KTT ASEAN Bawa Angin Damai bagi Hubungan Thailand dan Kamboja
Pada 2025, terjadi peningkatan sengketa wilayah antara Thailand dan Kamboja, yang menyebabkan dua insiden bentrokan bersenjata di perbatasan dalam satu tahun.
Perdana Menteri Thailand dan Kamboja telah sepakat untuk memulihkan hubungan bilateral secara bertahap. Kesepakatan ini dicapai dalam pertemuan trilateral yang diadakan bersama Presiden Filipina di sela-sela KTT ASEAN di Cebu.
"Perdana Menteri Thailand dan Kamboja sepakat untuk menugaskan Menteri Luar Negeri mereka bekerja sama menyusun langkah-langkah untuk membangun kepercayaan dan keyakinan serta secara bertahap memulihkan hubungan bilateral," ungkap pernyataan dari kementerian luar negeri Thailand pada hari Kamis.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul, Presiden Filipina Ferdinand Romualdez Marcos Jr., dan Perdana Menteri Kamboja Hun Manet, seperti yang dilaporkan oleh Antara News pada Jumat (8/5/2026). Dalam kesempatan itu, Thailand juga mengungkapkan apresiasi kepada Filipina selaku ketua ASEAN 2026 atas inisiatif untuk menyelenggarakan pertemuan ini serta dukungannya terhadap dialog yang berlangsung antara Thailand dan Kamboja.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa semua pihak menyambut baik komitmen bersama Thailand dan Kamboja untuk memperkuat gencatan senjata. Mereka juga mendorong dialog konstruktif serta penyelesaian damai berdasarkan hubungan bertetangga yang baik. Pada tahun 2025, ketegangan wilayah antara Thailand dan Kamboja meningkat, yang menyebabkan dua bentrokan bersenjata di perbatasan dalam satu tahun. Bentrokan tersebut melibatkan penggunaan senjata berat, artileri, roket, dan pesawat militer, sebelum akhirnya kedua negara menandatangani perjanjian gencatan senjata pada 27 Desember 2025.