Yenny Wahid Minta Terduga Pelaku Dugaan Pelecehan Seksual FPTI Bela Diri di Pengadilan
Ketua Umum FPTI, Yenny Wahid, mempersilakan mantan pelatih Hendra Basir membela diri di pengadilan terkait dugaan pelecehan seksual FPTI dan kekerasan fisik, setelah lima atlet melapor ke Mabes Polri.
Ketua Umum Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Yenny Wahid menanggapi serius dugaan kekerasan fisik dan pelecehan seksual yang melibatkan mantan pelatih kepala Hendra Basir. Lima atlet telah melaporkan kasus ini ke Mabes Polri, menandakan keseriusan situasi yang terjadi.
Yenny Wahid menyatakan, tim pencari fakta (TPF) FPTI sedang bekerja untuk mengumpulkan bukti-bukti terkait pelanggaran internal. Namun, ia menegaskan bahwa proses hukum pidana berada di luar ranah organisasi FPTI.
Yenny mempersilakan Hendra Basir untuk menghadapi proses hukum dan membuktikan ketidakbersalahannya di pengadilan jika merasa tidak melakukan tindakan tercela tersebut. Ia menekankan bahwa terduga pelaku harus menghadapi konsekuensi dari apa yang telah dilakukannya.
Sikap Tegas FPTI Terkait Dugaan Pelecehan Seksual FPTI
Ketua Umum PP FPTI Yenny Wahid menegaskan bahwa terduga pelaku harus menghadapi konsekuensi dari dugaan tindakan yang dilakukannya terhadap para atlet. Menurut Yenny, jika Hendra Basir merasa tidak bersalah, ia memiliki kesempatan untuk membuktikannya melalui jalur hukum yang berlaku.
FPTI sendiri tidak memiliki hak untuk melaporkan kasus ini secara hukum karena berkaitan dengan privasi atlet. Namun, FPTI berkomitmen membantu memfasilitasi para korban dengan menyediakan bantuan pengacara dalam proses hukum mereka.
Yenny menambahkan bahwa laporan ke polisi oleh para korban sudah menandakan sesuatu yang sangat serius. Oleh karena itu, proses hukum harus dijalani oleh pihak yang diduga melakukan tindakan tersebut.
Bantahan Hendra Basir atas Tuduhan Dugaan Pelecehan Seksual FPTI
Mantan pelatih kepala tim panjat tebing Indonesia, Hendra Basir, membantah keras tuduhan pelecehan seksual dan kekerasan fisik yang dialamatkan kepadanya. Ia menantang delapan atlet terkait untuk menjelaskan bagian mana dari tindakannya yang dianggap sebagai pelecehan seksual atau kekerasan fisik.
Hendra menjelaskan bahwa pola latihan keras dan disiplin memang telah diterapkan sejak 2012 untuk membentuk mental dan fisik atlet. Ia menegaskan bahwa hal tersebut bukan untuk menyiksa atau menganiaya, melainkan bagian dari proses untuk membentuk atlet berprestasi.
Meskipun mengakui terkenal galak dalam melatih, Hendra menyatakan bahwa hal itu merupakan bagian dari proses untuk membentuk mental dan fisik yang prima. Tujuannya agar atlet mampu bersaing pada level tertinggi.
Penjelasan Hendra Basir tentang Interaksi dengan Atlet Putri
Hendra Basir secara spesifik membantah tuduhan pelecehan seksual, seperti meraba bagian vital atau memaksa hubungan seks. Ia mengaku sama sekali tidak pernah melakukan hal tidak senonoh kepada atlet putri.
Ia mengakui pernah mencium kening atau ubun-ubun serta memeluk atlet putri yang sedang dalam kondisi mental menurun (drop) saat latihan atau pertandingan. Hendra menjelaskan bahwa tindakan tersebut tidak dilakukan secara rutin melainkan pada momen tertentu sebagai bentuk dukungan dan semangat.
Hendra membandingkan tindakan tersebut dengan kebiasaannya terhadap anak sendiri, menegaskan tidak ada konteks pelecehan. Ia menyatakan bahwa jika tindakan tersebut dianggap pelecehan seksual, dirinya menerima hal tersebut, namun publik juga perlu tahu konteksnya.
Sumber: AntaraNews