Joki UTBK-SNMPB 2025 Banyak Dilakukan dan AI Digunakan Jadi Sumber Pengetahuan Utama, Benarkah Anak Indonesia Kini Semakin Bodoh?
Maraknya joki UTBK-SNPMB 2025 dan ketergantungan pada AI memicu pertanyaan serius tentang kualitas pendidikan Indonesia dan kemampuan kognitif generasi muda.
Generasi Emas 2030 bisa jadi hanya tinggal angan-angan ketika seleksi masuk ke perguruan tinggi banyak dilakukan oleh calo sementara mahasiswanya sendiri tidak bisa membuat kalimat dengan benar dan berpikir secara analitis. Kedua hal tersebut merupakan permasalahan yang mengancam generasi muda di Indonesia yang membuat bonus demografi yang kita miliki saat ini justru menjadi beban demografi.
Kedua permasalahan yang muncul tersebut berakar dari satu hal yang sama yaitu keinginan untuk mencapai hasil secara instan. Baik penggunaan joki maupun penggunaan AI tidak membutuhkan kerja keras atau berpikir untuk memecahkan masalah secara analitis. Hasilnya, segala permasalahan akan diselesaikan secara instan dan melibatkan tangan ketiga sehingga tidak membutuhkan kerja keras. Lantas, benarkah generasi Indonesia semakin bodoh? Jawabannya lebih kompleks dari sekadar hitam-putih.
Kemudahan akses teknologi justru memperlebar jurang antara literasi digital dan kedalaman kognitif. Siswa zaman sekarang mungkin lebih mahir membuat presentasi dengan Canva atau menganalisis data dengan AI, tetapi kemampuan menalar, menyusun argumen, dan etika akademik justru tergerus. Sistem pendidikan yang masih mengukur kecerdasan lewat nilai UTBK dan IPK turut berkontribusi menciptakan generasi "pintar secara instan" namun rapuh secara mental.
Skandal Joki di UTBK-SNPMB 2025
Terbaru, Pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (UTBK-SNPMB) 2025 diwarnai skandal kecurangan yang memprihatinkan. Dalam konferensi pers di Jakarta, Ketua Tim Penanggung Jawab SNPMB, Prof. Eduart Wolok, mengungkap bahwa dalam enam hari pelaksanaan ujian, ditemukan 50 peserta dan 10 joki terlibat praktik curang di 13 pusat UTBK, mayoritas menargetkan Fakultas Kedokteran.
Modus yang digunakan para pelaku terbilang canggih: mulai dari kamera mini tersembunyi di kacamata dan behel, hingga remote desktop yang mengendalikan komputer peserta dari jarak jauh. Data LTMPT mencatat beberapa cara kecurangan utama:
- Pencuplikan soal dan transfer jawaban daring, menggunakan aplikasi perekam dan jaringan proxy.
- Penggantian orang ujian (joki), dengan dokumen identitas dipalsukan agar lolos verifikasi.
- Alat komunikasi tersembunyi, berupa penerima sinyal dan mikrofon kecil di badan peserta, untuk mengirim jawaban real time.
Fakta ini menimbulkan kekhawatiran akan integritas sistem seleksi nasional yang semestinya menjadi tolok ukur kualitas dan kejujuran calon mahasiswa.
Mahasiswa “Tersandera” Jawaban Instan
Di Malang, seorang dosen menuturkan keresahannya bahwa mahasiswa baru kesulitan merangkai kalimat yang logis dan padu. Mereka enggan membaca buku referensi serta lebih memilih bertanya pada AI dan memercayai jawaban tanpa verifikasi. Fenomena serupa juga dilaporkan oleh dosen di berbagai perguruan tinggi, yang mencatat ketergantungan mahasiswa pada ChatGPT dan GenAI lainnya untuk tugas akademik—tanpa memahami konsep dasar masalah.
Ketergantungan berlebihan pada kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT atau Gemini sebagai sumber pengetahuan utama mengubah pola belajar menjadi sekadar copy-paste tanpa proses internalisasi. Pada literasi anak, dampak yang ditimbulkan juga tidak main-main, hal ini bisa menggerus kemampuan riset mandiri mahasiswa, mereka kurang bisa melakukan cek fakta, serta ketidakmampuan dalam melakukan cek fakta.
Data PISA: Cermin Tantangan Pendidikan
Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan Indonesia berada di peringkat 74 dari 81 negara peserta, dengan skor rata-rata:
Membaca: 359 (rendah dibanding OECD 476)
Matematika: 366 (OECD 489)
Sains: 383 (OECD 489)
Penurunan tajam terlihat sejak 2018: membaca 371 → 359, matematika 379 → 366, sains 396 → 383. Padahal pada periode 2000–2014, kemampuan matematika siswa menurun sekitar 0,25 standar deviasi, sehingga rata-rata siswa kelas 7 tahun 2014 setara siswa kelas 4 pada 2000.
PISA adalah studi internasional yang diselenggarakan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Tujuannya adalah untuk mengevaluasi sistem pendidikan di seluruh dunia dengan mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam bidang membaca, matematika, dan sains.
PISA tidak hanya mengukur penguasaan materi pelajaran, tetapi juga kemampuan siswa untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan mereka dalam situasi dunia nyata. Hasil PISA memberikan informasi yang berguna bagi negara-negara peserta untuk mengevaluasi dan meningkatkan kebijakan pendidikan mereka. Tes PISA dilakukan setiap tiga tahun sekali dan melibatkan siswa berusia 15 tahun yang dipilih secara acak dari sekolah-sekolah di negara-negara peserta.
Masalah di Sekolah dan Rumah
Masalah di Sekolah
Diluncurkan sebagai solusi, Kurikulum Merdeka menekankan literasi dan numerasi serta pembelajaran berbasis proyek. Namun, riset The SMERU Research Institute (2023) menemukan banyak guru kesulitan mengimplementasikan kurikulum ini karena beban administrasi tinggi dan minimnya pelatihan praktik.
Masalah Pengasuhan
Studi di PubMed Central (2022) mengangkat fenomena technoference—interupsi interaksi orang tua-anak oleh gawai—yang memicu penurunan sensitivitas orang tua hingga 40%, serta peningkatan perilaku problematik pada anak . Katherine Martinko, dalam The Analog Family, menggambarkan anak-anak “bersaing dengan ponsel” untuk mendapatkan perhatian orang tua .
Mengapa Anak Berbuat Curang?
Menurut Penny Van Bergen dari University of Wollongong, berbohong dan menyontek adalah tanda perkembangan kognitif—anak belajar menipu karena mengerti pikiran orang lain. Pada usia 5 tahun, hampir semua anak pernah menyontek dalam eksperimen, lalu menyangkalnya untuk menjaga citra . Saat remaja, mereka berbohong untuk menutupi keterbatasan waktu atau tekanan akademik. Faktor pendorongnya meliputi:
- Godaan Hadiah Besar: insentif nilai tinggi memicu risiko kecurangan.
- Tekanan Lingkungan: persaingan akademik dan ekspektasi keluarga.
- Norma Sosial: menolong teman dianggap pembenaran pro-sosial.
Orang tua dan guru dapat meminimalkan kecurangan dengan percakapan terbuka, menekankan proses belajar, dan memberi contoh kejujuran.
Apakah Anak Sekarang Semakin Bodoh?
Sejumlah Fakta mengindikasikan adanya kemunduran dalam kemampuan fundamental yang esensial untuk berpikir kritis dan analitis. Praktik curang seperti penggunaan joki dalam UTBK dan ketergantungan pada AI untuk mendapatkan jawaban instan tanpa pemahaman konsep, menunjukkan adanya kecenderungan untuk menghindari proses belajar yang sesungguhnya. Hal ini secara tidak langsung mempertanyakan apakah generasi muda saat ini memiliki ketahanan dan kemampuan kognitif yang sama dengan generasi sebelumnya dalam menghadapi tantangan yang kompleks.
Lebih lanjut, data PISA yang menunjukkan penurunan signifikan dalam skor membaca, matematika, dan sains menjadi indikator objektif yang sulit diabaikan. Penurunan ini, terutama jika dibandingkan dengan rata-rata OECD, menimbulkan pertanyaan serius tentang efektivitas sistem pendidikan dalam membekali siswa dengan kemampuan dasar yang dibutuhkan. Meskipun PISA tidak mengukur "kebodohan" secara langsung, penurunan performa dalam literasi, numerasi, dan sains mengisyaratkan adanya masalah dalam penguasaan kompetensi mendasar.
Ketergantungan pada teknologi tanpa kemampuan untuk memilah informasi dan melakukan verifikasi, seperti yang dicontohkan oleh mahasiswa yang lebih memilih bertanya pada AI daripada membaca referensi, juga mengkhawatirkan. Hal ini dapat menghambat perkembangan kemampuan riset mandiri, berpikir kritis, dan membangun pengetahuan secara mendalam.
Akumulasi dari praktik curang, ketergantungan pada solusi instan, penurunan skor PISA, dan potensi tergerusnya kemampuan fundamental memberikan alasan yang kuat untuk mempertanyakan apakah kualitas kognitif dan integritas generasi muda sedang terancam. Pertanyaan "apakah anak Indonesia semakin bodoh?" mungkin terlalu simplistis, namun jika praktik seperti ini terus berlanjut, bukan tak mungkin anak-anak kita akan semakin bodoh dibanding anak-anak di masa lalu.