Tradisi Bubur Harisah Cirebon: Jejak Solidaritas Lintas Generasi di Kampung Arab Panjunan
Kelezatan Bubur Harisah Cirebon menjadi simbol solidaritas dan warisan budaya yang tak lekang oleh waktu, dibagikan gratis setiap Ramadhan di Kampung Arab Panjunan.
Di tengah hiruk pikuk Kota Cirebon, sebuah rumah tua di Jalan Pekarungan, Kelurahan Panjunan, menyimpan kisah solidaritas yang telah berlangsung lintas generasi. Bangunan berarsitektur indis yang catnya memudar ini menjadi saksi bisu tradisi Ramadhan yang unik dan penuh makna. Setiap kali aroma rempah tajam menyeruak dari jendela, itu adalah pertanda bahwa bulan suci telah tiba dan ratusan porsi kuliner khas Timur Tengah siap dibagikan.
Kuliner istimewa ini adalah bubur harisah, hidangan yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Kampung Arab Panjunan selama bulan Ramadhan. Tradisi pembagian bubur harisah secara cuma-cuma ini bukan hanya sekadar kegiatan berbagi makanan, melainkan juga cerminan kehangatan dan kebersamaan warga. Kegiatan ini menjadi daya tarik tersendiri yang mengundang rasa penasaran banyak pihak, termasuk ANTARA yang sempat menyambangi rumah tersebut pada Sabtu (21/2) lalu.
Fatimah Bayasut (67), bersama kakak laki-lakinya, Abdullah bin Muhammad bin Sahil, merupakan generasi ketiga yang dengan setia menjaga warisan kuliner ini. Mereka memastikan bahwa tradisi yang telah ada sejak nenek moyang mereka ini terus berlanjut, menghidupkan kembali semangat kebersamaan di setiap Ramadhan. Dari rumah inilah, bubur harisah didistribusikan kepada warga sekitar dan musafir, melanjutkan amanah yang telah diwariskan turun-temurun.
Rasa yang Melekat dalam Setiap Suapan
Proses pembuatan bubur harisah adalah sebuah ritual yang membutuhkan ketelatenan dan pengalaman, dimulai sejak pukul 10.00 WIB oleh Fatimah dan keluarganya. Beras dan santan direbus perlahan dengan api stabil hingga menyatu, memastikan tekstur adonan tidak pecah atau lengket. Kunci kelezatan bubur ini terletak pada penambahan daging kambing dan racikan rempah-rempah khas Timur Tengah yang kaya rasa.
Bahan-bahan seperti kayu manis, cengkeh, kapulaga, jintan putih, lada, jahe, dan ketumbar ditumbuk dan dimasukkan satu per satu ke dalam panci. Tidak ada takaran tertulis yang baku, melainkan semua diracik berdasarkan pengalaman yang diwariskan dari generasi sebelumnya, menciptakan cita rasa otentik yang melekat di lidah. Setelah matang sekitar pukul 13.00 WIB, bubur didiamkan terlebih dahulu selama setengah jam agar suhunya turun dan teksturnya semakin mantap sebelum dikemas.
Karakteristik bubur harisah didominasi oleh aroma rempah yang kuat, menawarkan rasa gurih dengan tekstur kental namun lumer saat disentuh lidah. Setiap harinya, keluarga Bayasut memproduksi sekitar 100 porsi bubur harisah, mulai dari awal puasa hingga mendekati akhir Ramadhan. Bubur ini didistribusikan secara gratis, sebagian disalurkan ke Masjid Asy-Syafi’i Bayasut dan sebagian lagi kepada warga Kampung Arab Panjunan menjelang waktu berbuka puasa.
Menariknya, seluruh biaya produksi bubur harisah ini berasal dari dana yayasan keluarga, menunjukkan komitmen kuat untuk menjaga tradisi tanpa mengandalkan sumbangan dari luar. Hal ini memperkuat nilai solidaritas yang telah mengakar dalam keluarga Bayasut dan komunitas Panjunan, menjadikan bubur harisah lebih dari sekadar makanan, melainkan simbol kebersamaan. Tradisi ini juga dikenal sebagai 'bubur Bayasut', merujuk pada keluarga yang setia menjaga resep dan keberlangsungannya.
Solidaritas yang Mengakar Kuat Sejak Seabad Lalu
Tradisi bubur harisah telah berusia lebih dari satu abad, berawal sekitar tahun 1924 oleh Syekh Mohammad Islam Bayasut, seorang saudagar keturunan Yaman yang tinggal di Panjunan, Cirebon. Syekh Mohammad Islam Bayasut dikenal sebagai pedagang besar yang dermawan, dengan rumah luas yang sering menjadi tempat singgah para musafir dari berbagai daerah. Hatinya terpaut pada Masjid Asy-Syafi’i yang ia bangun, dan ia tidak ingin musafir yang beristirahat serta shalat di masjidnya didera lapar saat Ramadhan.
Maka, ia menyuguhkan bubur harisah secara cuma-cuma agar para musafir dapat mengenyangkan perutnya saat berbuka puasa tiba. Dari momen inilah, kelezatan bubur harisah mengakar dan menjadi salah satu tradisi unik yang dapat dijumpai di Kampung Arab Panjunan selama bulan Ramadhan. Istilah 'harisah' sendiri konon memiliki arti diam, merujuk pada kebiasaan warga yang berhenti sejenak dari aktivitas, berkumpul di masjid, dan menyantap bubur sebagai takjil.
Tradisi ini mencerminkan semangat berbagi dan kepedulian sosial yang tinggi, di mana makanan menjadi jembatan untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga. Keberlanjutan tradisi bubur harisah oleh keluarga Bayasut adalah bukti nyata bagaimana nilai-nilai luhur dapat dipertahankan dan diwariskan dari generasi ke generasi. Ini bukan hanya tentang makanan, melainkan tentang menjaga warisan budaya dan semangat solidaritas yang telah lama mengakar di Cirebon.
Peninggalan Budaya dan Sejarah Kampung Arab Panjunan
Kampung Arab Panjunan adalah mozaik budaya yang unik di Kota Cirebon, dengan sejarah panjang sebagai titik temu pedagang Arab, khususnya dari Yaman, dengan masyarakat pesisir sejak abad ke-15. Posisi strategis Cirebon sebagai pelabuhan penting di pantai utara Jawa memfasilitasi interaksi sosial dan keagamaan yang pesat. Pengaruh Sunan Gunung Jati dan Kesultanan Cirebon turut membentuk jaringan keilmuan dan kekerabatan yang kokoh dengan para pedagang tersebut.
Di kawasan ini, silsilah marga seperti Alaydrus hingga Alatas masih dijaga, dan aktivitas ekonomi berjalan beriringan dengan kegiatan sosial serta keagamaan. Kehadiran bubur harisah menjadi simbol harmonisasi pengaruh Timur Tengah dengan lidah lokal, menunjukkan bagaimana budaya dapat berpadu indah. Rumah-rumah besar dengan arsitektur campuran, langit-langit tinggi, dan ventilasi lebar menjadi ciri khas Kampung Arab Panjunan, mencerminkan perkembangan komunitas yang mandiri.
Rutinitas pembacaan sholawat, pengajian rutin, hingga kebiasaan berbagi makanan saat Ramadhan menjadi bagian integral dari identitas kawasan ini. Salah satu penanda sejarah penting adalah Masjid Merah Panjunan, berdiri sejak abad ke-15, dengan dinding bata merah dan ornamen keramik Tiongkok. Bangunan ini menjadi simbol akulturasi, memadukan pengaruh Arab dalam dakwah, Jawa pada tata ruang, dan Tiongkok dari sisi estetika.
Daya Tarik Wisata dan Identitas Cirebon
Pemerintah Kota Cirebon melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Cirebon, kini tengah memetakan ulang kekuatan wisatanya dengan menoleh pada akar sejarah dan kebudayaan yang telah lama berkembang. Disbudpar telah merancang lima destinasi wisata berbasis potensi budaya dan jejak historis kota pesisir, termasuk dua kampung wisata yang dirancang sejak 2023. Konsepnya mengangkat kearifan lokal sebagai daya tarik utama, menawarkan pengalaman berbeda bagi pengunjung.
Dua kampung wisata yang dimaksud adalah Kampung Wisata Kacirebonan dan Kampung Arab Panjunan. Di Kampung Arab Panjunan, wisatawan diajak mengenali potret akulturasi budaya Arab, Jawa, dan Tionghoa yang telah berabad-abad membentuk wajah kawasan tersebut. Kampung ini dikenal dengan rumah-rumah tua berarsitektur campuran, tradisi keagamaan yang masih hidup, serta kedekatannya dengan situs-situs bersejarah seperti Masjid Merah Panjunan.
Di lorong-lorong sempitnya, wisatawan dapat merasakan atmosfer kampung yang religius dan komunal, menikmati pengalaman berjalan kaki, berbincang dengan warga, hingga mencicipi kuliner khas seperti bubur harisah. Meskipun sudah dapat dikunjungi, Kepala Disbudpar Kota Cirebon, Agus Sukmanjaya, memastikan bahwa penataan lanjutan masih terus dilakukan untuk akses, papan informasi, dan pengemasan atraksi budaya agar pengalaman wisatawan semakin maksimal. Keberadaan Kampung Arab Panjunan, termasuk tradisi pembuatan Bubur Harisah Cirebon saat Ramadhan, kini telah menjadi identitas budaya yang memperkaya spektrum wisata heritage di Kota Cirebon.
Sumber: AntaraNews