Jangan Abaikan! Osteoporosis Bisa Dicegah Jika Dikenali dari Awal
Osteoporosis merupakan penyakit yang tidak terlihat dan bisa dicegah sejak usia muda melalui pola hidup aktif serta konsumsi kalsium yang memadai.
Osteoporosis dikenal sebagai silent disease atau penyakit yang tidak terlihat. Penyakit ini tidak menunjukkan gejala yang jelas hingga akhirnya menyebabkan patah tulang. Dr. Aldico Sapardan, Sp.OT., CF, menjelaskan bahwa kondisi ini tidak muncul secara tiba-tiba.
"Jadi kan osteoporosis itu silent disease ya. Jadi bukan ujug-ujug, tiba-tiba langsung osteoporosis gitu. Tapi ini sebetulnya sesuatu yang bisa kita persiapkan dari muda," ujarnya. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran dan persiapan sejak dini sangat penting.
Osteoporosis biasanya tidak menimbulkan keluhan pada tahap awal. Banyak penderitanya yang tidak merasakan sakit atau ketidaknyamanan sama sekali. Namun, ketika mereka mengalami jatuh yang tampak ringan, tulang bisa langsung patah.
"Kenapa disebut silent disease, karena hampir gak ada keluhan jadi orang tuh gak ada keluhan, gak ada rasa gak enak, tiba-tiba begitu dia jatuh tulangnya patah, itu yang selalu terjadi," jelas Aldico.
Penyakit ini kerap kali baru terdeteksi setelah terjadinya fraktur atau patah tulang, yang menunjukkan betapa pentingnya pemahaman tentang osteoporosis.
Osteoporosis disebut sebagai "penyakit senyap" karena sering kali baru terungkap setelah pasien mengalami fraktur.
Mengacu pada informasi dari laman Kementerian Kesehatan, pada Jumat, 24 Oktober 2025, fraktur adalah kondisi di mana struktur tulang mengalami pemutusan baik secara sebagian maupun keseluruhan. Oleh karena itu, sangat penting untuk meningkatkan kesadaran tentang osteoporosis agar masyarakat dapat mengambil langkah pencegahan yang tepat sebelum terlambat.
Ancaman yang Menghadang
Osteoporosis dapat disebabkan oleh berbagai faktor, bukan hanya satu atau dua. Menurut Aldico, banyak kelompok yang memiliki risiko tinggi untuk mengalami penyakit ini.
"Siapa-siapa aja yang berisiko terkena osteoporosis? Ini banyak banget," jelasnya.
Beberapa faktor risiko yang perlu diperhatikan meliputi gangguan hormonal, berat badan yang rendah, wanita yang telah mengalami menopause, kekurangan asupan kalsium, kurangnya aktivitas fisik, usia yang sudah lanjut, faktor genetik, serta adanya penyakit tertentu seperti gangguan hati dan ginjal kronis.
Selain itu, kebiasaan hidup yang tidak sehat seperti merokok, konsumsi kopi berlebihan, dan alkohol juga dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya pengeroposan tulang. Kombinasi dari berbagai faktor ini dapat mempercepat penurunan kepadatan tulang, sehingga menjaga kesehatan tulang sebaiknya dimulai sejak usia muda.
Menjaga Tulang Sejak Muda
Aldico menekankan bahwa menjaga kesehatan tulang adalah hal yang sangat penting dan tidak bisa ditunda. Ia berpendapat bahwa kebiasaan sehat seharusnya dimulai sejak muda, bukan saat sudah berusia lanjut.
"Jadi jangan dulu waktu usia 20, 30, 40 mungkin malu olahraga. Kok temen-temen gue pada main padel, temen-temen gue pada lari, gue mulai olahraga ah sekarang. Ya mungkin gak ada kata terlambat, tapi menurut saya itu udah cukup terlambat. Jadi ada baiknya, ini sesuatu yang harusnya bisa kita tabu. Rutin berolahraga dari muda," ungkapnya.
Melakukan aktivitas fisik secara teratur dapat membantu memperkuat tulang serta menjaga kepadatan mineral di dalamnya.
Selain berolahraga, penting juga untuk memastikan asupan kalsium yang cukup. Meskipun banyak orang mengandalkan susu sebagai sumber kalsium, makanan lain seperti ikan berlemak dan sayuran hijau juga kaya akan kalsium. Dengan demikian, pola hidup aktif dan pola makan yang seimbang menjadi kunci utama untuk mencegah pengeroposan tulang di masa depan.
Pengaruh Osteoporosis
Osteoporosis tidak hanya memengaruhi kesehatan tulang, tetapi juga berimplikasi pada berbagai aspek kehidupan. Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa dampak dari penyakit ini dapat terlihat dari berbagai perspektif, termasuk fisik, psikis, ekonomi, dan sosial.
Dari sisi fisik, penderita osteoporosis dapat mengalami perubahan pada postur tubuh, seperti menjadi lebih pendek atau bungkuk. Selain itu, nyeri tulang, patah tulang, dan cacat fisik adalah beberapa masalah yang sering muncul akibat kondisi ini. Secara psikis, keterbatasan dalam bergerak dapat menyebabkan stres dan perasaan frustrasi, terutama ketika keinginan untuk beraktivitas terhambat.
Dari perspektif ekonomi, penderita diwajibkan untuk mengonsumsi obat-obatan secara rutin, yang sering kali memiliki harga yang cukup tinggi. Di sisi sosial, keterbatasan mobilitas dapat membuat penderita bergantung pada bantuan orang lain, yang pada gilirannya membatasi kesempatan untuk bersosialisasi dengan tetangga atau teman. Hal ini berdampak pada pengurangan interaksi sosial yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.
Dampak-dampak ini menunjukkan bahwa osteoporosis bukan hanya sekadar masalah medis, tetapi juga berhubungan erat dengan kualitas hidup secara keseluruhan. Bahkan, "sebanyak 40% penyintas patah tulang akibat osteoporosis tidak lagi mampu berjalan sendiri, dan 60% masih membutuhkan bantuan setahun setelah mengalami patah tulang panggul." Kondisi ini menegaskan pentingnya perhatian lebih terhadap penderita osteoporosis agar kualitas hidup mereka dapat ditingkatkan.