DPR RI: Pastikan Evakuasi Ponpes Sidoarjo 'Clear' Total, 50 Jenazah Telah Teridentifikasi!
Wakil Ketua DPR RI Saan Mustopa mendesak pemerintah memastikan evakuasi Ponpes Sidoarjo tuntas tanpa sisa korban. Proses identifikasi 50 jenazah telah rampung, namun masih ada korban lain yang dicari.
Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Saan Mustopa meminta pemerintah memastikan proses evakuasi korban pondok pesantren yang ambruk di Sidoarjo, Jawa Timur, berjalan tuntas. Permintaan ini disampaikan untuk menjamin tidak ada korban yang tertinggal di bawah reruntuhan bangunan.
Saan menekankan pentingnya evakuasi yang "clear" atau bersih, baik bagi korban yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Tragedi ambruknya ponpes ini menjadi duka mendalam bagi seluruh bangsa, khususnya bagi generasi mendatang.
Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa 50 jenazah korban telah berhasil diidentifikasi oleh tim DVI Polri. Proses identifikasi ini masih terus berlanjut untuk korban lainnya yang belum ditemukan.
Fokus Evakuasi Tuntas dan Tanpa Sisa
Saan Mustopa menegaskan bahwa pemerintah harus memastikan tidak ada satu pun korban yang tersisa di lokasi kejadian. Hal ini mencakup baik korban yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia. Evakuasi harus benar-benar menyeluruh di bawah reruntuhan bangunan ponpes yang ambruk.
Menurut Saan, ambruknya ponpes di Sidoarjo merupakan keprihatinan bersama yang menimbulkan duka mendalam. Musibah ini menjadi pengingat bagi semua pihak akan pentingnya keselamatan infrastruktur pendidikan. Pemerintah diharapkan dapat belajar dari insiden ini untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.
Pentingnya evakuasi yang bersih ini bertujuan untuk memberikan kepastian kepada keluarga korban. Selain itu, proses ini juga memastikan bahwa semua korban mendapatkan penanganan yang layak sesuai prosedur. Tim SAR gabungan terus berupaya maksimal dalam pencarian dan evakuasi.
Polemik Rencana Pembangunan Kembali Ponpes
Terkait rencana Menteri Pekerjaan Umum (PU) untuk membangun kembali ponpes tersebut, Saan Mustopa mengingatkan agar rencana ini dibicarakan secara matang. Pembicaraan awal perlu dilakukan minimal di tingkat kementerian terkait. Pembangunan kembali akan menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Selain melibatkan kementerian, Saan menekankan bahwa pembahasan juga harus melibatkan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Khususnya, Komisi V DPR RI yang membidangi infrastruktur dan perhubungan, perlu dilibatkan dalam diskusi ini. Tujuannya adalah agar tidak menimbulkan masalah atau polemik di kemudian hari.
"Tujuannya memang baik ya untuk membantu, tapi kalau misalkan ada polemik kan kasihan pesantrennya juga karena yang akan terseret mereka," ungkap Saan. Niat baik dari Menteri PU harus diiringi dengan prosedur yang benar. Hal ini untuk menghindari potensi masalah yang dapat merugikan pihak pesantren.
Meskipun penyelesaian masalah ini mungkin dilakukan secara kekeluargaan, Saan menilai insiden ambruknya ponpes harus menjadi pelajaran penting. Semua pihak, baik pemerintah maupun pengelola lembaga pendidikan, perlu meningkatkan pengawasan dan standar keselamatan bangunan.
Perkembangan Identifikasi Korban oleh DVI
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebelumnya melaporkan perkembangan signifikan dalam identifikasi korban. Sebanyak 50 jenazah korban robohnya Pesantren Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, telah berhasil diidentifikasi. Proses ini dilakukan oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyatakan bahwa identifikasi dilakukan secara bertahap. Proses ini telah berlangsung sejak evakuasi korban dimulai pada awal pekan lalu. Data identifikasi ini terus diperbarui seiring dengan penemuan korban.
"Data hasil identifikasi sampai hari Jumat 10 Oktober, sebanyak 50 jenazah telah berhasil dikenali," kata Abdul Muhari. Meskipun demikian, tim DVI masih memiliki tugas berat untuk memproses 11 jenazah lainnya. Ini termasuk lima potongan tubuh korban yang ditemukan oleh tim SAR gabungan.
Upaya pencarian dan identifikasi terus dilakukan dengan cermat dan teliti. Hal ini untuk memastikan bahwa semua korban dapat teridentifikasi. Keluarga korban juga mendapatkan informasi yang akurat mengenai status anggota keluarga mereka.
Sumber: AntaraNews