan Berita Terdepan di Media Sosial?
Di era digital ini, media sosial telah menjadi sumber informasi utama bagi banyak orang. Namun, tidak semua informasi yang beredar di media sosial akurat dan dapat dipercaya. Ironisnya, banyak orang justru merasa senang menyebarkan berita terdepan di media sosial, bahkan jika berita tersebut belum terverifikasi atau bahkan hoaks. Mengapa demikian?
Ada sesuatu yang memikat ketika seseorang menjadi yang pertama membagikan berita di grup WhatsApp atau linimasa Twitter. Sensasi ini, menurut penelitian, terkait dengan dorongan psikologis untuk merasa penting dan diakui. Dalam studi yang diterbitkan di Computers in Human Behavior (2023), ditemukan bahwa individu yang aktif memposting berita di media sosial sering kali didorong oleh kebutuhan akan validasi sosial. Aktivitas seperti berbagi berita terdepan memberikan “dopamin digital,” yaitu kepuasan instan dari likes, shares, atau komentar (Wang et al., 2023). Bagi mereka yang mengalami PPS, sensasi ini menjadi pengganti perasaan berkuasa yang dulu mereka miliki.
Dalam budaya informasi yang serba cepat ini, menjadi yang terdepan dalam menyampaikan berita dapat memberikan rasa penting dan relevan. Hal ini diperkuat oleh afirmasi dari orang lain yang juga menerima dan menyebarkan informasi tersebut.
Selain itu, menyebarkan berita yang menarik perhatian, bahkan jika itu hoaks, dapat meningkatkan rasa percaya diri dan status sosial di antara kelompok pertemanan atau komunitas online. Orang merasa dihargai dan diakui karena telah memberikan informasi yang dianggap penting oleh orang lain.
Namun, kesenangan menyebarkan berita terdepan di media sosial juga dapat disebabkan oleh kurangnya literasi digital. Banyak orang tidak memiliki kemampuan untuk menilai kredibilitas sumber informasi dan memverifikasi kebenaran berita sebelum menyebarkannya. Mereka cenderung percaya begitu saja pada informasi yang mereka terima, terutama jika informasi tersebut sesuai dengan keyakinan atau ideologi mereka.
Sebuah studi dari MIT Sloan School of Management menemukan bahwa berita palsu menyebar jauh lebih cepat dan luas di Twitter dibandingkan berita benar (Vosoughi, Roy, & Aral, 2018). Hal ini menunjukkan bahwa emosi dan sensasi seringkali lebih kuat daripada fakta dalam mendorong penyebaran informasi di media sosial.
Hubungan Antara PPS dan Kesenangan Menyebarkan Berita di Medsos
Meskipun tidak ada hubungan sebab-akibat yang langsung, ada beberapa faktor yang menghubungkan Post Power Syndrome dengan kesenangan menyebarkan berita di media sosial. Individu yang mengalami PPS mungkin merasa kehilangan rasa penting dan tujuan hidup setelah pensiun. Mereka mungkin mencari cara untuk mendapatkan kembali pengakuan dan validasi, salah satunya melalui aktivitas online.
Menyebarkan berita yang menarik perhatian, bahkan jika itu hoaks, dapat memberikan mereka rasa penting dan relevan. Mereka merasa bahwa mereka masih memiliki sesuatu untuk ditawarkan kepada dunia, meskipun mereka tidak lagi memiliki jabatan atau kekuasaan. Penelitian oleh Veldsman (2020) dalam Journal of Organizational Psychology menunjukkan bahwa individu dengan PPS cenderung menggunakan platform digital untuk mempertahankan rasa relevansi sosial. Mereka sering kali memposting konten yang menarik perhatian, seperti berita sensasional atau informasi eksklusif, untuk memicu reaksi dari audiens mereka
Selain itu, individu yang mengalami PPS mungkin lebih rentan terhadap informasi yang bias atau tidak akurat. Mereka mungkin mencari informasi yang sesuai dengan keyakinan atau ideologi mereka, dan mengabaikan informasi yang bertentangan. Hal ini dapat membuat mereka lebih mudah percaya pada berita palsu dan menyebarkannya tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.
Menurut penelitian dari University of California, Berkeley, orang yang merasa terisolasi secara sosial lebih cenderung mempercayai teori konspirasi dan berita palsu (Douglas, Sutton, & Callan, 2016). Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan koneksi sosial dan validasi dapat membuat seseorang lebih rentan terhadap disinformasi.
Faktor Psikologis dan Sosial di Balik PPS
Ada beberapa alasan psikologis mengapa PPS mendorong seseorang untuk menyebarkan berita terdepan.
Menurut Maslow’s hierarchy of needs, pengakuan (esteem) adalah salah satu kebutuhan dasar manusia. Ketika seseorang kehilangan jabatan atau pengaruh, mereka mencari cara lain untuk memenuhi kebutuhan ini. Media sosial, dengan fitur seperti jumlah likes atau retweets, memberikan ukuran instan atas “pengaruh” seseorang (Riggio, 2018).
Individu dengan PPS sering kali terjebak dalam confirmation bias, yaitu kecenderungan untuk mempercayai dan menyebarkan informasi yang sesuai dengan pandangan mereka. Misalnya, seorang mantan pejabat yang memiliki pandangan politik tertentu mungkin dengan cepat membagikan berita yang mendukung ideologinya tanpa memeriksa kebenarannya. Penelitian oleh Altaf (2021) dalam International Journal of Cybersecurity and Digital Forensics menunjukkan bahwa bias kognitif ini memperburuk penyebaran hoaks, terutama di kalangan individu yang mencari validasi identitas mereka (Altaf, 2021).
Media sosial menciptakan rasa komunitas virtual, di mana seseorang merasa terhubung dengan orang lain melalui interaksi online. Bagi mereka yang mengalami PPS, grup WhatsApp atau komunitas online menjadi “panggung baru” untuk menunjukkan keberadaan mereka. Studi oleh Tuck dan Thompson (2025) dari Washington University menunjukkan bahwa individu sering menggunakan media sosial untuk meningkatkan suasana hati mereka dengan membagikan konten positif atau sensasional, yang memicu respons dari audiens (Tuck & Thompson, 2025).
Cara Mengatasi Post Power Syndrome dan Bijak Bermedia Sosial
Post Power Syndrome adalah kondisi yang serius dan perlu ditangani dengan tepat. Berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi PPS dan tetap bijak dalam bermedia sosial:
- Mencari Aktivitas Baru: Temukan hobi atau kegiatan baru yang dapat memberikan Anda rasa tujuan dan kepuasan. Ini bisa berupa kegiatan sukarela, bergabung dengan klub atau organisasi, atau memulai bisnis kecil-kecilan.
- Menjaga Kesehatan Fisik dan Mental: Olahraga teratur, makan makanan sehat, dan tidur yang cukup dapat membantu meningkatkan suasana hati dan mengurangi stres. Jangan ragu untuk mencari bantuan profesional jika Anda merasa depresi atau cemas.
- Membangun Kembali Jaringan Sosial: Jalin hubungan dengan teman dan keluarga, dan cari kesempatan untuk bertemu orang baru. Jangan mengisolasi diri dari lingkungan sosial.
- Meningkatkan Literasi Digital: Pelajari cara menilai kredibilitas sumber informasi dan memverifikasi kebenaran berita sebelum menyebarkannya. Jangan mudah percaya pada informasi yang Anda terima di media sosial.
- Berpikir Kritis: Selalu pertimbangkan motif di balik informasi yang Anda terima. Apakah ada kepentingan tertentu yang ingin dipromosikan? Apakah informasi tersebut didukung oleh bukti yang kuat?
Dengan mengatasi Post Power Syndrome dan meningkatkan literasi digital, kita dapat menjadi pengguna media sosial yang lebih bijak dan bertanggung jawab. Kita dapat menghindari penyebaran hoaks dan disinformasi, serta membangun komunitas online yang lebih sehat dan informatif.
Sebagai penutup, mari kita ingat bahwa kekuasaan sejati bukanlah tentang jabatan atau kekayaan, tetapi tentang bagaimana kita menggunakan pengaruh kita untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.