Terperangkap di Kamboja, 14 Warga Palembang Kembali ke Kampung Halaman
Proses penjemputan diawali dengan keberangkatan tim gabungan ke Jakarta guna mempersiapkan kedatangan para korban.
Sebanyak 14 warga Palembang akhirnya kembali ke kampung halaman setelah terjebak di Kamboja dalam waktu yang cukup lama. Mereka menjadi korban penipuan berkedok tawaran pekerjaan di restoran di Vietnam, yang menjanjikan penghasilan, namun justru membuat mereka terperangkap jauh dari keluarga.
Proses penjemputan diawali dengan keberangkatan tim gabungan ke Jakarta guna mempersiapkan kedatangan para korban. Pada Minggu malam, 29 Maret 2026, mereka tiba di Bandara Soekarno-Hatta dan langsung menjalani asesmen awal oleh tim gabungan yang terdiri dari unsur kepolisian, Kementerian Luar Negeri, dan instansi lainnya.
Rombongan tiba di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Senin (30/3). Selanjutnya mereka menjalani proses asesmen lanjutan dan serahterima ke keluarga di Kantor Gubernur Sumsel.
Terjebak di Kamboja
Total ada 15 warga Sumsel yang terjebak di Kamboja. Satu orang di antaranya lebih dulu pulang secara mandiri atas bantuan warga asalnya.
Kepulangan 14 warga tersebut diiringi isak tangis saat bertemu keluarga. Mereka tak menyangka kembali ke kampung halaman setelah mengalami nasib buruk di negeri orang.
Ryansyah, salah seorang korban mengaku kedatangannya di Palembang seakan terlahir kembali. Dia sempat berpikir hidupnya tak akan lama karena penyiksaan yang dialaminya selama di Kamboja.
"Alhamdulillah syukur bisa pulang, saya sudah putus asa dengan nasib saya," ungkap Ryansyah, Selasa (31/3).
Ryansyah bercerita, awalnya ia ditawari seseorang bekerja restoran di Vietnam dengan iming-iming gaji jauh lebih besar dibanding kerja di Palembang. Dia pun terpikat dengan harapan merubah nasib.
Begitu berangkat, Ryansyah malah dibawa ke Kamboja, bukan Vietnam seperti yang dijanjikan. Di negara itu, dia dipekerjakan sebagau admin aplikasi media sosial dengan tujuan penipuan.
Menjalani Pekerjaan
Ryansyah mau tak mau harus menjalani pekerjaan itu. Dia bingung mau kerja apalagi terlebih statusnya sebagai pekerja migram nonprosedural.
"Saya bingung campur takut karena pekerjaan saya tak sesuai dengan yang dijanjikan," kata Ryansyah.
Sebagai admin, Ryansyah harus mencapai target yang ditentukan. Jika tidak, dia mendapat perlakuan kasar dari atasannya, mulai dari dicambuk hingga disetrum seluruh badan.
"Hampir tiap hari saya dicambuk dan disetrum, saya tak bisa melawan, cuma bisa pasrah," kata Ryansyah.
Pola kerja penipuan itu adalah mengirimkan pesan melalui aplikasi chatting love ke pengguna media sosial. Jika ada yang terpikat dan tertipu, tim lain bertugas menghasilkan uang.
"Tugas saya kirim chatting love, ada bagian-bagian lain, saya kurang begitu paham," kata Ryansyah.
Ryansyah melakoni pekerjaan itu selama tujuh bulan. Selama itu, dia hanya diberi gaji untuk dua bulan saya sebanyak Rp6 juta yang kemudian dia transfer ke keluarganya di Palembang.
"Gaji lima bulan tidak saya terima, tapi yang penting saya selamat," kata Ryansyah.
Korban lain, Varil mengaku nekat kabur ke tempat penampungan. Tak lama kemudian menyusul teman-temannya yang lain hingga membuat video permintaan dijemput.
"Saya kabur bareng teman asal Batam dini hari. Alhamdulillah bisa ketemu teman-teman dari Palembang," kata Varel.
Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol Nandang Mu’min Wijaya menegaskan pihaknya berkomitmen penuh dalam menangani kasus ini secara profesional. Sebab, ada dugaan terjadi tindak pidana perdagangan orang (TPPO).
"Kami pastikan proses penegakan hukum berjalan transparan dan menyeluruh. Fokus utama kami adalah memberikan perlindungan kepada korban dan mengungkap jaringan yang bertanggung jawab atas dugaan eksploitasi ini," kata Nandang.
Diberitakan sebelumnya, warganet dihebohkan dengan permintaan sejumlah pemuda untuk dipulangkan dari Kamboja. Mereka menyebut menjadi korban perdagangan orang.
Terjebak
Permintaan itu disampaikan melalui video yang diunggah akun Instagram @calvinblue_ dengan sasaran Pemprov Sumsel dan Pemkot Palembang. Mereka mengaku terjebak saat ditawari bekerja ke luar negeri dengan janji gaji besar.
"Assalamualaikum. Untuk Bapak Herman Deru dan Bapak Ratu Dewa, kami warga Palembang meminta pertolongan untuk membantu kami pulang ke Palembang," ungkap pria dalam video yang dilihat, Rabu (18/2).
Para pemuda itu mengaku setelah datang ke Kamboja tak kunjung mendapat pekerjaan yang dijanjikan. Mereka mengaku dijual untuk bekerja, sebagian lagi belum sempat bekerja hingga terlantar di luar negeri.
Sambil menengadahkan dengan gestur memohon mereka berharap ada kepedulian pemerintah. Mereka mengakui ingin segera pulang ke Palembang.
"Itu pun penuh tekanan dan siksaan pak. Tolong bantu kami," kata dia.