Yenny Wahid Terpilih Jadi Ketua Umum KOWANI, Usung Lima Misi Transformasi Menuju Abad Kedua
Yenny Wahid resmi terpilih sebagai Ketua Umum KOWANI periode baru.
Kongres Luar Biasa (KLB) Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) yang digelar di Gedung The Tribrata, Jakarta, menghasilkan keputusan penting bagi organisasi perempuan tertua dan terbesar di Indonesia.
Yenny Wahid resmi terpilih sebagai Ketua Umum KOWANI periode baru melalui mekanisme pemungutan suara yang memenuhi kuorum konstitusional dengan dukungan lebih dari dua pertiga anggota aktif organisasi.
Terpilihnya Yenny menandai dimulainya babak baru bagi KOWANI yang saat ini memasuki abad kedua sejak berdiri.
Dalam pidato usai terpilih, Yenny menegaskan bahwa mandat yang diterimanya bukan sekadar memimpin organisasi, melainkan membawa KOWANI tetap relevan dan memberikan dampak nyata bagi perempuan Indonesia.
"Ini bukan kemenangan satu orang. Ini kemenangan seluruh perempuan Indonesia yang tidak mau melihat rumah besar mereka runtuh. KOWANI adalah amanah, dan di abad kedua ini, amanah itu akan kami emban dengan lebih kuat, lebih luas, dan lebih inklusi," ujar Yenny.
Lima Misi Utama
Sebagai langkah awal kepemimpinannya, Yenny memaparkan lima misi utama yang akan menjadi fokus kerja kepengurusan baru. Prioritas pertama adalah rekonsiliasi dan penguatan organisasi melalui perbaikan tata kelola, peningkatan transparansi, serta penguatan semangat kebersamaan di antara seluruh anggota.
"Kami ingin memastikan tidak ada yang merasa ditinggalkan dan tidak ada yang merasa tidak didengar," kata dia, Rabu (3/6/2026).
Selain itu, KOWANI akan memperkuat program pemberdayaan ekonomi perempuan dengan membuka akses pelatihan, pengembangan kewirausahaan, pemanfaatan teknologi digital, akses pembiayaan, hingga perluasan jaringan usaha bagi perempuan di berbagai daerah.
Di bidang perlindungan perempuan dan anak, organisasi tersebut berkomitmen memperkuat advokasi kebijakan, upaya pencegahan kekerasan, serta sistem pendampingan yang berpihak kepada korban. KOWANI juga akan mendorong lahirnya pemimpin-pemimpin perempuan generasi baru melalui berbagai program pengembangan kepemimpinan yang inklusif.
Gerakan Perempuan Global
Misi kelima adalah memperkuat posisi Indonesia dalam gerakan perempuan global. Sebagai organisasi yang memiliki status konsultatif di Economic and Social Council (ECOSOC) Perserikatan Bangsa-Bangsa, KOWANI berencana merevitalisasi perannya dalam diplomasi dan advokasi isu perempuan di tingkat internasional.
KLB digelar sebagai respons atas krisis tata kelola organisasi yang dinilai telah menyimpang dari Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) KOWANI. Sebelum pelaksanaan kongres, Kementerian Hukum RI telah memberikan klarifikasi bahwa 19 anggota Dewan Pimpinan yang menginisiasi KLB tetap diakui secara legal-formal, sehingga memberikan landasan konstitusional bagi penyelenggaraan forum tersebut.
Proses pemilihan berlangsung secara terbuka dan partisipatif dengan seluruh organisasi anggota aktif memiliki hak suara. Dukungan lebih dari dua pertiga anggota aktif membuat hasil pemilihan dinyatakan sah dan memenuhi ketentuan yang diatur dalam AD/ART KOWANI.
Yenny sendiri bukan figur baru dalam gerakan perempuan Indonesia. Selama lebih dari dua dekade memimpin Wahid Foundation, ia mengembangkan berbagai program pemberdayaan perempuan, termasuk program Desa Damai yang telah menjangkau lebih dari 176.000 perempuan di 31 desa di Pulau Jawa. Program tersebut juga mendapat pengakuan internasional sebagai model implementasi resolusi PBB mengenai perempuan, perdamaian, dan keamanan.
Menetapkan Tiga Agenda
Sebagai Ketua Umum terpilih, Yenny menetapkan tiga agenda prioritas yang akan segera dijalankan, yakni perbaikan tata kelola organisasi sesuai prinsip kolektif kolegial, memperkuat kolaborasi lintas generasi dengan melibatkan lebih banyak perempuan muda, serta mengembalikan posisi KOWANI di panggung internasional.
Salah satu target yang dicanangkan adalah memastikan kehadiran kembali KOWANI dalam forum Commission on the Status of Women (CSW) PBB pada tahun mendatang sekaligus memulihkan reputasi organisasi di mata mitra global.
Sebelum KLB terlaksana, upaya penyelesaian konflik internal telah dilakukan melalui lima kali mediasi yang difasilitasi oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) bersama organisasi pendiri KOWANI, yakni Perempuan Taman Siswa, Wanita Katolik RI, dan PP Aisyiyah. Namun, tidak tercapainya titik temu dalam proses mediasi membuat KLB menjadi jalur konstitusional yang akhirnya ditempuh.
Dengan kepemimpinan baru yang telah ditetapkan melalui mekanisme organisasi, KOWANI kini berupaya kembali fokus menjalankan perannya sebagai mitra strategis pemerintah dalam advokasi kebijakan publik sekaligus penggerak kemajuan perempuan Indonesia menjelang peringatan satu abad organisasi tersebut.