Menkes Ungkap Tren Dokter Kejar Spesialis
Menkes Budi Gunadi menyoroti tren dokter yang berlomba menjadi spesialis. Pemerintah menyiapkan penguatan karier dan kompetensi dokter puskesmas.
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyoroti kecenderungan sebagian besar dokter di Indonesia yang menjadikan pendidikan spesialis sebagai tujuan utama karier mereka.
Kondisi tersebut dinilai berdampak pada layanan kesehatan tingkat pertama, terutama di puskesmas.
Hal itu disampaikan Budi dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI pada Senin (8/6/2026). Menurutnya, fenomena tersebut membuat layanan primer kesulitan mempertahankan tenaga medis terbaik.
"Ada fenomena di Indonesia yang unik, di mana semua dokter ingin jadi dokter spesialis," kata Budi dikutip dari Liputan6.com, Kamis (11/6/2026).
Menurut dia, muncul persepsi bahwa dokter yang bertugas di puskesmas merupakan dokter yang gagal melanjutkan pendidikan spesialis. Pandangan tersebut dinilai keliru dan berpotensi melemahkan kualitas layanan kesehatan dasar.
"Akibatnya, dokter-dokter yang bagus tidak ada yang tinggal di puskesmas. Dokter yang bekerja di puskesmas kemudian dianggap sebagai dokter yang tidak berhasil menjadi dokter spesialis. Nah, ini tidak benar," ujarnya.
Pemerintah Siapkan Kepastian Karier Dokter Layanan Primer
Budi membandingkan kondisi tersebut dengan sejumlah negara lain yang menempatkan dokter layanan primer sebagai ujung tombak sistem kesehatan.
Menurutnya, dokter di fasilitas kesehatan tingkat pertama justru memiliki peran penting karena mampu menangani berbagai persoalan kesehatan masyarakat sebelum dirujuk ke rumah sakit.
"Di luar negeri, justru dokter-dokter di depan ini adalah dokter-dokter yang hebat karena mereka bisa menyelesaikan masalah," katanya.
Karena itu, pemerintah tengah menyiapkan penguatan jenjang karier bagi dokter yang memilih bertugas di layanan primer agar memiliki prospek yang jelas dan tidak dipandang lebih rendah dibanding dokter spesialis.
"Karena itu kita perlu memberikan kepastian karier agar mereka tidak merasa minder atau dianggap sebagai dokter kelas dua dibandingkan dokter di rumah sakit," ujar Budi.
Kompetensi dan Fasilitas Puskesmas akan Diperkuat
Dalam kesempatan yang sama, Budi mengungkapkan hasil analisis terhadap 35,2 juta peserta program Cek Kesehatan Gratis usia 18 hingga 59 tahun menunjukkan tingginya kasus tekanan darah tinggi, diabetes, dan kolesterol.
Menurutnya, berbagai persoalan kesehatan tersebut tidak seluruhnya harus ditangani rumah sakit. Karena itu, kompetensi dokter layanan primer akan diperluas agar mampu menangani lebih banyak kasus.
"Sehingga dokter umum yang sekarang relatif sedikit kompetensinya itu akan kita perkaya supaya bisa melayani. Jadi benar-benar tren di dunia adalah wewenang dan kompetensi itu diturunkan ke bawah ke layanan primary care," kata Budi.
Selain peningkatan kompetensi, Kementerian Kesehatan juga mendorong penguatan fasilitas kesehatan di puskesmas, termasuk penyediaan alat USG, EKG, dan layanan radiologi.
"Dulu USG hanya untuk bisa wanita hamil, sekarang juga untuk skrining kanker payudara. Jadi kita akan kirim lebih banyak lagi fasilitas ke puskesmas," ujarnya.