Tim SAR Intensifkan Pencarian ABK Hilang Tanggamus Usai Kapal Terbakar
Tim SAR gabungan terus mengintensifkan Pencarian ABK Hilang Tanggamus, delapan anak buah kapal KM Maulana 30 yang belum ditemukan setelah insiden kebakaran di perairan selatan Belimbing.
Tim Search And Rescue (SAR) gabungan memfokuskan upaya pencarian terhadap delapan anak buah kapal (ABK) KM Maulana 30. Para ABK ini dinyatakan hilang setelah kapal mereka terbakar hebat di perairan selatan Belimbing, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung pada Sabtu (20/12). Insiden tragis ini memicu operasi SAR besar-besaran yang melibatkan berbagai unsur untuk menemukan korban.
Kepala Kantor SAR Lampung, Deden Ridwansah, menyampaikan bahwa proses pencarian pada hari kedua, Minggu (21/12), belum membuahkan hasil signifikan. Meski demikian, tim SAR terus bekerja tanpa henti dengan harapan dapat segera menemukan seluruh ABK yang hilang. Masyarakat diminta untuk memberikan doa restu demi kelancaran operasi penyelamatan ini.
Operasi pencarian ini melibatkan personel dari Basarnas, Polairud Mabes Polri, Polairud Polda Lampung, TNI AL, serta unsur masyarakat dan relawan setempat. Mereka berupaya menyisir area yang luas berdasarkan prediksi pergerakan korban sesuai arus laut. Koordinasi intensif dilakukan untuk memastikan setiap sudut area pencarian dapat terjangkau secara optimal.
Fokus Operasi dan Area Pencarian Tim SAR
Pencarian ABK hilang Tanggamus ini dilakukan dengan mengacu pada peta dari Basarnas Command Center yang memprediksi arah pergerakan korban sesuai arus laut. Pada hari kedua, area pencarian telah mencapai radius 26,26 Nautical Mile (Nm) atau sekitar 42,2 kilometer. Luasnya area ini menunjukkan kompleksitas dan tantangan yang dihadapi tim SAR di lapangan.
Untuk mengoptimalkan upaya Pencarian ABK Hilang Tanggamus, area tersebut dibagi menjadi dua sektor utama. Sektor pertama (SRU 1) menggunakan KN SAR 224 Basudewa, sementara sektor kedua (SRU 2) menggunakan KM Maulana VII. Kedua kapal ini menerapkan pola pencarian laut terstruktur, memastikan setiap bagian area dapat disisir secara sistematis.
Selain penyisiran di laut lepas, unsur SAR gabungan juga memperluas area Pencarian ABK Hilang Tanggamus ke wilayah pesisir. Penyisiran dilakukan sepanjang pesisir Tambling dan perairan sekitar lokasi kejadian. Dalam operasi ini, tim menggunakan kapal hiu fiber milik Tambling Wildlife Nature Conservation untuk menjangkau area yang lebih sulit.
Kronologi Insiden Terbakarnya KM Maulana 30
Insiden yang memicu Pencarian ABK Hilang Tanggamus ini bermula ketika KM Maulana 30 berlayar dari Jakarta pada Selasa (16/12). Kapal tersebut mengangkut sebanyak 33 ABK dengan tujuan mencari ikan di sekitar perairan Samudra Hindia. Perjalanan ini merupakan bagian dari aktivitas penangkapan ikan rutin yang dilakukan oleh kapal tersebut.
Setibanya di lokasi tujuan, kapal nahas tersebut mengalami kebakaran hebat. Kondisi darurat ini mengharuskan seluruh penumpang, termasuk para ABK, untuk segera terjun ke laut. Peristiwa ini terjadi di perairan Samudra Hindia, dekat wilayah Tanggamus, menciptakan situasi yang sangat membahayakan bagi seluruh kru kapal.
Setelah mendapatkan informasi mengenai insiden tersebut, tim SAR gabungan segera bergerak menuju lokasi untuk melakukan evakuasi. Dalam proses penyelamatan awal, sebanyak 25 ABK berhasil diselamatkan dari lautan. Namun, delapan ABK lainnya masih dinyatakan hilang dan menjadi fokus utama operasi Pencarian ABK Hilang Tanggamus hingga saat ini.
Kantor SAR Lampung berkomitmen untuk terus menyampaikan informasi perkembangan operasi SAR kepada publik secara berkala. Hal ini dilakukan untuk memastikan transparansi dan memberikan informasi terbaru kepada keluarga korban serta masyarakat luas. Upaya pencarian akan terus dilanjutkan hingga seluruh ABK yang hilang dapat ditemukan.
Sumber: AntaraNews