Nyeri Haid Parah hingga Pingsan? Ini Penjelasan Dokter tentang Penyebabnya
Menstruasi sering kali menjadi tantangan bagi perempuan, bukan hanya karena rasa sakit di perut.
Bagi sebagian perempuan, nyeri haid bukan sekadar fase, melainkan dapat memicu berbagai keluhan yang lebih serius. Beberapa mengalami pusing, berkunang-kunang, bahkan ada yang sampai pingsan.
Kondisi ini seringkali menimbulkan kecemasan di kalangan perempuan, seolah menjadi indikasi adanya penyakit yang lebih serius. Namun, perlu diketahui bahwa perubahan alami yang terjadi dalam tubuh selama siklus menstruasi dapat meningkatkan risiko terjadinya pingsan.
Menurut informasi yang dilansir dari Verywell Health, jenis pingsan yang paling umum dialami oleh perempuan saat menstruasi adalah sinkop vasovagal.
Pingsan jenis ini ditandai oleh penurunan tekanan darah yang terjadi secara tiba-tiba. Selain itu, beberapa perubahan dalam tubuh seperti fluktuasi hormon, nyeri hebat, pendarahan yang berlebihan, serta gula darah yang rendah selama periode menstruasi dapat meningkatkan risiko terjadinya pingsan.
Gejala yang biasanya muncul pada kondisi sinkop vasovagal meliputi mual, berkeringat, pusing, penglihatan kabur, detak jantung yang cepat atau tidak teratur, serta perasaan mati rasa dan pucat.
Berikut adalah sepuluh kondisi yang dapat menyebabkan pingsan saat menstruasi:
1. Rasa sakit saat menstruasi
Penyebab paling umum terjadinya pingsan saat menstruasi adalah rasa nyeri. Nyeri ini bisa disebabkan oleh faktor-faktor tertentu yang meningkatkan kemungkinan seseorang pingsan.
Nyeri yang dialami saat menstruasi, yang dikenal sebagai dismenore primer, berkaitan dengan hormon prostaglandin. Hormon ini diproduksi oleh endometrium, yaitu lapisan rahim, ketika menstruasi akan dimulai.
Rasa sakit yang muncul selama menstruasi akan memicu peningkatan produksi prostaglandin untuk mengurangi rasa nyeri tersebut. Salah satu reaksi tubuh terhadap peningkatan ini adalah dilatasinya pembuluh darah. Ketika pembuluh darah melebar, tekanan darah dapat menurun, yang berkontribusi pada peningkatan risiko pingsan.
2. Fibroid
Fibroid, atau leiomioma, adalah tumor non-kanker yang tumbuh di dalam rahim. Keberadaan tumor ini dapat menyebabkan rasa nyeri saat menstruasi. Selain nyeri, fibroid juga dapat mengakibatkan pendarahan yang berat atau berkepanjangan selama menstruasi, perut kembung, kesulitan saat buang air besar, nyeri saat berhubungan seksual, serta masalah kesuburan dan keguguran.
3. Penyakit Endometriosis
Kondisi ini terjadi ketika jaringan yang seharusnya melapisi rahim (endometrium) tumbuh di luar rahim. Jaringan endometrium ini dapat tumbuh di berbagai lokasi dalam tubuh, tetapi tempat yang paling umum adalah di ovarium, tuba fallopi, usus, ginjal, dan hati.
4. Adenomiosis
Adenomiosis adalah kondisi di mana lapisan dalam rahim (endometrium) tumbuh ke dalam dinding otot rahim, yang menyebabkan rasa sakit. Meskipun biasanya terjadi pada wanita berusia 40 hingga 50 tahun, kini semakin banyak kasus yang ditemukan pada wanita yang lebih muda.
Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS) adalah kondisi hormonal yang mempengaruhi wanita
Penyakit PCOS (Polycystic Ovary Syndrome) ditandai oleh berbagai gejala klinis, seperti tingginya kadar androgen, ketidakseimbangan hormon, pembesaran ovarium yang dapat mengakibatkan kista, resistensi insulin, serta kelebihan berat badan. Namun, tidak semua individu yang menderita PCOS akan mengalami semua gejala tersebut. Penyebab pasti dari PCOS masih belum diketahui, tetapi kondisi ini sering dikaitkan dengan nyeri saat haid. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa rasa sakit ini mungkin disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon yang umum terjadi pada penderita PCOS.
6. Menstruasi Deras
Menstruasi yang sangat deras sering kali berhubungan dengan penumpukan lapisan endometrium di rahim selama siklus menstruasi. Kondisi ini dapat menyebabkan peningkatan produksi prostaglandin, yang berkontribusi pada meningkatnya risiko pingsan. Selain itu, menstruasi yang sangat deras juga dapat mengakibatkan anemia akibat kehilangan darah. Ketika seseorang mengalami anemia, jumlah oksigen yang bisa dibawa oleh darah menjadi berkurang, sehingga otak merasakan penurunan kadar oksigen, yang dapat memicu pingsan.
7. Perubahan Hormon
Perubahan kadar hormon merupakan dasar dari siklus menstruasi. Dalam siklus yang normal, kadar estrogen dan progesteron akan naik dan turun mengikuti fase tertentu. Pada saat menstruasi baru dimulai, kedua hormon ini berada pada tingkat terendah.
Hipoglikemia adalah kondisi di mana kadar gula darah seseorang turun di bawah normal
Perubahan hormon pada beberapa individu dapat memengaruhi sensitivitas insulin. Hal ini berpotensi menyebabkan hipoglikemia atau gula darah rendah, bahkan pada orang yang tidak menderita diabetes. Kondisi ini dapat mengakibatkan vasovagal, yaitu penurunan tekanan darah yang tiba-tiba dan membuat seseorang merasa pusing hingga pingsan.
9. Pergeseran Cairan
Kadar hormon yang menurun juga dapat berdampak pada distribusi cairan dalam tubuh. Sebagian cairan dapat berpindah dari aliran darah menuju jaringan, yang mengakibatkan pembengkakan pada kaki atau pergelangan. Hal ini menyebabkan berkurangnya volume darah dan menurunnya kadar oksigen yang beredar dalam tubuh. Reaksi tubuh terhadap kondisi ini mirip dengan dehidrasi. Dengan berkurangnya jumlah cairan dalam darah, tubuh menjadi kesulitan untuk menyesuaikan diri saat posisi tubuh berubah. Akibatnya, bisa terjadi hipotensi ortostatik, yaitu penurunan tekanan darah yang tiba-tiba saat berdiri, yang dapat memicu pingsan.
10. POTS
Pergeseran cairan yang disebabkan oleh perubahan hormon juga dapat memperburuk kondisi yang dikenal sebagai postural orthostatic tachycardia syndrome (POTS). Gangguan ini membuat sistem saraf tidak dapat mengatur detak jantung dan tekanan darah dengan baik. Gejala POTS biasanya semakin parah selama menstruasi, dengan tanda-tanda seperti kelelahan, pusing, hingga pingsan yang berulang.