Waspada! BMKG Peringatkan Pasang Laut Kaltim Berpotensi Rendam Tambak & Picu Banjir Rob
BMKG Stasiun Balikpapan mengeluarkan peringatan dini terkait potensi pasang laut Kaltim setinggi 2,8 meter yang dapat merendam tambak dan memicu banjir rob di pesisir.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Balikpapan mengeluarkan peringatan dini terkait potensi pasang laut tinggi di wilayah pesisir Kalimantan Timur (Kaltim). Fenomena ini diperkirakan mencapai ketinggian 2,6 hingga 2,8 meter pada pertengahan Desember 2025. Peringatan ini ditujukan kepada masyarakat dan pengelola tambak agar meningkatkan kewaspadaan.
Dampak dari pasang laut ekstrem ini berpotensi merendam tambak budidaya. Selain itu, banjir rob juga dapat mengganggu aktivitas bongkar muat di pelabuhan serta kehidupan sosial warga pesisir. BMKG mengimbau agar langkah mitigasi segera dipersiapkan untuk meminimalisir kerugian.
Menurut Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Diyan Novrida, pasang laut ini bisa menyebabkan berbagai masalah. "Pasang laut bisa menyebabkan sejumlah hal, seperti menyebabkan terjadinya banjir rob, tambak terendam, dan sejumlah dampak lainnya," ujarnya di Balikpapan.
Wilayah Pesisir Kaltim dalam Ancaman Pasang Laut Tinggi
Peringatan dini BMKG menyoroti beberapa kawasan pesisir di Kalimantan Timur yang berpotensi terdampak langsung oleh pasang laut Kaltim yang tinggi. Perairan Balikpapan menjadi salah satu fokus utama dengan perkiraan pasang tertinggi mencapai 2,8 meter pada 20 Desember 2025, sekitar pukul 18.00 Wita. Sementara itu, surut terendah diprediksi pada 0,5 meter di hari yang sama.
Setidaknya lima kawasan di sekitar perairan Balikpapan akan terpengaruh signifikan. Wilayah tersebut meliputi Samboja dan Samboja Barat di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kota Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), serta Kabupaten Paser. Di area-area ini, banyak tambak budidaya masih aktif beroperasi.
Dampak utama yang dikhawatirkan adalah terendamnya tambak-tambak tersebut. Budidaya udang, ikan, maupun kepiting milik warga terancam hilang akibat arus laut yang kuat. Kerugian ekonomi bagi para pengelola tambak bisa sangat besar jika tidak ada langkah antisipasi yang memadai.
Potensi Banjir Rob dan Gangguan Aktivitas Masyarakat
Selain ancaman terhadap sektor perikanan, pasang laut tinggi juga membawa potensi banjir rob yang lebih luas. Fenomena ini dapat mengganggu berbagai aktivitas vital di kawasan pesisir. Salah satunya adalah operasional bongkar muat di pelabuhan-pelabuhan penting.
BMKG juga menyoroti potensi pasang laut di muara Sungai Berau dan sekitarnya, dengan ketinggian 2,6 meter pada 20 Desember. Pelabuhan Tanjung Redeb, sebagai pelabuhan sungai besar, akan sangat terpengaruh. Aktivitas ekonomi lainnya di pesisir juga diminta untuk selalu waspada terhadap kondisi ini.
Dampak pasang laut bahkan bisa meluas hingga ke pemukiman warga yang berdekatan dengan pantai. Diyan Novrida menambahkan bahwa air laut dapat masuk ke permukiman, serta membahayakan anak-anak yang bermain di pantai. Oleh karena itu, edukasi dan kesiapsiagaan masyarakat menjadi sangat penting.
Di Muara Sungai Mahakam (Pulau Nubi), Kabupaten Kutai Kartanegara, pasang tertinggi diperkirakan mencapai 2,7 meter pada 20 Desember 2025. Dengan berbagai potensi risiko ini, koordinasi antarpihak dan kesadaran masyarakat sangat dibutuhkan. Tujuannya agar dampak negatif dari pasang laut ekstrem dapat diminimalisir.
Sumber: AntaraNews